Selasa, 03 Januari 2012

Pendekatan Filosofis Terhadap Hakekat Tujuan Pendidikan

BAB I


PENDAHULUAN




  1. A.      LATAR BELAKANG


Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kegiatan masyarakat. Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat menyebabkan adanya perbedaan penyelenggaraan termasuk perbedaan sistem pendidikan tersebut. Penyelenggaraan pendidikan tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang hendak dicapainya, rumusan tujuan pendidikan selalu mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan kehidupan masyarakat dan negara Indonesia. Tujuan pendidikan adalah kualifikasi yang diharapkan dimiliki murid setelah dia menerima atau menyelesaikan program pendidikan pada lembaga pendidikan tertentu.

Pendekatan filosofis terhadap hakekat tujuan pendidikan sangat penting karena bertujuan untuk menjelaskan inti, dan hakikat mengenai tujuan pendidikan.

 

  1. B.       RUMUSAN MASALAH

    1. Apakah pengertian dari pendekatan filosofis?

    2. Apakah tujuan pendidikan?

    3. Bagaimana tujuan pendidikan menurut para filusuf?

    4. Bagaimana pendekatan filosofis terhadap hakekat tujuan pendidikan?




 

  1. C.      TUJUAN

    1. Mengetahui pengertian dari pendekatan filosofis.

    2. Mengetahui tujuan pendidikan

    3. Mengetahui tujuan pendidikan menurut para filusuf..

    4. Mengetahui pendekatan filosofis terhadap hakekat tujuan pendidikan.




 

 

BAB II


PEMBAHASAN




  1. A.           PENGERTIAN PENDEKATAN FILOSOFIS


Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak.

Pendekatan filosofis untuk menjelaskan suatu masalah dapat diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk dalarn pendidikan. Filsafat tidak hanya melahirkan pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. John Dewey (1964) berpendapat bahwa filsafat merupakan teori umum tentang pendidikan. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula.

  1. B.            TUJUAN PENDIDIKAN


Secara bahasa tujuan adalah arah, haluan, jurusan, maksud . Dalam skala yang lebih besar pendidikan diatur oleh Pemerintah baik sistem maupun managemennya. Di Indonesia berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk brkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.                   .
Paulo Freire, tokoh pendidikan Amerika Latin mengatakan bahwa tujuan akhir dari preses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi). Tidak jauh berbeda dengan pandangan di atas M.Arifin berpendapat bahwa proses pendidikan pada akhirnya berlangsung pada titik kemampuan berkembangnya tiga hal, yaitu mencerdaskan otak yang ada dalam kepala (head), kedua, mendidik akhlak atau moralitas yang berkembang dalam hati (heart) dan ketiga, adalah mendidik kecakapan/ketrampilan yang pada prinsipnya terletak pada kemampuan tangan (hand). Berangkat dari arti pentingnya pendidikan ini, Karnadi Hasan memandang bahwa pendidikan bagi masyarakat dipandang sebagai “human investment” yang berarti secara historis dan filosofis, pendidikan telah ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam proses humanisasi dan pemberdayaan jati diri bangsa.

 

Pendidikan dimanapun dan kapanpun pada esensinya adalah sama. Hal ini di ungkapakan oleh Robert Maynard Hutchins yaitu bahwa :
Satu tujuan pendidikan adalah mengeluarkan unsur-unsur kemanusiaan yang sama dalam diri kita. Unsur unsur itu pada dasarnya tidak berbeda meski tempat dan waktunya berlainan. Jadi, anggapan bahwa manusia harus dididik untuk hidup di tempat atau di zaman tertentu, menyesuaikan manusia dengan lingkungan tertentu, adalah gagasan asing dan tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan sejati.

Pendidikan mengisyaratkan pengajaran. Pengajaran mengisyaratkan pengetahuan. Pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran, dimanapun, kapanpun, sama saja .

Pendidikan dapat dikatakan berhasil jika sudah mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan ditempuh dengan tindakan-tindakan yang jelas pula..
Bila kita kembali kepada hakekat pendidikan maka pendidikan pada esensinya juga bertujuan untuk membantu manusia menemukan hakekat kemanusiaannya. Proses humanisasi ini adalah –meminjam istilah Freire- pembebasan. Pembebasan manusia dari belenggu struktur sosial, cara pikir yang salah, doktrin tertentu dan sebagainya

 

  1. C.           TUJUAN PENDIDIKAN MENURUT PARA FILUSUF


Para filusuf mengemukakan pandangan berbeda mengenai tujuan pendidikan, antara lain:

  1. Plato (427-347 SM)


Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan.

  1. Aristoteles (384-322 SM)


Aristoteles menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat dan total, meliputi aspek jasmaniyah, emosi, dan intelek. Ia juga mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi adalah “kehidupan berpikir”.

  1. Thomas Aquinas


Thomas berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun kemampuan – kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap –tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak didik agar menjadi aktif dan nyata.

  1. John Dewey


Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal.

 

  1. D.           PENDEKATAN  FILOSOFIS TERHADAP HAKEKAT TUJUAN PENDIDIKAN


Pendekatan filosofis yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.

Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model:

  1. Model filsafat spekulatif


Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman

  1. Model filsafat preskriptif


Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan buruk, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat.

  1. Model filsafat analitik


Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994).

