Minggu, 08 Januari 2012

10 JENIS ORANG ISLAM YANG KEJAM...

10 JENIS ORANG ISLAM YANG KEJAM...

Sufyan Atsauri berkata: "Sepuluh macam kekejaman ialah :

1.    Seorang yang berdoa untuk dirinya sendiri,dan tidak mendoakan untuk anak-anaknya dan kaum mukmin.
2.    Seorang yang pandai membaca Al-Quran, tetapi tiap harinya tidak membaca seratus ayat.
3.    Seorang yang masuk masjid lalu keluar dan tidak sholat dua rakaat.
4.    Seorang yang berjalan melalui kuburan kemudian tidak memberi salam dan mendoakan ahli kubur.
5.    Seorang yang sampai di suatu kota pada hari Jum’at kemudian tidak sholat jemaah.
6.    Seorang yang di daerahnya didatangi oleh seorang alim, tiba-tiba tidak mahu belajar apa-apa daripadanya.
7.    Dua orang yang bertemu di perjalanan dan masing-masing tidak menanyakan nama kawannya itu.
8.    Seorang diundang pada jamuan tiba-tiba tidak datang.
9.    Pemuda yang tidak ada kerja dan tidak mau belajar ilmu dan kesopanan.
10.    Seorang yang kenyang sedang dia tahu bahwa tetangganya lapar, tetapi tidak diberi dari makanannya itu.

Kamis, 05 Januari 2012

Importance of Islamic Education

Pentingnya pendidikan Islam mungkin dapat dipahami secara baik jika kita memperhatikan kembali wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Kata pertama dari wahyu itu adalah Iqra yang berarti bacalah. Iqra adalah sebuah kata yang sangat menyeluruh. Ayat ini telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan pengikut beliau untuk membaca, menulis, memahami, berbagi dan menyebarkan dengan segala kemampuan yang dimiliki.

Kata Iqra diulang-ulang pada wahyu pertama ini untuk menekankan bobot pentingnya. Adalah mengagumkan bahwa tujuan untuk mengajar dan proses pelajaran diucapkan sebagai ‘qalam’ atau pena. Sesungguhnya pena adalah suatu hadiah yang mulia dari Allah SWT kepada umat manusia. Hanya manusia yang mendapat perlakuan khusus, kemampuan dan kehormatan untuk menulis atau merekam pemikiran dan gagasan mereka. Dengan cara ini umat manusia bisa mendapat manfaat dari pekerjaan orang-orang yang sebelumnya atau mewariskan pekerjaan yang dicapai oleh mereka kepada generasi yang akan datang. Tentu saja rekaman audio dan video adalah alternatif yang modern dari suatu pena.

Bagaimana dan sejak kapankah proses belajar mengajar dimulai? Perlu diketahui bahwa perintah pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah memajukan pendidikan, seperti firman Allah SWT dalam surat Ash Shuara 214

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,


Oleh karenanya, proses pendidikan harus dimulai dari keluarga kita sendiri. Pada kenyataannya ini merupakan cara yang dilakukan oleh seluruh Nabi dan Rasul.

Allah SWT juga berfirman kepada orang beriman dalam Al Qur’an. At Tahrim 6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Para Sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “ Bagaimana kita menyelamatkan keluarga kita dari api neraka?” Rasulullah SAW berkata “Dengan memberi mereka pendidikan Islam.”

Dengan cara yang sama Allah SWT telah memerintahkan kita dan keluarga kita untuk mendirikan Shalat dengan sangat teratur. Taha 132

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.


Karenanya pendidikan dan aplikasinya harus dimulai dari keluarga-keluarga kita sendiri. Pendidikan seperti in akan mempunyai akar yang kuat karena anggota keluarga lebih mengenali ketulusan kita dan usaha mulia lainnya. Orang luar bisa mencap kita orang munafik atau gila.

Apakah tujuan yang paling utama dari nenek moyang kita di dalam hidup mereka? Dalam rangka mencari suatu jawaban bagi pertanyaan ini, baiklah kita perhatikan peristiwa yang bersejarah ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangun rumah Allah SWT di Makkah. Setelah meyelesaikan tugas ini, mereka lebih merendahkan dirinya lagi dengan memanjatkan permohonan penting berikut ini, Al Baqarah 128

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Karenanya tujuan nenek moyang kita adalah untuk memperoleh pendidikan dan untuk mengajarkannya kepada anak-anak mereka sehingga mereka bisa bersungguh-sungguh bersikap tunduk kepada kehendak Allah SWT. Dalam rangka mencapai tujuan ini, mereka memanjatkan doa yang historis ini, Al Baqarah 129

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah SWT mengabulkan doa nenek moyang kita ini, dan mengirim Nabi Muhammad SAW untuk menyelesaikan tujuan pendidikan tersebut. Perhatikan bahwa diantara semua karunia Allah SWT kepada umat manusia, kebaikan yang paling utama adalah memberi petunjuk kepada hambaNya. Allah SWT mengingatkan kita atas kebaikan Nya di dalam surat Ali Imran 164

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Mari kita teliti bagaimana Nabi Muhammad SAW menyelesaikan sasaran dan tujuan ini. Nabi Muhammad SAW segera membangun Masjid Nabawi di Madinah setelah hijrahnya dari Makkah ke Madinah. Cukup lama masjid ini tidak beratap karena ketiadaan sumber daya keuangan. Para Sahabat Nabi Muhammad SAW shalat di dalam masjid ini di bawah panas terik dalam jangka waktu lama. Kita mencatat bahwa pada waktu itu suatu ruangan di Masjid itu telah dikhususkan untuk proses belajar mengajar. Banyak dari para Sahabat yang biasa tinggal di dalam ruangan ini siang dan malam. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan belajar mengajar saja tetapi juga makan dan tidur disana. Dr. Hameedullah menyebutnya sebagai suatu universitas pesantren.

Mari kita lihat bagaimana universitas ini beroperasi pada waktu itu. Kita mencatat bahwa sekali waktu Saad bin Ubada RA mengundang delapan puluh siswa dari universitas ini untuk makan malam. Ini menunjukkan bahwa banyaknya jumlah siswa adalah sangat besar dan bahwa orang-orang kaya membantu institusi dalam cara apapun yang mereka mampu. Kita juga mencatat bahwa Muadh bin Jabal RA memberikan terlalu banyak derma sehingga terlibat hutang. Oleh karena itu ia harus menjual rumahnya untuk membayar hutangnya. Sehingga ia tidak mempunyai tempat tinggal. Karena keadaan ini ia harus tinggal di universitas ini. Tetapi bagaimanapun, ia tidak ingin menjadi beban yang tak perlu bagi universitas itu. Kemudian ia ditugaskan untuk menjaga buah kurma yang belum matang, sumbangan dari penduduk bagi universitas. Karenanya, semua orang harus membantu kegiatan institusi dalam bentuk apapun yang bisa dilakukan. Kita bisa tambahkan di sini bahwa ketika Muadh bin Jabal dilantik menjadi gubernur Yaman, ia diperintah oleh Nabi SAW untuk membangun lembaga pendidikan di tiap kota dan memastikan bahwa lembaga-lembaga ini berjalan dengan produktif.

Para siswa tinggal di universitas hanya karena kecintaan mereka untuk belajar. Sebagai contoh, Abdullah bin Umar RA menganggap waktu perjalanan antara Quba dan Madinah terbuang sia-sia, maka ia lebih menyukai untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dan tinggal di pesantren. Terakhir kita mencatat bahwa ada seorang siswa dari universitas ini yang meninggal. Mereka menemukan dua dinar di dalam saku nya ketika pemakamannya sedang disiapkan. Nabi SAW memperlihatkan suatu tanda kejengkelan dan berkata: “Seseorang yang memiliki dua dinar tidak layak makan cuma-cuma di dalam universitas ini.” Ini memberi pengajaran kepada kita bahwa tak seorangpun diijinkan untuk mengambil keuntungan yang tak pantas dari berbagai fasilitas institusi pendidikan. Ini memberi kita beberapa masukan tentang cara berfungsinya universitas pesantren pada masa Nabi SAW. Semua rincian ini didapat dari kuliah Dr. Hameedullah di Universitas Bahawalpur.

Suatu hari Nabi SAW keluar dari rumahnya menuju masjid dan menemukan dua kelompok sahabatnya di dalam masjid itu. Satu kelompok sibuk berdzikir kepada Allah SWT, sedang kelompok yang lain sibuk dengan proses belajar mengajar antara mereka. Kedua kelompok sungguh-sungguh melakukan kegiatan yang menguntungkan. Tetapi bagaimanapun, Nabi Muhammad SAW lebih menyukai untuk bergabung dengan orang yang sedang dalam proses belajar mengajar. Hal ini menunjukan kecintaan dan pentingnya pendidikan Islam di dalam pikiran beliau. Beliau biasa bersabda : “Aku tidak ingin ada hari berlalu dimana aku tidak mempelajari sesuatu hal yang baru.”
Para siswa di universitas pesantren Madinah ini disebut As’Hab-us-Suffah.

Kita lebih lanjut mencatat bahwa ketika perang Badar beberapa tawanan perang tidak bisa membayar tebusan. Kemudian Nabi SAW meminta masing-masing di antara mereka untuk memberi pengajaran kepada sedikitnya sepuluh Orang Islam sebagai tebusan mereka. Beliau tidak ragu-ragu menggunakan guru non Muslim ketika jumlah guru Islam tidak tersedia.

Pada suatu ketika seorang anak laki-laki berusia 9 tahun sedang menaiki punggung Nabi SAW. Nabi SAW bersabda kepadanya: “Hai anak muda, beri aku kesempatan memberimu beberapa kata-kata bijak. Jika segala sesuatu dan semua orang berkumpul bersama-sama untuk memberi manfaat bagimu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat bagi kamu kecuali apa yang Allah SWT telah tetapkan untukmu. Begitu pula jika segala sesuatu dan semua orang berkumpul untuk merugikan kamu, mereka tidak akan bisa merugikan kamu kecuali apa yang Allah SWT telah tuliskan untukmu.”

Kita heran mengapa Nabi Muhammad SAW memberi pengajaran kata-kata bijak setinggi itu kepada anak semuda dia. Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW benar-benar memahami potensi para pemuda. Nama anak muda ini adalah Abdullah bin Abbas RA. Sebagai hasil ajaran ini, Abdullah menjadi salah satu anggota dewan penasehat bagi Umar RA ketika Kekalifahan Islam telah menyebar luas ke beberapa benua. Anak muda inilah yang menjalankan urusan harian dari Kekalifahan Islam yang sangat besar ini. Anggota lain dari dewan penasehat ini adalah para Sahabat Nabi Muhammad SAW yang jauh lebih tua. Mereka merasa canggung dengan adanya anak muda ini sebagai rekan mereka. Umar RA merasakan keberatan ini. Kemudian ia bertanya kepada mereka “Apa pendapat anda tentang situasi ketika Surat An Nasr diturunkan?”

Mereka menjawab bahwa itu menyangkut penaklukan Makkah ketika sejumlah besar orang-orang masuk agama Islam. Umar RA menanyakan pertanyaan yang sama kepada Abdullah bin Abbas RA. Abdullah berkata: “Aku berpikir itu mengingatkan bahwa misi dari Nabi Muhammad SAW telah hampir terpenuhi dan beliau akan meninggalkan kita.” Umar RA menjawab: “Aku berpendapat yang sama.” Kita lebih lanjut mencatat bahwa ini adalah surat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi SAW secara lengkap dan setelah turunnya wahyu ini Nabi SAW mengubah dzikirnya dari:

menjadi:

Aisyah bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau merubah dzikirmu?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku telah diperintah untuk melakukannya.” Dan kemudian beliau mengulang surat An Nasr. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa potensi para pemuda adalah luar biasa dan jika digunakan dengan baik, hal itu dapat menciptakan keajaiban.

Nabi Muhammad SAW juga mengutamakan pendidikan Islam bagi para wanita. Kita mencatat suatu pengamatan menarik di sebuah buku yang paling tua dalam sejarah yang disebut Al Maghazy dari Ibnu Ishaq. Menurut buku ini yang baru saja diterbitkan di Marocco, Nabi Muhammad SAW biasa mengajarkan ayat-ayat yang turun kepada suatu kelompok laki-laki segera setelah ia menerimanya. Kemudian ia akan mengajarkannya kepada suatu kelompok wanita juga, menandakan pentingnya arti pendidikan Islam bagi para wanita. Ada beberapa perkataan Muhammad SAW yang mengacu pada hal ini. Salah satu dari Hadits menyebutkan, “Siapapun yang mempunyai tiga putri dan bersabar di dalam membesarkan mereka. Itu akan menjadi suatu perlindungan untuk dia dari hukuman api neraka.” (Bukhari)

Hadits kedua menyatakan, “Siapapun mempunyai tiga putri yang diberinya tempat berteduh, dukungan, dan mengasihi mereka, surga adalah pahala yang dijanjikan untuk nya.” (Bukhari)

Pendidikan Islam selalu menjadi prioritas utama di dalam pikiran pemuka-pemuka Islam, bahkan di dalam keadaan yang sangat buruk. Imam Shafi’i menjadi yatim piatu ketika ia masih kecil. Ibunya meninggalkan dia dengan saudaranya karena tidak sanggup membesarkannya dan ibunya kembali kepada orang tuanya.

Imam Shafi’i menghafalkan keseluruhan Al Qur’an ketika ia baru berusia tujuh tahun. Ia juga mendapat pendidikan Islam lainnya. Ia pindah ke Makkah dengan pamannya dan mendapat pendidikan tambahan Islam dari ulama terkemuka waktu itu. Kemudian ia ingin menjadi murid dari Imam Malik di Madinah. Ia tidak punya uang untuk biaya perjalanan dan kebutuhan pribadi. Ia memperoleh suatu surat rekomendasi dari guru nya di Makkah untuk permohonan beasiswa. Imam Shafi’i menyerahkan surat ini kepada Imam Malik yang membacanya dan kemudian menjadi marah, “Apakah kamu berpikir pendidikan Islam hanya mengandalkan surat rekomendasi saja.” Tetapi bagaimanapun Imam Malik melihat bakat dari anak muda ini. Ia tidak saja hanya menerima sebagai siswanya tetapi juga melengkapi segala kebutuhan nya dari sakunya sendiri. Imam Shafi’i membuktikan dirinya berbeda di antara para siswa Imam Malik lainnya.