Pendekatan filosofis pada dasarnya bertujuan untuk menjelaskan inti,dan  hakikat, mengenai sesuatu yang berada di balik suatu objek tertentu.

  1. Inti Tujuan Pendidikan


Inti dari Tujuan pendidikan adalah Keimanan kepada Tuhan YME.

Ibarat pohon besar ranting-ranting adalah semua cabang ilmu pengetahuan, dan badan pohon di ibaratkan sebagai filsafat merupakan induk dari cabang ilmu pengetahuan. Serta akar sebagai inti/dasar induk cabang ilmu pengetahuan yaitu iman. Jadi kesimpulannya bahwa apapun ilmu yang kita peroleh dasarnya adalah iman (tauhid). Dasar pancasila kita saja dalam sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” merujuk pada keimanan, merupakan pembungkus dari empat sila yang lain.

  1. Hakekat Tujuan Pendidikan


Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture and transfer of religius yang diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku individu  atau  kelompok  agar  memiliki  nilai-nilai  yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. 

Menurut Freire hakekat tujuan pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan teknik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana tekhnologi lainnya yang ditawarkan sesuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai sebuah praksis sosial, pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka . Hal senada juga di ungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan seharusnya memerdekakan,.

YB. Mangunwijaya beranggapan bahwa pendidikan haruslah berbasis realitas sosial.

Kata Latin untuk mendidik adalah educare yang berarti menarik keluar dari, dan ini boleh diartikan usaha pemuliaan. Kata educare memberi arah kepada pemuliaan manusia, atau pembentukan manusia. Dalam pengertian sederhana secara leksikal education (pendidikan) adalah suatu proses pembebasan untuk membuat manusia lebih manusiawi. Manusiawi berarti manusia yang lebih mulia, yang keluar dari ketertindasan dan kebodohan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III


PENUTUP




  1. A.      KESIMPULAN


Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya

Inti dari Tujuan pendidikan adalah Keimanan kepada Tuhan YME.

Hakekat tujuan pendidikan adalah membebaskan. Pembebasan untuk membuat manusia lebih manusiawi. Manusiawi berarti manusia yang lebih mulia, yang keluar dari ketertindasan dan kebodohan.

  1. B.       SARAN


Di dalam menghadapi masalah-masalah di bidang pendidikan sebaiknya menggunakan pendekatan filosofis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA


Arifin, HM, Prof.2000.Filsafat Pendidikan Islam, Cet. VI.Jakarta: PT. Bumi Aksara

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1988.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Karnadi, Hasan.2000.Jurnal Dinamika Islam dan Budaya Jawa.IAIN Wali Songo: Pusat Pengkajian Islam Strategis.

Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek

www.adzraiq.blogspot.com

www.erlanmuliadi.blogspot.com

www.hasyimtriyono.blogdetik.com

 

 

Metode Pembelajaran Pendidikan Islam

Sementara itu Ar-Ma’i Arif menjelaskan tentang metode-metodeyang dapat dipakai dalam pembelajaran pendidik an Islam adalah sebagaiberikut:1) Metode ceramahYang di maksud ceramah adalah penerangan dan penuturansecara lisan oleh guru kepada kelas. metode ini merupakan metodeyang sering di pakai oleh seorang guru dalam menyampaikan suatumateri pelajaran. Walaupun demikian, seringkali metode ceramah itumendapat kritik dengan alasan sebagai berikut : Metode ini hanyamelibatkan para pesertanya secara minimal sekali. Metode inimembosankan para peserta. Penyajian informasi tidak memilikicatatan yang dapat di pakai seandainya mengulangnya kembali.Metode ini sudah dipakai sejak zaman para nabi dan jugaRasulullah SAW. Dan metode ini merupakan cara yang paling awalyang dilakukan. Dan karakteristik yang menonjol dari metode ini adalah peranan guru tampak lebih dominan. Sementara siswa lebihbanyak pasif dan menerima apa yang disampaikan oleh guru. 55Prosedur pelaksanaan teknik ceramah dapat di mulai daripersiapan dengan menyediakan bahan, menjelaskan tujuan denganpeserta didik serta membangkitkan persepsi pada siswa untukmemahami dan mengkonsentrasikan pada pelajaran dan penyajianbahan yang berkenaan dengan pokok masalah. Perbandingan abstraksi,generalisasi (dengan menampilkan kesimpulan) dan aplikasipenggunaannya. Untuk kelancaran metode ceramah kita perluberdo’a, sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat Thaha ayat 25-28 yang berbunyi:
Artinya: "Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukkudadaku, Dan mudahkanlah untukku urusanku, Danlepaskanlah kekakuan dari lidahku, Supaya mereka mengertiperkataanku." (QS. Ath-Thaha: 25-28).Metode ceramah dapat digunakan apabila: Guru akanmenyampaikan fakta atau pendapat dimana tidak terdapat bahanbacaan yang menerangkan fakta atau pendapat yang di maksud. Apabila guru harus menyampaikan fakta pada siswa yang besarjumlahnya, dan karena besarnya kelompok maka metode-metode yanglain tidak mungkin di pergunakan. Apabila guru adalah pembicarayang bersemangat dan akan merangsang siswa untuk melaksanakansuatu pekerjaan.Apabila guru akan menyampaikan pokok yang pentingyang telah dipelajari oleh siswa untuk memungkinkan siswa-siswamelihat lebih jelas perhubungan pokok yang satu dengan yang lain.Apabila guru akan memperkenalkan pokok baru dalam rangkapelajaran yang lalu.58Keuntungan dari metode ceramah adalah guru dapat menguasaiseluruh arah dan organisasi kelas adalah sederhana. Sedangkankelemahan dari metode ceramah adalah guru tidak dapat mengetahuisampai dimana siswa telah mengerti (memahami) yang telahdibicarakan, pada siswa dapat terbentuk konsep yang lain dari padakata-kata yang dimaksudkan oleh guru tersebut. 2) Metode tanya jawabMetode tanya jawab adalah penyampaian pelajaran denganpara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawabnya. Dalamsejarah perkembangan Islampun dikenal metode ini, karena seringdipakai oleh para Nabi Saw. Dan Rasul Allah dalam mengajarkanajaran yang dibawanya kepada umatnya. Metode tanya jawab sangat efektif untuk dipakai karena metode ini dapat memudahkan kita dalammendapatkan pengertian dan pemahaman yang lebih mantap, sehinggasegala bentuk kesalahpahaman dan kelemahan daya tangkap terhadappelajaran dapat dihindarkan semaksimal mungkin. 59Dalam metode tanya jawab guru pada umumnya berusahamenanyakan apakah siswa telah mengetahui fakta tertentu yang sudahdiajarkan atau apakah proses pemikiran yang dipakai oleh siswa dalammetode diskusi, pertanyaan guru lebih diarahkan untuk merangsangsiswa mempergunakan fakta yang lebih kompleks. Pertanyaan tidakbersifat faktual sebab itu juga maka jawabnya tidaklah bersifat tunggalatau mutlak.Metode tanya jawab di gunakan sebagai upaya untukmeninjaupelajaran yang lalu, agar siswa memusatkan lagi perhatian tentangjumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat melanjutkanpelajaran berikutnya.Mengulangi pembicaraan untuk mendapatkan kerja sama siswaatau mengikut sertakan semua siswa.Menangkap perhatiansiswa.Memimpin pengamatan dan pemikiran siswaKebaikan penggunaan metode tanya jawab adalah sebagaiberikut; Sambutan kelas, tanya jawab dapat memperoleh sambutanyang lebih aktif bila dibandingkan dengan hasil dari metode ceramah.

memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan halhalyang belum jelas atau belum dimengerti sehingga guru dapatmenjelaskan kembali. mengetahui perbedaan pendapat antara siswadan guru, dan akan membawa ke arah suatu diskusi.Sedangkan kebur uhan dari metode tanya jawab adalah bisamenimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan. Lebih- lebih jikasiswa memberi jawaban atau memajukan pertanyaan yang dapatmenimbulkan beberapa masalah baru dan kemudian menyimpang daripokok persoalan atau menimbulkan pokok pembicaraan baru danbanyak membutuhkan waktu.Langkah-langkah yang harus dipersiapkan dalam penggunaanmetode tanya jawab agar berhasil adalah sebagai berikut; Merumuskantujuan sejelasnya dalam bentuk khusus dan berpusat pada tingkah lakumurid. Mencari alasan mengapa mempergunakan metode-metodetanya jawab. Menetapkan kemungkinan jawaban pertanyaan ituapakah mengandung banyak masalah ataukah hanya terbatas padajawaban ”ya” atau ”tidak”. Menetapkan kemungkinan jawaban untukmenjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.Langkah-langkah yang ditempuh dosen bila ia melaksanakanmetode tanya jawab adalah sebagai berikut : dosen mula-mula menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan materi yang dibahas.Mahasiswa yang ditunjuk menjawab pertanyaan itu. Bila jawabanmahasiswa kurang tepat, maka pertanyaan itu dilemparkan padamahasiswa yang lain. Bila mahasiswa itu masih sukar menjawab makadosen membantu menjawab dengan cara menunjukkan alat peragayang relevan. Bantuan kepada proses berpikir mahasiswa dapat pulaberupa contoh-contoh kongkret yang terdapat di masyarakat ataulingkunganBila dengan bantuan alat mahasiswa belum bisa menjawabdengan tepat maka dosen memberi kesempatan kepada paramahasiswa untuk bertanya jawab antar mereka. Tanya jawab di atassering dilanjutkan dengan tanya jawab segi tiga yaitu antara dosendengan mahasiswa dan antara mahasiswa dengan mahasiswa. Bilasegala model tanya jawab menemui jalan buntu dalam artianmahasiswa tidak ada yang menjawab tepat, maka dosenlah yangmenjelaskan maksud dari jawaban soal tersebut secara mendalam, agarpara mahasiswa benar-benar memahaminya.3) Metode DiskusiSedangkan metode diskusi dalam proses belajar mengajaradalah sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari bahan ataumenyampaikan materi dengan jalan mendiskusikannya dengan tujuandapat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku padasiswa Al-Qur’an menganjurkan waktu melakukan diskusi atau musyawarah dalam rangka menari solusi, sebagaimana firman AllahSwt dalam surat Ali Imran ayat 159 yang berbunyi; Artinya: "…dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Makabertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukaiorang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali-Imran: 159).Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian pelajarandimana guru bersama-sama siswa mencari jalan pemecahan ataspersoalan yang dihadapi. Jadi, diskusi pada dasarnya adalah tukarmenukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secarateratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yanglebih jela s dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkandan merampungkan keputusan bersama.


Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2192350-metode-metode-pembelajaran-pendidikan-islam/

Minggu, 01 Januari 2012

Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia

Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia antara lain:

A. Pondok Pesantren.

Istilah pondok pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan kepada satu pengertian. Suku Jawa biasanya menggunakan sebutan pondok atau pesantren, dan sering pula menyebutnya pondok pesantren. Di Madura digunakan istilah penyantren, di Pasundan digunakan istilah pondok, di Aceh digunakan istilah dayah atau rangkang, dan di Minangkabau digunakan istilah surau.

Pengertian dasar pesantren, adalah tempat belajar para santri. Sedangkan Pondok, berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bamboo. Disamping itu juga kata pondok mungkin juga berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berari hotel atau asrama.

Pada Umumnya berdirinya suatu pesantren berawal dari pengakuan masyarakat akan keunggulan dan ketinggian ilmu seoranag guru (Kiyai). Karena keinginan menuntut ilmu dan memperoleh ilmu dari guru tersebut, maka masyarakat sekitar bahkan dari luar daerah dating kepadanay untuk belajar. Mereka lalu membangun tempat tinggal yang sederhana di sekutar tempat tinggal guru tersebut. Kelangsungan hidup suatu pesantren tergantung kepada dahsyatya tokoh sentral (kiyai atau Guru) yang memimpin, meneruskan atau mewarisisinay. Jika pewarisnya mengetahui sepenuhnya pengetahuan keagamaan, wibawa (mungkin juga kekeramatan), dan keterampilan mengajar, serta kekayaan yang lainnya yang diperlukan maka umur pesantren akan lanjut. Sebaliknya, pesantren akan menjadi mundur dan mungkin hilang jika pewarisnya atau keturunan kiyai yang mewarisinya tidak memenuhi persyaratan.

Dalam kalangan Pondok Pesantren yang pada saat itu mempunyai santri mencapai ribuan murid, maka sistem pengajarannya dilakukan secara mentor sebagai berikut :

a)      Kiyai besar mengajarkan ilmunya kepada para kiyai muda.

b)      Kiyai muda mengajarkan santri-santri tingkat dewasa.

c)       Santri dewasa mengajar anak-anak atau santri remaja.

d)      Santri  remaja ini membantu santri dewasa dalam mengajar anak-anak yang baru masuk.

         Santri yang telah tamat biasanya diberi izin oleh kiyai untuk membuka dan mendirikan pesantren baru di daerahnya asalnya. Dengan begitu pesantren-pesantren  berkembang di berbagai daerah, dan pesantren asal dianggap sebagai pesantren induknya.

         B. Madrasah.

         Madrasah (bahasa Arab) yang berarti tempat duduk untuk belajar. Padanan madrasah dalam bahasa Indonesia adalah sekolah, dengan konotasi yang khusus yaitu sekolah-sekolah agama Islam, sebagai tempat mengajarkan dan mmepelajari ajaran0ajaran agama Islam, ilmu pengetahuan, dan keahlian lainnya yang berkembang pada zamannya.

         Madrasah mulai didirikan dan berkembang di dunia Islam sekitar abad ke 5 Hijriyah atau abad ke 10 atau 11. Madrasah yang pertama  di dunia Islam, adalah Madrasah Nizhamiyah yang didiriakn oleh Misham al Mulk seorang penguasa dari Bani Saljuk. Madrasah ini mula-mula didirikan di Baghdad, kemudian berkembang dengan pesatnya, dan hampir di semua kota dalam wilayah kekuasaan Islam pada masa itu. Disamping itu berdiri pula madrasah-madrasah lainnya, seperti Madrasah Al Nuriyah yang didirikan oleh Nurudduin Zanki, Madrasah al Tajiyah yang didirikan oleh Taj al Mulk, madrasah Al Mustansyiriyah yang didirikan oleh khalifah Al Mustansyir, dan sebagainya.

         Madrasah yang pertamakali didirikan di Indonesia, adalam Madrash Adabiyah di Padang Sumatera Barat, Madrasah ini didirikan oleh Syeikh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Nama resminya pada masa itu adalah Adabiyah School, yang merupakan sekolah pertama yang memasukkan pelajaran agama ke dalamnya. Kemudian pada tahun 1910 didirikan Madrasah School yang dalam perkembangannya berubah menjadi Diniyah School (Madrasah Diniyah).

                Madrasah Diniyah kemudian berkembang hampir di seluruh Indonesia, baik bagian dari pesantren, maupun berdiri diluarnya. Pada tahun 1918 di Yogyakarta berdiri Madrasah Muhammadiyah, ayng kemudian dirubah namanya menjadi Kweekschool Muhammadiyah, dan akhirnya menjadi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Sementara itu pada tahun 1916 di lingkungan pesantren Tebuoreng Jombang Jawa Timur, telah didirikan Madrasah salafiyah oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai persiapan untuk melanjutkan pelajaran ke pesantren. 

Diposkan oleh Dede Syukrillah Rifai di 22:27

Sumber: http://dede-syukrillah.blogspot.com/2011/12/sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia.html

Pengertian Pendidikan Islam

 

Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yg memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dgn nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yg bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yg bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adl mewujudkan tujuan ajaran Allah (Djamaluddin 1999: 9).