Dengan cara yang sama, kita temukan suatu situasi yang menarik pada Imam As Sarakhsy yang hidup di abad kelima setelah Hijrah. Ia adalah seorang tenaga ahli dalam masalah hukum Islam dan sangat berani dan jujur. Para penguasa pada masanya memaksakan pajak yang tak adil kepada rakyat. Sesungguhnya para penguasa itu memboroskan uang dan ingin membebani rakyat lebih banyak lagi. Imam As Sarakhsy mengajarkan rakyat untuk tidak membayar pajak itu. Penguasa tidak bisa membunuh dia, tetapi mereka memenjarakan Imam di dalam suatu sumur mati. Imam tinggal selama empat belas tahun di dalam sumur itu. Ia mendapat ijin dari pengawalnya untuk mnerima kunjungan para siswanya untuk duduk di tepi sumur. Imam mendiktekan kepada para siswanya penjelasan dari buku As Sayr Al Kabeer yang ditulis oleh seorang siswa Imam Abu Hanifa. Penjelasan ini ditulis dalam empat jilid. Dengan cara yang sama, Imam As Sarakhsy mendiktekan secara lisan dan membukukan Kitab Al Mabsoot dalam tigapuluh jilid. Lusinan buku lain juga ditulis dari sumur mati ini oleh Imam As Sarakhsy.

Kita mengetahui bahwa Nabi Yusuf biasa memberikan pendidikan kepada para narapidana lainnya ketika ia dipenjara. Karenanya proses belajar mengajar harus terus-menerus dilakukan.

Seharusnya, suatu pertanyaan timbul di benak kita: “Apa yang kita peroleh dengan menuntut dan menyampaikan pendidikan Islam?” Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an Ath Thur 21

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Dengan kata lain, jika anak-anak ternyata masuk ke surga dengan tingkat yang lebih rendah dibanding orang tua mereka, kemudian orang tua berharap bahwa keseluruhan keluarga dipersatukan didalam surga. Allah SWT berjanji disini untuk mempersatukan mereka, dengan syarat bahwa anak-anak mempunyai iman sebaik orang tua mereka dan bahwa mereka mengikuti jejak orang tua mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebagian orang akan mendapatkan diri mereka di dalam tingkatan surga yang sangat tinggi. Mereka ingin tahu bagaimana mereka bisa mencapai tingkatan sangat tinggi ini, karena amal perbuatan mereka bukanlah yang sangat tertinggi.

Allah SWT akan berkata kepada mereka, ‘Kamu meninggalkan anak-anak yang selalu berdoa untukmu, dengan setiap doa yang mereka panjatkan, tingkatanmu di surga naik lebih tinggi dan semakin tinggi.’” (Musnad Ahmad)

Sumber: http://www.imtiazahmad.com/reminders/in_pentingnya_pendidikan_islam.htm

 

Rabu, 04 Januari 2012

Tujuan Pendidikan Dalam Islam

Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral.

Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum  memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.

Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar” dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.

Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.

Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.

Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-indidivu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan ummat manusia secara keseluruhan. Disebabkan manusia merupakan fokus utama pendidikan, maka seyogianyalah institusi-institusi  pendidikan memfokuskan kepada substansi kemanusiaan, membuat sistem yang mendukung kepada terbentuknya manusia yang baik, yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan.

Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa. Oleh sebab itu, sebuah institusi pendidikan bukan saja memproduksi anak didik yang akan memiliki kemakmuran materi, namun juga yang lebih penting adalah melahirkan individu-individu yang memiliki diri yang baik sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta bermanfaat bagi ummat dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Institusi pendidikan perlu mengarahkan anak didik supaya mendisiplinkan akal dan jiwanya, memiliki akal yang pintar dan sifat-sifat dan jiwa yang baik, melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, memiliki pengetahuan yang luas, yang akan menjaganya dari kesalahan-kesalahan, serta memiliki hikmah dan keadilan.

Oleh sebab itu juga, ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam institusi pendidikan seyogianya dibangun di atas Wahyu yang membimbing kehidupan manusia. Kurikulum yang ada perlu mencerminkan memiliki integritas ilmu dan amal, fikr dan zikr, akal dan hati. Pandangan hidup Islam perlu menjadi paradigma anak didik dalam memandang kehidupan.

Dalam Islam, Realitas dan Kebenaran bukanlah  semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran didasarkan kepada dunia yang nampak dan tidak nampak; mencakup dunia dan akhirat, yang aspek dunia harus dikaitkan dengan aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam).

Jadi, institusi pendidikan Islam perlu mengisoliir pandangan hidup sekular-liberal yang tersurat dan tersirat dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan modern saat ini, dan sekaligus memasukkan unsur-unsur Islam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant. Dengan perubahan-perubahan kurikulum, lingkungan belajar yang agamis, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam, maka institusi-institusi pendidikan Islam akan membebaskan manusia dari kehidupan sekular menuju kehidupan yang berlandaskan kepada ajaran Islam.

Institusi–institusi pendidikan sepatutnya  melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang dengan ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Tuhannya, serta  memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan yang lain dalam masyarakatnya, dan berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang beradab.

Sumber : http://www.sabili.co.id/tafakur/tujuan-pendidikan-dalam-islam

Selasa, 03 Januari 2012

Pendekatan Filosofis Terhadap Hakekat Tujuan Pendidikan

BAB I


PENDAHULUAN




  1. A.      LATAR BELAKANG


Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kegiatan masyarakat. Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat menyebabkan adanya perbedaan penyelenggaraan termasuk perbedaan sistem pendidikan tersebut. Penyelenggaraan pendidikan tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang hendak dicapainya, rumusan tujuan pendidikan selalu mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan kehidupan masyarakat dan negara Indonesia. Tujuan pendidikan adalah kualifikasi yang diharapkan dimiliki murid setelah dia menerima atau menyelesaikan program pendidikan pada lembaga pendidikan tertentu.

Pendekatan filosofis terhadap hakekat tujuan pendidikan sangat penting karena bertujuan untuk menjelaskan inti, dan hakikat mengenai tujuan pendidikan.

 

  1. B.       RUMUSAN MASALAH

    1. Apakah pengertian dari pendekatan filosofis?

    2. Apakah tujuan pendidikan?

    3. Bagaimana tujuan pendidikan menurut para filusuf?

    4. Bagaimana pendekatan filosofis terhadap hakekat tujuan pendidikan?




 

  1. C.      TUJUAN

    1. Mengetahui pengertian dari pendekatan filosofis.

    2. Mengetahui tujuan pendidikan

    3. Mengetahui tujuan pendidikan menurut para filusuf..

    4. Mengetahui pendekatan filosofis terhadap hakekat tujuan pendidikan.




 

 

BAB II


PEMBAHASAN




  1. A.           PENGERTIAN PENDEKATAN FILOSOFIS


Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak.

Pendekatan filosofis untuk menjelaskan suatu masalah dapat diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk dalarn pendidikan. Filsafat tidak hanya melahirkan pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. John Dewey (1964) berpendapat bahwa filsafat merupakan teori umum tentang pendidikan. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula.