Menurut Hasan Langgulung yg dikutip oleh Djamaluddin (1999) Pendidikan Islam ialah pendidikan yg memiliki empat macam fungsi yaitu :

  • Menyiapkan generasi muda utk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yg akan datang. Peranan ini berkaitan erat dgn kelanjutan hidup masyarakat sendiri.

  • Memindahkan ilmu pengetahuan yg bersangkutan dgn peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.

  • Memindahkan nilai-nilai yg bertujuan utk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yg menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban.

  • Mendidik anak agar beramal di dunia ini utk memetik hasil di akhirat.


An-Naquib Al-Atas yg dikutip oleh Ali mengatakan pendidikan Islam ialah usaha yg dialakukan pendidik terhadap anak didik utk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yg benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yg tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan (1999: 10 ).
Adapun Mukhtar Bukhari yg dikutip oleh Halim Soebahar mengatakan pendidikan Ialam adl seganap kegiatan yg dilakukan seseorang atau suatu lembaga utk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yg mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam (2002: 12).

Pendidikan Islam adl jenis pendidikan yg pendirian dan penyelenggaraan didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita utk mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yg tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yg diselenggarakan (Soebahar 2002: 13).
Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dgn pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yg pasti relasi Islam dgn pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yg sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis.
Yang dimaksud dgn pendidikan Islam disini adl : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yg dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Kedua merupakan usaha yg sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yg utama menurut ukuran islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik utk diarahkan mengikuti jalan yg islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.

Menurut Fadlil Al-Jamali yg dikutip oleh Muzayyin Arifin pendidikan Islam adl proses yg mengarahkan manusia kepada kehidupan yg baik dan mengangkat derajat kemanusiaan sesuai dgn kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajar (2003: 18).
Maka dgn demikian pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia baik dari aspek rohaniah jasmaniah dan juga harus berlangsung secara hirarkis. oleh krn itu pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif dan inovatif.

Pendidikan islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar ( 1992 : 64) memiliki beberapa prinsip yg membedakan dgn pendidikan lain Prinsip Pendidikan islam antara lain :

  • Prinsip tauhid

  • Prinsip Integrasi

  • Prinsip Keseimbangan

  • Prinsip persamaan

  • Prinsip pendidikan seumur hidup dan

  • Prinsip keutamaan.


Sedangkan tujuan pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut :

  • Untuk membentuk akhlakul karimah.

  • Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental.

  • Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.


Dengan demikian sesungguh pendidikan islam tak saja fokus pada education for the brain tetapi juga pada education for the heart. Dalam pandangan islam krn salah satu misi utama pendidikan islam adl dalam rangka membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin maka ia harus seimbang sebab bila ia hanya focus pada pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional maka manusia tak akan dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri bahkan yg terjadi adl demartabatisasi yg menyebabkan manusia kehilangan identitas dan mengalami kegersangan psikologis dia hanya meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik.
Demikian pula pendidikan islam mesti bersifat integralitik arti ia harus memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh kesatuan jasmani rohani kesatuan intelektual emosional dan spiritual kesatuan pribadi dan sosial dan kesatuan dalam melangsungkan mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupannya.

Dasar-Dasar Pendidikan Islam

Dalam tiap aktivitas manusia sebagai instrumen transformasi ilmu pengetahuan budaya dan sebagai agen perubahan sosial pendidikan memerlukan satu landasan fundamental atau basik yg kuat. Adapaun dasar yg di maksud adl dasar pendidikan Islam suatu totalitas pendidikan yg wajib bersandar pada landasan dasar sebagaimana yg akan dibahas dalam bagian berikut ini.

Pendidikan Islam baik sebagai konsep maupun sebagai aktivitas yg bergaerak dalam rangka pembinaan kepribadian yg utuh paripurna atau syumun memerlukan suatu dasar yg kokoh. kajian tentang pendidikan Islam tak lepas dari landasan yg terkait dgn sumber ajaran Islam yaitu :

  • Al-Qur’an


Al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yg disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam terkandung ajaran pokok yg dapat dikembangkan utk keperluan aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yg terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri dari dua prinsip besar yaitu yg berhubungan dgn masalah keimanan yg disebut aqidah dan yg berhubungan dgn amal disebut syari’ah. Oleh krn itu pendidikan Islam harus menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam sesuai dgn perubahan dan pembaharuan (Darajat 2000: 19).

  • As-Sunnah


As-Sunnah ialah perkataan perbuatan ataupun pengakuan rasul. Yang di maksud dgn pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan orang lain yg diketahui oleh Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an yg juga sama berisi pedoman utk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek utk membina umat menjadi manusia seutuh atau muslim yg bertaqwa. Untuk itulah rasul Allah menjadi guru dan pendidik utama.
Maka dari pada itu Sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim dan selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebab mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahami termasuk yg berkaitan dgn pendidikan. As-Sunnah juga berfungsi sebagai penjelasan terhadap beberapa pembenaran dan mendesak utk segara ditampilkan yaitu :

  • Menerangkan ayat-ayat Al-Qur’an yg bersifat umum

  • Sunnah mengkhitmati Al-Qur’an.