  1. B.            TUJUAN PENDIDIKAN


Secara bahasa tujuan adalah arah, haluan, jurusan, maksud . Dalam skala yang lebih besar pendidikan diatur oleh Pemerintah baik sistem maupun managemennya. Di Indonesia berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk brkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.                   .
Paulo Freire, tokoh pendidikan Amerika Latin mengatakan bahwa tujuan akhir dari preses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi). Tidak jauh berbeda dengan pandangan di atas M.Arifin berpendapat bahwa proses pendidikan pada akhirnya berlangsung pada titik kemampuan berkembangnya tiga hal, yaitu mencerdaskan otak yang ada dalam kepala (head), kedua, mendidik akhlak atau moralitas yang berkembang dalam hati (heart) dan ketiga, adalah mendidik kecakapan/ketrampilan yang pada prinsipnya terletak pada kemampuan tangan (hand). Berangkat dari arti pentingnya pendidikan ini, Karnadi Hasan memandang bahwa pendidikan bagi masyarakat dipandang sebagai “human investment” yang berarti secara historis dan filosofis, pendidikan telah ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam proses humanisasi dan pemberdayaan jati diri bangsa.

 

Pendidikan dimanapun dan kapanpun pada esensinya adalah sama. Hal ini di ungkapakan oleh Robert Maynard Hutchins yaitu bahwa :
Satu tujuan pendidikan adalah mengeluarkan unsur-unsur kemanusiaan yang sama dalam diri kita. Unsur unsur itu pada dasarnya tidak berbeda meski tempat dan waktunya berlainan. Jadi, anggapan bahwa manusia harus dididik untuk hidup di tempat atau di zaman tertentu, menyesuaikan manusia dengan lingkungan tertentu, adalah gagasan asing dan tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan sejati.

Pendidikan mengisyaratkan pengajaran. Pengajaran mengisyaratkan pengetahuan. Pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran, dimanapun, kapanpun, sama saja .

Pendidikan dapat dikatakan berhasil jika sudah mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan ditempuh dengan tindakan-tindakan yang jelas pula..
Bila kita kembali kepada hakekat pendidikan maka pendidikan pada esensinya juga bertujuan untuk membantu manusia menemukan hakekat kemanusiaannya. Proses humanisasi ini adalah –meminjam istilah Freire- pembebasan. Pembebasan manusia dari belenggu struktur sosial, cara pikir yang salah, doktrin tertentu dan sebagainya

 

  1. C.           TUJUAN PENDIDIKAN MENURUT PARA FILUSUF


Para filusuf mengemukakan pandangan berbeda mengenai tujuan pendidikan, antara lain:

  1. Plato (427-347 SM)


Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan.

  1. Aristoteles (384-322 SM)


Aristoteles menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat dan total, meliputi aspek jasmaniyah, emosi, dan intelek. Ia juga mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi adalah “kehidupan berpikir”.

  1. Thomas Aquinas


Thomas berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun kemampuan – kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap –tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak didik agar menjadi aktif dan nyata.

  1. John Dewey


Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal.

 

  1. D.           PENDEKATAN  FILOSOFIS TERHADAP HAKEKAT TUJUAN PENDIDIKAN


Pendekatan filosofis yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.

Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model:

  1. Model filsafat spekulatif


Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman

  1. Model filsafat preskriptif


Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan buruk, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat.

  1. Model filsafat analitik


Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994).

Pendekatan filosofis pada dasarnya bertujuan untuk menjelaskan inti,dan  hakikat, mengenai sesuatu yang berada di balik suatu objek tertentu.

  1. Inti Tujuan Pendidikan


Inti dari Tujuan pendidikan adalah Keimanan kepada Tuhan YME.

Ibarat pohon besar ranting-ranting adalah semua cabang ilmu pengetahuan, dan badan pohon di ibaratkan sebagai filsafat merupakan induk dari cabang ilmu pengetahuan. Serta akar sebagai inti/dasar induk cabang ilmu pengetahuan yaitu iman. Jadi kesimpulannya bahwa apapun ilmu yang kita peroleh dasarnya adalah iman (tauhid). Dasar pancasila kita saja dalam sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” merujuk pada keimanan, merupakan pembungkus dari empat sila yang lain.

  1. Hakekat Tujuan Pendidikan


Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture and transfer of religius yang diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku individu  atau  kelompok  agar  memiliki  nilai-nilai  yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. 

Menurut Freire hakekat tujuan pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan teknik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana tekhnologi lainnya yang ditawarkan sesuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai sebuah praksis sosial, pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka . Hal senada juga di ungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan seharusnya memerdekakan,.

YB. Mangunwijaya beranggapan bahwa pendidikan haruslah berbasis realitas sosial.

Kata Latin untuk mendidik adalah educare yang berarti menarik keluar dari, dan ini boleh diartikan usaha pemuliaan. Kata educare memberi arah kepada pemuliaan manusia, atau pembentukan manusia. Dalam pengertian sederhana secara leksikal education (pendidikan) adalah suatu proses pembebasan untuk membuat manusia lebih manusiawi. Manusiawi berarti manusia yang lebih mulia, yang keluar dari ketertindasan dan kebodohan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III


PENUTUP




  1. A.      KESIMPULAN


Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya

Inti dari Tujuan pendidikan adalah Keimanan kepada Tuhan YME.

Hakekat tujuan pendidikan adalah membebaskan. Pembebasan untuk membuat manusia lebih manusiawi. Manusiawi berarti manusia yang lebih mulia, yang keluar dari ketertindasan dan kebodohan.

  1. B.       SARAN


Di dalam menghadapi masalah-masalah di bidang pendidikan sebaiknya menggunakan pendekatan filosofis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA


Arifin, HM, Prof.2000.Filsafat Pendidikan Islam, Cet. VI.Jakarta: PT. Bumi Aksara

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1988.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Karnadi, Hasan.2000.Jurnal Dinamika Islam dan Budaya Jawa.IAIN Wali Songo: Pusat Pengkajian Islam Strategis.

Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek

www.adzraiq.blogspot.com

www.erlanmuliadi.blogspot.com

www.hasyimtriyono.blogdetik.com

 

 

Metode Pembelajaran Pendidikan Islam

Sementara itu Ar-Ma’i Arif menjelaskan tentang metode-metodeyang dapat dipakai dalam pembelajaran pendidik an Islam adalah sebagaiberikut:1) Metode ceramahYang di maksud ceramah adalah penerangan dan penuturansecara lisan oleh guru kepada kelas. metode ini merupakan metodeyang sering di pakai oleh seorang guru dalam menyampaikan suatumateri pelajaran. Walaupun demikian, seringkali metode ceramah itumendapat kritik dengan alasan sebagai berikut : Metode ini hanyamelibatkan para pesertanya secara minimal sekali. Metode inimembosankan para peserta. Penyajian informasi tidak memilikicatatan yang dapat di pakai seandainya mengulangnya kembali.Metode ini sudah dipakai sejak zaman para nabi dan jugaRasulullah SAW. Dan metode ini merupakan cara yang paling awalyang dilakukan. Dan karakteristik yang menonjol dari metode ini adalah peranan guru tampak lebih dominan. Sementara siswa lebihbanyak pasif dan menerima apa yang disampaikan oleh guru. 55Prosedur pelaksanaan teknik ceramah dapat di mulai daripersiapan dengan menyediakan bahan, menjelaskan tujuan denganpeserta didik serta membangkitkan persepsi pada siswa untukmemahami dan mengkonsentrasikan pada pelajaran dan penyajianbahan yang berkenaan dengan pokok masalah. Perbandingan abstraksi,generalisasi (dengan menampilkan kesimpulan) dan aplikasipenggunaannya. Untuk kelancaran metode ceramah kita perluberdo’a, sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat Thaha ayat 25-28 yang berbunyi:
Artinya: "Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukkudadaku, Dan mudahkanlah untukku urusanku, Danlepaskanlah kekakuan dari lidahku, Supaya mereka mengertiperkataanku." (QS. Ath-Thaha: 25-28).Metode ceramah dapat digunakan apabila: Guru akanmenyampaikan fakta atau pendapat dimana tidak terdapat bahanbacaan yang menerangkan fakta atau pendapat yang di maksud. Apabila guru harus menyampaikan fakta pada siswa yang besarjumlahnya, dan karena besarnya kelompok maka metode-metode yanglain tidak mungkin di pergunakan. Apabila guru adalah pembicarayang bersemangat dan akan merangsang siswa untuk melaksanakansuatu pekerjaan.Apabila guru akan menyampaikan pokok yang pentingyang telah dipelajari oleh siswa untuk memungkinkan siswa-siswamelihat lebih jelas perhubungan pokok yang satu dengan yang lain.Apabila guru akan memperkenalkan pokok baru dalam rangkapelajaran yang lalu.58Keuntungan dari metode ceramah adalah guru dapat menguasaiseluruh arah dan organisasi kelas adalah sederhana. Sedangkankelemahan dari metode ceramah adalah guru tidak dapat mengetahuisampai dimana siswa telah mengerti (memahami) yang telahdibicarakan, pada siswa dapat terbentuk konsep yang lain dari padakata-kata yang dimaksudkan oleh guru tersebut. 2) Metode tanya jawabMetode tanya jawab adalah penyampaian pelajaran denganpara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawabnya. Dalamsejarah perkembangan Islampun dikenal metode ini, karena seringdipakai oleh para Nabi Saw. Dan Rasul Allah dalam mengajarkanajaran yang dibawanya kepada umatnya. Metode tanya jawab sangat efektif untuk dipakai karena metode ini dapat memudahkan kita dalammendapatkan pengertian dan pemahaman yang lebih mantap, sehinggasegala bentuk kesalahpahaman dan kelemahan daya tangkap terhadappelajaran dapat dihindarkan semaksimal mungkin. 59Dalam metode tanya jawab guru pada umumnya berusahamenanyakan apakah siswa telah mengetahui fakta tertentu yang sudahdiajarkan atau apakah proses pemikiran yang dipakai oleh siswa dalammetode diskusi, pertanyaan guru lebih diarahkan untuk merangsangsiswa mempergunakan fakta yang lebih kompleks. Pertanyaan tidakbersifat faktual sebab itu juga maka jawabnya tidaklah bersifat tunggalatau mutlak.Metode tanya jawab di gunakan sebagai upaya untukmeninjaupelajaran yang lalu, agar siswa memusatkan lagi perhatian tentangjumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat melanjutkanpelajaran berikutnya.Mengulangi pembicaraan untuk mendapatkan kerja sama siswaatau mengikut sertakan semua siswa.Menangkap perhatiansiswa.Memimpin pengamatan dan pemikiran siswaKebaikan penggunaan metode tanya jawab adalah sebagaiberikut; Sambutan kelas, tanya jawab dapat memperoleh sambutanyang lebih aktif bila dibandingkan dengan hasil dari metode ceramah.

memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan halhalyang belum jelas atau belum dimengerti sehingga guru dapatmenjelaskan kembali. mengetahui perbedaan pendapat antara siswadan guru, dan akan membawa ke arah suatu diskusi.Sedangkan kebur uhan dari metode tanya jawab adalah bisamenimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan. Lebih- lebih jikasiswa memberi jawaban atau memajukan pertanyaan yang dapatmenimbulkan beberapa masalah baru dan kemudian menyimpang daripokok persoalan atau menimbulkan pokok pembicaraan baru danbanyak membutuhkan waktu.Langkah-langkah yang harus dipersiapkan dalam penggunaanmetode tanya jawab agar berhasil adalah sebagai berikut; Merumuskantujuan sejelasnya dalam bentuk khusus dan berpusat pada tingkah lakumurid. Mencari alasan mengapa mempergunakan metode-metodetanya jawab. Menetapkan kemungkinan jawaban pertanyaan ituapakah mengandung banyak masalah ataukah hanya terbatas padajawaban ”ya” atau ”tidak”. Menetapkan kemungkinan jawaban untukmenjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.Langkah-langkah yang ditempuh dosen bila ia melaksanakanmetode tanya jawab adalah sebagai berikut : dosen mula-mula menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan materi yang dibahas.Mahasiswa yang ditunjuk menjawab pertanyaan itu. Bila jawabanmahasiswa kurang tepat, maka pertanyaan itu dilemparkan padamahasiswa yang lain. Bila mahasiswa itu masih sukar menjawab makadosen membantu menjawab dengan cara menunjukkan alat peragayang relevan. Bantuan kepada proses berpikir mahasiswa dapat pulaberupa contoh-contoh kongkret yang terdapat di masyarakat ataulingkunganBila dengan bantuan alat mahasiswa belum bisa menjawabdengan tepat maka dosen memberi kesempatan kepada paramahasiswa untuk bertanya jawab antar mereka. Tanya jawab di atassering dilanjutkan dengan tanya jawab segi tiga yaitu antara dosendengan mahasiswa dan antara mahasiswa dengan mahasiswa. Bilasegala model tanya jawab menemui jalan buntu dalam artianmahasiswa tidak ada yang menjawab tepat, maka dosenlah yangmenjelaskan maksud dari jawaban soal tersebut secara mendalam, agarpara mahasiswa benar-benar memahaminya.3) Metode DiskusiSedangkan metode diskusi dalam proses belajar mengajaradalah sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari bahan ataumenyampaikan materi dengan jalan mendiskusikannya dengan tujuandapat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku padasiswa Al-Qur’an menganjurkan waktu melakukan diskusi atau musyawarah dalam rangka menari solusi, sebagaimana firman AllahSwt dalam surat Ali Imran ayat 159 yang berbunyi; Artinya: "…dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Makabertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukaiorang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali-Imran: 159).Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian pelajarandimana guru bersama-sama siswa mencari jalan pemecahan ataspersoalan yang dihadapi. Jadi, diskusi pada dasarnya adalah tukarmenukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secarateratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yanglebih jela s dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkandan merampungkan keputusan bersama.


Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2192350-metode-metode-pembelajaran-pendidikan-islam/

Minggu, 01 Januari 2012

Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia

Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia antara lain:

A. Pondok Pesantren.

Istilah pondok pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan kepada satu pengertian. Suku Jawa biasanya menggunakan sebutan pondok atau pesantren, dan sering pula menyebutnya pondok pesantren. Di Madura digunakan istilah penyantren, di Pasundan digunakan istilah pondok, di Aceh digunakan istilah dayah atau rangkang, dan di Minangkabau digunakan istilah surau.

Pengertian dasar pesantren, adalah tempat belajar para santri. Sedangkan Pondok, berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bamboo. Disamping itu juga kata pondok mungkin juga berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berari hotel atau asrama.

Pada Umumnya berdirinya suatu pesantren berawal dari pengakuan masyarakat akan keunggulan dan ketinggian ilmu seoranag guru (Kiyai). Karena keinginan menuntut ilmu dan memperoleh ilmu dari guru tersebut, maka masyarakat sekitar bahkan dari luar daerah dating kepadanay untuk belajar. Mereka lalu membangun tempat tinggal yang sederhana di sekutar tempat tinggal guru tersebut. Kelangsungan hidup suatu pesantren tergantung kepada dahsyatya tokoh sentral (kiyai atau Guru) yang memimpin, meneruskan atau mewarisisinay. Jika pewarisnya mengetahui sepenuhnya pengetahuan keagamaan, wibawa (mungkin juga kekeramatan), dan keterampilan mengajar, serta kekayaan yang lainnya yang diperlukan maka umur pesantren akan lanjut. Sebaliknya, pesantren akan menjadi mundur dan mungkin hilang jika pewarisnya atau keturunan kiyai yang mewarisinya tidak memenuhi persyaratan.