  • Ijtihad


Ijtihad adl istilah para fuqoha yaitu berfikir dgn menggunakan seluruh ilmu yg dimiliki oleh ilmuan syari’at Islam utk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syara’ dalam hal-hal yg ternyata belum ditegaskan hukum oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Namun dgn demikian ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Oleh krn itu ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam yg sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah rasul Allah wafat. Sasaran ijtihad ialah segala sesuatu yg diperlukan dalam kehidupan yg senantiasa berkembang. Ijtihad dalam bidang pendidikan sejalan dgn perkembangan zaman yg semakin maju bukan saja dibidang materi atau isi melainkan juga dibidang sistem.
Secara substansial ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yg diolah oleh akal yg sehat dari para ahli pendidikan Islam.

  • Al-Kaun


Maksud Allah menurunkan ayat kauniyah tersebut yaitu utk mempermudah pemahaman manusia terhadap lingkungan sekitar sehingga dapat mengakui kebesaran seperti yg terdapat dalam Al-Qur’an surat Ar- Ra’du ayat 3 yg berbunyi :
وهوالدي مد الارض وجعل فيها روسي وانهرا ومن كل الثمرت جعل فيها زوجين اثنين يغش اليل النهارا ن في دلك لايت لقوم يتفكرون
Arti : “Dialah Tuhan yg mmembentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung sungai-sungai padanya. Dia menjadikan pada buah-buahan berpasang-pasangan. Allah jualah yg menutup malam kepada siang sesungguh pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yg berfikir” (Depag RI 1992: 368).
Berdasarkan firman Allah di atas bahwa tiap orang berfikir harus mengakui kebesaran Allah dan hal ini relevan utk dijadikan dasar dalam pendidikan Islam.

Unsur-Unsur Pendidikan Islam

Dalam implementasi fungsi pendidikan Islam sangat memperhatikan aspek yg mendukung atau unsur yg turut mendukung terhadap tercapai tujuan dari pendidikan Islam. Adapun aspek atau unsur-unsur tersebut adl :

Tujuan Pendidikan Islam

Menurut Fadlil Aljamali yg dikutip oleh Abdul Halim Soebahar sebagai berikut: Pertama mengenalkan manusia akan peran diantara sesama (makhluk) dan tanggung jawab pribadinya. Kedua mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawab dalam tata hidup bermasyarakat. Ketiga mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak mereka utk mengetahui hikmah diciptakan serta memberi kemungkinan utk mengambil manfaat dari alam tersebut. Keempat mengenalkan manusia akan pencipta alam ini (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya (2002: 19-20).
Tujuan pendidikan Islam adl tercapai pengajaran pengalaman pembiasaan penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya. Sedangkan menurut Zakiyah Dzarajat tujuan pendidikan Islam yaitu membentuk insan kamil dgn pola taqwa dapat mengalami perubahan bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Oleh krn itulah tujuan pendidikan Islam itu berlaku selama hidup utk menumbuhkan memupuk mengembangkan memelihara dan mempertahankan (2000: 31).
Hal yg sama pula tujuan pendidikan Islam dapat dipahami dalam firman Allah :
يايهاالدين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن الا وانتم مسلمون
Arinya: “Wahai orang-orang yg beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dgn sebenar-benar taqwa; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. 3 Ali-Imron: 102).
Sedangkan menurut Ahmad D Marimba yg dikutip oleh Halim Soebahar menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adl terbentuk muslim. Dan menurut bahwa tujuan demikian identik dgn tujuan hidup tiap muslim. Adapun tujuan hidup seorang muslim adl menghamba kepada Allah yg berkaitan dgn firman Allah Surat Dzariat 56 yg berbunyi :
وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون
Artinya: “Dan aku (Allah) tak menjadikan jin dan manusia melainkan utk meyembah-Ku”.
Dan masih banyak beberapa deskripsi yg membahas tentang tujuan pendidikan Islam seperti konfrensi pendidikan di Islamabat tahun 1980 bahwa pendidikan harus merealisasikan cita-cita (idealitas) Islam yg mencakup pengembangan kepribadian muslim secara meyeluruh yg harmonis yg berdasarkan fisiologis dan psikologis maupun yg mengacu kepada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara berkeseimbangan sehingga terbentuklah muslim yg paripurna berjiwa tawakkal secara total kepada Allah sebagaimana firman Allah Surat Al-An’am Ayat 162:
قل ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العلمين
Artinya: “Katakanlah sesungguh sholatku ibadahku hidup dan matiku hanya bagi Allah tuhan semesta alam”. Imam Al-Ghazali mengatakan tujuan penddikan Islam adl utk mencapai kesempurnaan manusia yg mendekatkan diri kepada Allah dan bertujuan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. (Langgulung 1990: 9).
Maka dari pada itu tujuan pendidikan Islam dirumuskan dalam nilai-nilai filosofis yg termuat dalam filsafat pendidikan Islam. Seperti hal dasar pendidikan maka tujuan pendidikan Islam juga identik dgn tujuan Islam itu sendiri. Sedanagkan Muhammad Umar Altomi Al-Zaibani yg dikutip oleh Djalaluddin mengatakan tujuan pendidikan Islam adl utk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlak ul karimah. Tujuan ini sama dan sebangun dgn tujuan yg akan dicapai oleh misi kerasulann yaitu “membimbing manusia agar berakhlak mulia”. (2001: 90).
Maka dgn demikian tujuan pendidikan Islam yg berdasarkan deskripsi di atas ialah menanamkan makrifat (kesadaran) dalam diri manusia terhadap diri sendiri selaku hamba Allah kesadaran selaku anggota masyarakat yg harus meiliki rasa tanggung jawab sosial terhadap pembinaan masyarakat serta menanamkan kemampuan manusia utk menolak memanfaatkan alam sekitar sebagai ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan manusia dan kegiatan ibadah kepada pencipta alam itu sendiri.
Telah kita ketahui bahwa dasar tujuan pendidikan ditiap-tiap negara itu tak selalu tetap sepanjang masa melainkan sering mengalami perubahan atau pergantian sesuai dgn perkembangan zaman. Perumbakan itu biasa akibat dari pertentangan pendirian atau ideologi yg ada di dalam masyarakat itu. Hal ini kerap kali terjadi lebih-lebih di negara yg belum stabil kehidupan politik krn mereka yg bertentangan itu sadar bahwa pendidikan memegang peranan penting sebagai generasi bangsa.
Sama hal dgn tujuan pendidikan di Indonesia juga selalu berubah-rubah dikarenakan kondisi dan situasi politik tak stabil. Hal ini dibuktikan mulai tahun 1946 sampai pada saat sekarang. Dengan demikian tujuan pendidikan itu tak berdiri sendiri melainkan dirumuskan atas dasar hidup bangsa dan cita-cita negara dimana pendidikan itu dilaksanakan. Sikap hidup itu dilandasi oleh norma-norma yg berlaku bagi semua warga negara.
Oleh krn itu sebelum seseorang melaksanakan tugas kependidikan terlebih dahulu harus memahami falsafah negara supaya norma yg melandasi hidup bernegara itu tercermin dari tindakan agar pendidikan yg diarahkan kepada pembentukan sikap posisi pada peserta didik hendak diperhitungkan pula bahwa manusia muda (peserta didik) itu tak hidup tersendiri di dunia ini. (Uhbiyati dkk2001:135-139)