Dalam kalangan Pondok Pesantren yang pada saat itu mempunyai santri mencapai ribuan murid, maka sistem pengajarannya dilakukan secara mentor sebagai berikut :

a)      Kiyai besar mengajarkan ilmunya kepada para kiyai muda.

b)      Kiyai muda mengajarkan santri-santri tingkat dewasa.

c)       Santri dewasa mengajar anak-anak atau santri remaja.

d)      Santri  remaja ini membantu santri dewasa dalam mengajar anak-anak yang baru masuk.

         Santri yang telah tamat biasanya diberi izin oleh kiyai untuk membuka dan mendirikan pesantren baru di daerahnya asalnya. Dengan begitu pesantren-pesantren  berkembang di berbagai daerah, dan pesantren asal dianggap sebagai pesantren induknya.

         B. Madrasah.

         Madrasah (bahasa Arab) yang berarti tempat duduk untuk belajar. Padanan madrasah dalam bahasa Indonesia adalah sekolah, dengan konotasi yang khusus yaitu sekolah-sekolah agama Islam, sebagai tempat mengajarkan dan mmepelajari ajaran0ajaran agama Islam, ilmu pengetahuan, dan keahlian lainnya yang berkembang pada zamannya.

         Madrasah mulai didirikan dan berkembang di dunia Islam sekitar abad ke 5 Hijriyah atau abad ke 10 atau 11. Madrasah yang pertama  di dunia Islam, adalah Madrasah Nizhamiyah yang didiriakn oleh Misham al Mulk seorang penguasa dari Bani Saljuk. Madrasah ini mula-mula didirikan di Baghdad, kemudian berkembang dengan pesatnya, dan hampir di semua kota dalam wilayah kekuasaan Islam pada masa itu. Disamping itu berdiri pula madrasah-madrasah lainnya, seperti Madrasah Al Nuriyah yang didirikan oleh Nurudduin Zanki, Madrasah al Tajiyah yang didirikan oleh Taj al Mulk, madrasah Al Mustansyiriyah yang didirikan oleh khalifah Al Mustansyir, dan sebagainya.

         Madrasah yang pertamakali didirikan di Indonesia, adalam Madrash Adabiyah di Padang Sumatera Barat, Madrasah ini didirikan oleh Syeikh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Nama resminya pada masa itu adalah Adabiyah School, yang merupakan sekolah pertama yang memasukkan pelajaran agama ke dalamnya. Kemudian pada tahun 1910 didirikan Madrasah School yang dalam perkembangannya berubah menjadi Diniyah School (Madrasah Diniyah).

                Madrasah Diniyah kemudian berkembang hampir di seluruh Indonesia, baik bagian dari pesantren, maupun berdiri diluarnya. Pada tahun 1918 di Yogyakarta berdiri Madrasah Muhammadiyah, ayng kemudian dirubah namanya menjadi Kweekschool Muhammadiyah, dan akhirnya menjadi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Sementara itu pada tahun 1916 di lingkungan pesantren Tebuoreng Jombang Jawa Timur, telah didirikan Madrasah salafiyah oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai persiapan untuk melanjutkan pelajaran ke pesantren. 

Diposkan oleh Dede Syukrillah Rifai di 22:27

Sumber: http://dede-syukrillah.blogspot.com/2011/12/sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia.html

Pengertian Pendidikan Islam

 

Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yg memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dgn nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yg bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yg bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adl mewujudkan tujuan ajaran Allah (Djamaluddin 1999: 9).

Menurut Hasan Langgulung yg dikutip oleh Djamaluddin (1999) Pendidikan Islam ialah pendidikan yg memiliki empat macam fungsi yaitu :

  • Menyiapkan generasi muda utk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yg akan datang. Peranan ini berkaitan erat dgn kelanjutan hidup masyarakat sendiri.

  • Memindahkan ilmu pengetahuan yg bersangkutan dgn peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.

  • Memindahkan nilai-nilai yg bertujuan utk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yg menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban.

  • Mendidik anak agar beramal di dunia ini utk memetik hasil di akhirat.


An-Naquib Al-Atas yg dikutip oleh Ali mengatakan pendidikan Islam ialah usaha yg dialakukan pendidik terhadap anak didik utk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yg benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yg tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan (1999: 10 ).
Adapun Mukhtar Bukhari yg dikutip oleh Halim Soebahar mengatakan pendidikan Ialam adl seganap kegiatan yg dilakukan seseorang atau suatu lembaga utk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yg mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam (2002: 12).

Pendidikan Islam adl jenis pendidikan yg pendirian dan penyelenggaraan didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita utk mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yg tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yg diselenggarakan (Soebahar 2002: 13).
Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dgn pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yg pasti relasi Islam dgn pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yg sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis.
Yang dimaksud dgn pendidikan Islam disini adl : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yg dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Kedua merupakan usaha yg sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yg utama menurut ukuran islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik utk diarahkan mengikuti jalan yg islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.

Menurut Fadlil Al-Jamali yg dikutip oleh Muzayyin Arifin pendidikan Islam adl proses yg mengarahkan manusia kepada kehidupan yg baik dan mengangkat derajat kemanusiaan sesuai dgn kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajar (2003: 18).
Maka dgn demikian pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia baik dari aspek rohaniah jasmaniah dan juga harus berlangsung secara hirarkis. oleh krn itu pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif dan inovatif.

Pendidikan islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar ( 1992 : 64) memiliki beberapa prinsip yg membedakan dgn pendidikan lain Prinsip Pendidikan islam antara lain :

  • Prinsip tauhid

  • Prinsip Integrasi

  • Prinsip Keseimbangan

  • Prinsip persamaan

  • Prinsip pendidikan seumur hidup dan

  • Prinsip keutamaan.


Sedangkan tujuan pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut :

  • Untuk membentuk akhlakul karimah.

  • Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental.

  • Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.


Dengan demikian sesungguh pendidikan islam tak saja fokus pada education for the brain tetapi juga pada education for the heart. Dalam pandangan islam krn salah satu misi utama pendidikan islam adl dalam rangka membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin maka ia harus seimbang sebab bila ia hanya focus pada pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional maka manusia tak akan dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri bahkan yg terjadi adl demartabatisasi yg menyebabkan manusia kehilangan identitas dan mengalami kegersangan psikologis dia hanya meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik.
Demikian pula pendidikan islam mesti bersifat integralitik arti ia harus memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh kesatuan jasmani rohani kesatuan intelektual emosional dan spiritual kesatuan pribadi dan sosial dan kesatuan dalam melangsungkan mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupannya.

Dasar-Dasar Pendidikan Islam

Dalam tiap aktivitas manusia sebagai instrumen transformasi ilmu pengetahuan budaya dan sebagai agen perubahan sosial pendidikan memerlukan satu landasan fundamental atau basik yg kuat. Adapaun dasar yg di maksud adl dasar pendidikan Islam suatu totalitas pendidikan yg wajib bersandar pada landasan dasar sebagaimana yg akan dibahas dalam bagian berikut ini.