Subjek Pendidikan.

Subjek pendidikan adl orang yg berkenaan langsung dgn proses pendidikan dalam hal ini pendidik dan peserta didik. Peserta didik yaitu pihak yg merupakan sabjek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan atau tindakan pendidik itu diadakan atau dilakukan hanyalah utk membawa anak didik kepada tujuan pendidikan Islam yg dicita-citakan. Dalam PPRI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa yg dimaksud dgn peserta didik ialah anggota masyarakat yg berusaha menyumbangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yg tersedia pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu (PPRI 2005: 12)
Pendidik atau guru secara implisit ia telah merelakan diri dan memikul dan menerima sebagai tanggung jawab pendidikan yg terpikul dipundak pada oranag tua. (Dzarajat 2000: 39)
Maka dgn demikian subjek pendidikan Islam yaitu semua manusia yg berproses dalam dunia pendidikan baik formal informal maupunn nonformal yg sama-sama mempunyai tujuan demi pengembangan kepribadiannya. Sehingga menjadi insan yg mempunyai kesadaran penuh kepada sang pencipta.

Kurikulum dan Materi.

Hal penting yg perlu diketahui dalam proses belajar mengajar atau proses kependidikan dalam suatu lembaga adl kurikulum (Arifin 2003: 77).
Menurut Soedijarto yg dikutip Khoiron Rosyadi mengartikan kurikulum dgn lima tingkatan yaitu : Pertama sebagai serangkaian tujuan yg menggambarkan berbagai kemapuan (pengetahuan dan keterampilan) nilai dan sikap yg harus dikuasi dan dimiliki oleh peserta didik dari suatu satuan pendidikan; Kedua sebagai kerangka materi yg memberikan gambaran tentang bidang-bidang study yg harus dipelajari oleh peserta didik utk menguasai serangkaian kemampuan nilai dan sikap yg secara institusional harus dikuasi oleh peserta didik setelah selesai dgn pendidikannya; Ketiga diartikan sebagai garis besar materi dari suatu bidang study yg telah dipilih utk dijadikan objek belajar. Keempat adalah sebagai panduan dan buku pelajaran yg disusun utk menunjang terjadi proses belajar mengajar; Kelima adalah sebagai bentuk dan jenis kegiatan belajar mengajar yg dialami oleh para pelajar termasuk di dalam berbagai jenis bentuk dan frekuensi evaluasi yg digunakan sebagai bagian terpadu dari strategi belajar mengajar yg direncanakan utk dialami para pelajar. (2004:243-244)
Oleh karena itu kurikulum menggambarkan kegiatan belajar mengajar dalam suatu lembaga kependidikan tak hanya dijabarkan serangkai ilmu pengetahuan yg harus diajarkan pendidik kepada anak didik dan anak didik mempelajarinya. Tetapi juga segala kegiatan yg bersifat kependidikan yg dipandanag perlu krn mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Adapun pengertian kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa latin (suatu jarak yg harus ditempuh dalam pertandingan olahraga) kemudian yg dialihkan kedalam pengertian pendidikan menjadi suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Dan secara termenologi adl menunjukkan tentang segala mata pelajaran yg dipelajarai dan juga semua pengalamam yg harus diperoleh serta semua kegiatan yg harus dilakukan anak.
Adapun yg dimaksud dgn materi yaitu bahan-bahan atau pengalaman belajar ilmu agama Islam yg disusun sedemikian rupa atau disampaikan kepada anak didik.(Uhbiyati 2003:14)
Materi dan kurikulum memiliki keterkaitan atau depadensi yg sangat erat mengingat meteri merupakan integral dari kurikulum dan pencapaian materi secara sistematis diatur dari kurikulum yg ada.