Pendidikan Islam baik sebagai konsep maupun sebagai aktivitas yg bergaerak dalam rangka pembinaan kepribadian yg utuh paripurna atau syumun memerlukan suatu dasar yg kokoh. kajian tentang pendidikan Islam tak lepas dari landasan yg terkait dgn sumber ajaran Islam yaitu :

  • Al-Qur’an


Al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yg disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam terkandung ajaran pokok yg dapat dikembangkan utk keperluan aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yg terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri dari dua prinsip besar yaitu yg berhubungan dgn masalah keimanan yg disebut aqidah dan yg berhubungan dgn amal disebut syari’ah. Oleh krn itu pendidikan Islam harus menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam sesuai dgn perubahan dan pembaharuan (Darajat 2000: 19).

  • As-Sunnah


As-Sunnah ialah perkataan perbuatan ataupun pengakuan rasul. Yang di maksud dgn pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan orang lain yg diketahui oleh Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an yg juga sama berisi pedoman utk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek utk membina umat menjadi manusia seutuh atau muslim yg bertaqwa. Untuk itulah rasul Allah menjadi guru dan pendidik utama.
Maka dari pada itu Sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim dan selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebab mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahami termasuk yg berkaitan dgn pendidikan. As-Sunnah juga berfungsi sebagai penjelasan terhadap beberapa pembenaran dan mendesak utk segara ditampilkan yaitu :

  • Menerangkan ayat-ayat Al-Qur’an yg bersifat umum

  • Sunnah mengkhitmati Al-Qur’an.

  • Ijtihad


Ijtihad adl istilah para fuqoha yaitu berfikir dgn menggunakan seluruh ilmu yg dimiliki oleh ilmuan syari’at Islam utk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syara’ dalam hal-hal yg ternyata belum ditegaskan hukum oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Namun dgn demikian ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Oleh krn itu ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam yg sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah rasul Allah wafat. Sasaran ijtihad ialah segala sesuatu yg diperlukan dalam kehidupan yg senantiasa berkembang. Ijtihad dalam bidang pendidikan sejalan dgn perkembangan zaman yg semakin maju bukan saja dibidang materi atau isi melainkan juga dibidang sistem.
Secara substansial ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yg diolah oleh akal yg sehat dari para ahli pendidikan Islam.

  • Al-Kaun


Maksud Allah menurunkan ayat kauniyah tersebut yaitu utk mempermudah pemahaman manusia terhadap lingkungan sekitar sehingga dapat mengakui kebesaran seperti yg terdapat dalam Al-Qur’an surat Ar- Ra’du ayat 3 yg berbunyi :
وهوالدي مد الارض وجعل فيها روسي وانهرا ومن كل الثمرت جعل فيها زوجين اثنين يغش اليل النهارا ن في دلك لايت لقوم يتفكرون
Arti : “Dialah Tuhan yg mmembentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung sungai-sungai padanya. Dia menjadikan pada buah-buahan berpasang-pasangan. Allah jualah yg menutup malam kepada siang sesungguh pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yg berfikir” (Depag RI 1992: 368).
Berdasarkan firman Allah di atas bahwa tiap orang berfikir harus mengakui kebesaran Allah dan hal ini relevan utk dijadikan dasar dalam pendidikan Islam.

Unsur-Unsur Pendidikan Islam

Dalam implementasi fungsi pendidikan Islam sangat memperhatikan aspek yg mendukung atau unsur yg turut mendukung terhadap tercapai tujuan dari pendidikan Islam. Adapun aspek atau unsur-unsur tersebut adl :

Tujuan Pendidikan Islam

Menurut Fadlil Aljamali yg dikutip oleh Abdul Halim Soebahar sebagai berikut: Pertama mengenalkan manusia akan peran diantara sesama (makhluk) dan tanggung jawab pribadinya. Kedua mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawab dalam tata hidup bermasyarakat. Ketiga mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak mereka utk mengetahui hikmah diciptakan serta memberi kemungkinan utk mengambil manfaat dari alam tersebut. Keempat mengenalkan manusia akan pencipta alam ini (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya (2002: 19-20).
Tujuan pendidikan Islam adl tercapai pengajaran pengalaman pembiasaan penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya. Sedangkan menurut Zakiyah Dzarajat tujuan pendidikan Islam yaitu membentuk insan kamil dgn pola taqwa dapat mengalami perubahan bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Oleh krn itulah tujuan pendidikan Islam itu berlaku selama hidup utk menumbuhkan memupuk mengembangkan memelihara dan mempertahankan (2000: 31).
Hal yg sama pula tujuan pendidikan Islam dapat dipahami dalam firman Allah :
يايهاالدين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن الا وانتم مسلمون
Arinya: “Wahai orang-orang yg beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dgn sebenar-benar taqwa; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. 3 Ali-Imron: 102).
Sedangkan menurut Ahmad D Marimba yg dikutip oleh Halim Soebahar menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adl terbentuk muslim. Dan menurut bahwa tujuan demikian identik dgn tujuan hidup tiap muslim. Adapun tujuan hidup seorang muslim adl menghamba kepada Allah yg berkaitan dgn firman Allah Surat Dzariat 56 yg berbunyi :
وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون
Artinya: “Dan aku (Allah) tak menjadikan jin dan manusia melainkan utk meyembah-Ku”.
Dan masih banyak beberapa deskripsi yg membahas tentang tujuan pendidikan Islam seperti konfrensi pendidikan di Islamabat tahun 1980 bahwa pendidikan harus merealisasikan cita-cita (idealitas) Islam yg mencakup pengembangan kepribadian muslim secara meyeluruh yg harmonis yg berdasarkan fisiologis dan psikologis maupun yg mengacu kepada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara berkeseimbangan sehingga terbentuklah muslim yg paripurna berjiwa tawakkal secara total kepada Allah sebagaimana firman Allah Surat Al-An’am Ayat 162:
قل ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العلمين
Artinya: “Katakanlah sesungguh sholatku ibadahku hidup dan matiku hanya bagi Allah tuhan semesta alam”. Imam Al-Ghazali mengatakan tujuan penddikan Islam adl utk mencapai kesempurnaan manusia yg mendekatkan diri kepada Allah dan bertujuan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. (Langgulung 1990: 9).
Maka dari pada itu tujuan pendidikan Islam dirumuskan dalam nilai-nilai filosofis yg termuat dalam filsafat pendidikan Islam. Seperti hal dasar pendidikan maka tujuan pendidikan Islam juga identik dgn tujuan Islam itu sendiri. Sedanagkan Muhammad Umar Altomi Al-Zaibani yg dikutip oleh Djalaluddin mengatakan tujuan pendidikan Islam adl utk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlak ul karimah. Tujuan ini sama dan sebangun dgn tujuan yg akan dicapai oleh misi kerasulann yaitu “membimbing manusia agar berakhlak mulia”. (2001: 90).
Maka dgn demikian tujuan pendidikan Islam yg berdasarkan deskripsi di atas ialah menanamkan makrifat (kesadaran) dalam diri manusia terhadap diri sendiri selaku hamba Allah kesadaran selaku anggota masyarakat yg harus meiliki rasa tanggung jawab sosial terhadap pembinaan masyarakat serta menanamkan kemampuan manusia utk menolak memanfaatkan alam sekitar sebagai ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan manusia dan kegiatan ibadah kepada pencipta alam itu sendiri.
Telah kita ketahui bahwa dasar tujuan pendidikan ditiap-tiap negara itu tak selalu tetap sepanjang masa melainkan sering mengalami perubahan atau pergantian sesuai dgn perkembangan zaman. Perumbakan itu biasa akibat dari pertentangan pendirian atau ideologi yg ada di dalam masyarakat itu. Hal ini kerap kali terjadi lebih-lebih di negara yg belum stabil kehidupan politik krn mereka yg bertentangan itu sadar bahwa pendidikan memegang peranan penting sebagai generasi bangsa.
Sama hal dgn tujuan pendidikan di Indonesia juga selalu berubah-rubah dikarenakan kondisi dan situasi politik tak stabil. Hal ini dibuktikan mulai tahun 1946 sampai pada saat sekarang. Dengan demikian tujuan pendidikan itu tak berdiri sendiri melainkan dirumuskan atas dasar hidup bangsa dan cita-cita negara dimana pendidikan itu dilaksanakan. Sikap hidup itu dilandasi oleh norma-norma yg berlaku bagi semua warga negara.
Oleh krn itu sebelum seseorang melaksanakan tugas kependidikan terlebih dahulu harus memahami falsafah negara supaya norma yg melandasi hidup bernegara itu tercermin dari tindakan agar pendidikan yg diarahkan kepada pembentukan sikap posisi pada peserta didik hendak diperhitungkan pula bahwa manusia muda (peserta didik) itu tak hidup tersendiri di dunia ini. (Uhbiyati dkk2001:135-139)