Metode Media dan Evaluasi.

Metode merupakan instrumen dan dipergunakan utk mencapai tujuan pendidikan atau alat yg mempunyai fungsi ganda yaitu yg bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Oleh krn itu metode dalam pengertian litter lijk kata “metode” berasal dari bahasa grek yg terdiri dari meta yg berarti “melalui” dan hodos yg berarti “jalan”. Jadi metode berarti “jalan yg dilalui”. Maka secara umum metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu cara itu mungkin baik mungkin tak baik. atau metode juag dapat diartikan sebagai cara utk mempermudah pemberian pemahaman kepada anak didik mengenai bahan atau materi yg diajarkan. (Arifin 2003: 89)

Media menurut gerlach dan Eli sebagaimana dikutip Azhar Arsyad mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adl manusia materi atau kejadian yg membangun kondisi yg membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan keterampilan atau sikap (1996: 1)

Jadi media merupakan sarana utk mempermudah pemberian pemahaman kepada peserta didik.
Evaluasi adl suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi utk menilai keputusan-keputusan yg dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran atau yg dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adl merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku peserta didik berdasarkan standar perhitungan yg bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psikologis dan spritual religius krn manusia hasil pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yg tak hanya bersikap religius melainkan juga berilmu dan berketarampilan yg sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya. (Arifin 2000: 238)
Dalam rangka menilai keberhasilan pendidikan evaluasi penting utk dilaksanakan krn sebagai pijakan dalam merumuskan program-program pendidikan yg akan datang.

Lingkungan

Lingkungan ialah sesuatu yg berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya. Lingkungan sendiri dibagi tiga macam yg keseluruhan mendukung terhadap proses implementasi pendidikan Islam misal masyarakat sekolah dan keluarga. Dalam arti yg luas lingkungan mencakup iklim dan geografis tempat tinggal adat istiadat pengetahuan pendidikan dan alam. Oleh krn itu dgn kata lain lingkungan ialah segala sesuatu yg tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yg senantiasa berkembang. (Daradjat 2000: 63)

Jadi lingkungan mempunyai andil yg sangat signifikan dalam pembentukan sikap dan prilaku yg pada akhir akan membentuk sebuah kepribadian yg sempurna.

Sumber: http://blog.re.or.id/pendidikan-islam-indonesia.htm

 

Minggu, 18 Desember 2011

Keseharianku bersama anak yatim piatu

Berbagi kepada anak yatim adalah suatu perbuatan yang mulia,karena anak yatim juga membutuhkan kasih sayang.saudara-saudaraku disini saya akan bercerita keseharian saya bersama anak yatim-piatu dan duafa memang terasa berat tapai bangaimanapun mereka membetuhkan kasih sayang.dan anak2 saya dulu waktu mengawali hanya berjumlah 3 orang dan sekarang sudah berjumlah 28 anak dan mereka semua anak2 yang membutuhkan kasih sayang betapa tidak mereka diwaktu kecil tinggal meninggal orang tuanya jadi sangat kasihan sekali untuk itu saya melluangkan waktu untuk membagi sebagian waktu saya untuk saya gunakan untuk mereka.sauadara2ku kegiatan anak2 kami dari wakyu malam jam 03.00 mereka saya ajak sholat lail,setelah sholat subuh mereka menghafal juz 30,kemudian setelah itu mereka piket kebersihan,mandi,dan berangkat sekolah,setelah jam 13.00 pulang dari sekolah kumudian makan siang di lanjutkan 14.00 tidur siang.waktu ashar pelajaran tauhit,akhlak,tajwit sampai 16.30.kemudia setelah magrib peljaran bahasa arab,tarih,akhlak setelah isyak makan makan malam setelah itu saya harus mendampingi belejar sekolah mereka samapai jam 21.00 dan tidur malam.

Adapun  cobaan yang sangat berat yang saya alami karena mendidik anak itu tidak mudah dan butuh tanggung jawab yang besar karena seorang orang tua harus bisa benar2 bekerja keras dalam mendidik,disiplin dan tegas dan bisa menjadi contoh anak2nya.namun saya merasa sangat senang bisa berbagi kepada anak2 yatim karena berkat teman2 yang selalu memberi motifasi kepada saya sehingga saya masih bersama anak2 kami.anak2 kami sangat menyenangkan betapa tidak ketika saya pulnag dari kampus mereka langsung menyambutnya dengan baik karena itu saya rasanya sangat sedih dan paling tidak saya punya harapan agar ketika besar nanti muda2han mereka menjadi orang2 yang mempunyai akhlak yang mulia dan bisa bermanfaat bagi orang banyak.teman2 saya jadi ingat orangtua ketikan mendidiknya anaknya betapa beratnya mereka dalam mendidiknya karena butuh perjuangan yang sangat banyak untuk mendiidknya.teman2 kalau mau main ditempat kami ini ada alamtnya arahnya di belakang pasar gamping desa wirokraman,sidokarto,Godenan,Sleman.nama pantinya pondok pesantren yatim-piatu rumah sajada.cp(081226943704)mz sutarko.mungkin itu teman2 yang dapat saya ceritakan mungkin nanti teman2 kalau mau tau banyak masalah yang lain bisa sms aja  ke saya.