Subjek Pendidikan.

Subjek pendidikan adl orang yg berkenaan langsung dgn proses pendidikan dalam hal ini pendidik dan peserta didik. Peserta didik yaitu pihak yg merupakan sabjek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan atau tindakan pendidik itu diadakan atau dilakukan hanyalah utk membawa anak didik kepada tujuan pendidikan Islam yg dicita-citakan. Dalam PPRI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa yg dimaksud dgn peserta didik ialah anggota masyarakat yg berusaha menyumbangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yg tersedia pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu (PPRI 2005: 12)
Pendidik atau guru secara implisit ia telah merelakan diri dan memikul dan menerima sebagai tanggung jawab pendidikan yg terpikul dipundak pada oranag tua. (Dzarajat 2000: 39)
Maka dgn demikian subjek pendidikan Islam yaitu semua manusia yg berproses dalam dunia pendidikan baik formal informal maupunn nonformal yg sama-sama mempunyai tujuan demi pengembangan kepribadiannya. Sehingga menjadi insan yg mempunyai kesadaran penuh kepada sang pencipta.

Kurikulum dan Materi.

Hal penting yg perlu diketahui dalam proses belajar mengajar atau proses kependidikan dalam suatu lembaga adl kurikulum (Arifin 2003: 77).
Menurut Soedijarto yg dikutip Khoiron Rosyadi mengartikan kurikulum dgn lima tingkatan yaitu : Pertama sebagai serangkaian tujuan yg menggambarkan berbagai kemapuan (pengetahuan dan keterampilan) nilai dan sikap yg harus dikuasi dan dimiliki oleh peserta didik dari suatu satuan pendidikan; Kedua sebagai kerangka materi yg memberikan gambaran tentang bidang-bidang study yg harus dipelajari oleh peserta didik utk menguasai serangkaian kemampuan nilai dan sikap yg secara institusional harus dikuasi oleh peserta didik setelah selesai dgn pendidikannya; Ketiga diartikan sebagai garis besar materi dari suatu bidang study yg telah dipilih utk dijadikan objek belajar. Keempat adalah sebagai panduan dan buku pelajaran yg disusun utk menunjang terjadi proses belajar mengajar; Kelima adalah sebagai bentuk dan jenis kegiatan belajar mengajar yg dialami oleh para pelajar termasuk di dalam berbagai jenis bentuk dan frekuensi evaluasi yg digunakan sebagai bagian terpadu dari strategi belajar mengajar yg direncanakan utk dialami para pelajar. (2004:243-244)
Oleh karena itu kurikulum menggambarkan kegiatan belajar mengajar dalam suatu lembaga kependidikan tak hanya dijabarkan serangkai ilmu pengetahuan yg harus diajarkan pendidik kepada anak didik dan anak didik mempelajarinya. Tetapi juga segala kegiatan yg bersifat kependidikan yg dipandanag perlu krn mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Adapun pengertian kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa latin (suatu jarak yg harus ditempuh dalam pertandingan olahraga) kemudian yg dialihkan kedalam pengertian pendidikan menjadi suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Dan secara termenologi adl menunjukkan tentang segala mata pelajaran yg dipelajarai dan juga semua pengalamam yg harus diperoleh serta semua kegiatan yg harus dilakukan anak.
Adapun yg dimaksud dgn materi yaitu bahan-bahan atau pengalaman belajar ilmu agama Islam yg disusun sedemikian rupa atau disampaikan kepada anak didik.(Uhbiyati 2003:14)
Materi dan kurikulum memiliki keterkaitan atau depadensi yg sangat erat mengingat meteri merupakan integral dari kurikulum dan pencapaian materi secara sistematis diatur dari kurikulum yg ada.

Metode Media dan Evaluasi.

Metode merupakan instrumen dan dipergunakan utk mencapai tujuan pendidikan atau alat yg mempunyai fungsi ganda yaitu yg bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Oleh krn itu metode dalam pengertian litter lijk kata “metode” berasal dari bahasa grek yg terdiri dari meta yg berarti “melalui” dan hodos yg berarti “jalan”. Jadi metode berarti “jalan yg dilalui”. Maka secara umum metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu cara itu mungkin baik mungkin tak baik. atau metode juag dapat diartikan sebagai cara utk mempermudah pemberian pemahaman kepada anak didik mengenai bahan atau materi yg diajarkan. (Arifin 2003: 89)

Media menurut gerlach dan Eli sebagaimana dikutip Azhar Arsyad mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adl manusia materi atau kejadian yg membangun kondisi yg membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan keterampilan atau sikap (1996: 1)

Jadi media merupakan sarana utk mempermudah pemberian pemahaman kepada peserta didik.
Evaluasi adl suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi utk menilai keputusan-keputusan yg dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran atau yg dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adl merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku peserta didik berdasarkan standar perhitungan yg bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psikologis dan spritual religius krn manusia hasil pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yg tak hanya bersikap religius melainkan juga berilmu dan berketarampilan yg sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya. (Arifin 2000: 238)
Dalam rangka menilai keberhasilan pendidikan evaluasi penting utk dilaksanakan krn sebagai pijakan dalam merumuskan program-program pendidikan yg akan datang.

Lingkungan

Lingkungan ialah sesuatu yg berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya. Lingkungan sendiri dibagi tiga macam yg keseluruhan mendukung terhadap proses implementasi pendidikan Islam misal masyarakat sekolah dan keluarga. Dalam arti yg luas lingkungan mencakup iklim dan geografis tempat tinggal adat istiadat pengetahuan pendidikan dan alam. Oleh krn itu dgn kata lain lingkungan ialah segala sesuatu yg tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yg senantiasa berkembang. (Daradjat 2000: 63)

Jadi lingkungan mempunyai andil yg sangat signifikan dalam pembentukan sikap dan prilaku yg pada akhir akan membentuk sebuah kepribadian yg sempurna.

Sumber: http://blog.re.or.id/pendidikan-islam-indonesia.htm