FIVE SIMPLE RULES TO BE HAPPY.
Lima peraturan sederhana untuk hidup bahagia.
Remember the five simple rules to be happy:
Ingatlah lima peraturan sederhana ini untuk hidup bahagia.
1. Free your heart from hated.
Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Free your mind from worries.
Bebaskan pikiranmu dari kesusahan.
3. Live simply.
Hiduplah secara sederhana.
4. Give more.
Berilah lebih.
5. Expect less.
Kurangilah harapan.
No one can go back and make a brand new start.
Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai baru dari awal.
Anyone can start from now and make a brand new ending.
Setiap orang dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru.
God didn't promise days without pain,
laughter without sorrow,
sun without rain,
but He did promise strength for the day,
comfort for the tears,
and light for the way.
Tuhan tidak menjanjikan hari2 tanpa sakit,
tertawa tanpa kesedihan,
matahari tanpa hujan,
tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu,
kebahagiaan untuk air mata,
dan terang dalam perjalanan.
Disappointments are like road humps,
they slow you down a bit
but you enjoy the smooth road afterwards.
Kekecewaan bagai "polisi tidur",
ini akan memperlambatmu sedikit
tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata.
Don't stay on the humps too long. Move on!
Jangan tinggal terlalu lama saat ada "polisi tidur". Berjalanlah terus !
When you feel down because you didn't get what you want,
just sit tight and be happy,
because God is thinking of something better to give you.
Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh apa yang kaukehendaki,
terimalah dan bergembiralah,
karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk
dirimu.
When something happens to you, good or bad, consider what it means
....
Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah
artinya ....
There's a purpose to life's events, to teach you how to laugh more
or not to cry too hard.
Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan,
mengajarmu bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu
keras menangis.
You can't make someone love you,
all you can do is be someone who can be loved,
the rest is up to the person to realise your worth.
Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu,
apa yang dapat kau perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk
dicintai,
selebihnya ada pada orang itu untuk menilai dirimu.
The measure of love is when you love without measure.
Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas.
In life there are very rare chances
that you'll meet the person you love and loves you in return.
Dalam kehidupan jarang akan kautemui seseorang
yang kaucintai dan orang itu mencintaimu juga.
So once you have it don't ever let go,
the chance might never come your way again.
Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan,
ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali.
It's better to lose your pride to the one you love,
than to lose the one you love because of pride.
Lebih baik kehilangan harga dirimu kepada orang yang mencintaimu,
daripada kehilangan orang yang kaucintai karena harga dirimu.
We spend too much time looking for the right person to love
or finding fault with those we already love,
when instead we should be perfecting the love we give.
Kita terlalu mem-buang2 waktu untuk men-cari2 orang yang sesuai
untuk dicintai
atau melihat kesalahan2 pada orang yang telah kita cintai,
dari pada malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita
berikan.
When you truly care for someone,
you don't look for faults,
you don't look for answers,
you don't look for mistakes.
Jika kau sungguh2 peduli pada seseorang,
janganlah kau men-cari2kekurangan2nya ,
kau jangan men-cari2 alasan,
kau jangan men-cari2 kesalahan2nya.
Instead,
you fight the mistakes,
you accept the faults,
and you overlook the excuses.
Malahan,
kau atasi kesalahan2 itu,
kau terima kekurangan2 itu
dan jangan kau hiraukan alasan2 itu.
Never abandon an old friend.
You will never find one who can take his place.
Jangan pernah meninggalkan rekan lama.
Kau tidak akan pernah men-dapat penggantinya.
Friendship is like wine, it gets better as it grows older.
Persahabatan adalah bagai anggur, tambah lama akan tambah baik.
Minggu, 08 Januari 2012
24 Selingan dalam Hidup
24 Selingan dalam Hidup
1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.
2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat
merindukan seseorang, sehingga ingin hati menjemputnya
dari alam mimpi dan memeluknya dalam
alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.
3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan,
pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah
seperti yang kamu inginkan, karena
kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan
untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup
untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk
membuatmu kuat, kesedihan yang cukup
untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup
untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk
membeli hadiah-hadiah.
5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang
lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu
lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat
pintu lain yang dibukakan bagi kita.
6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk
berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan
sepatah katapun, dan kemudian
kamu meninggalkannya dengan perasaan telah
bercakap-cakap lama dengannya.
7. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang telah
kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh
benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah
kita miliki sampai kita
mendapatkannya.
8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain.
Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal
itu menyakitkan hati orang itu pula.
9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut
perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan
suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada
tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang
penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.
10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita
cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya
menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita
hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita
temukan di dalam dia.
11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu
memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha
menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir
dalam hidupnya.
12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan
beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang
yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima
kasih atas karunia itu.
13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir
seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari
untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu
seumur hidup untuk melupakan seseorang.
14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis,
mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan
mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang
menghargai pentingnya orang-orang yang
pernah hadir dalam hidup mereka.
15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah,
romantika dan masih tetap peduli padanya.
16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika
kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan
mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya
dan kamu harus melepaskannya.
17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh
dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air
mata.
18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap
sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih
percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka
yang masih mencintai sekalipun pernah
disakiti hatinya.
19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak
mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah
mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki
keberanian untuk mengutarakan cintamu
kepadanya.
20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada
masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus
dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan
sakit hati di masa lalu.
21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika
kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika
kamu masih merasa sanggup, jangan pernah mengatakan
kamu tidak mencintainya lagi jika
kamu masih tidak dapat melupakannya.
22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang
bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu ! Jangan
mengharapkan balasan cinta, tunggulah
sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak,
berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.
23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi
tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu
harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah
menulikan telinga untuk mendengar dari
orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.
24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di
sekelilingmu tersenyum - jalanilah hidupmu sehingga
pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan
orang-orang di sekelilingmu menangis.
1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.
2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat
merindukan seseorang, sehingga ingin hati menjemputnya
dari alam mimpi dan memeluknya dalam
alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.
3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan,
pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah
seperti yang kamu inginkan, karena
kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan
untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup
untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk
membuatmu kuat, kesedihan yang cukup
untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup
untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk
membeli hadiah-hadiah.
5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang
lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu
lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat
pintu lain yang dibukakan bagi kita.
6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk
berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan
sepatah katapun, dan kemudian
kamu meninggalkannya dengan perasaan telah
bercakap-cakap lama dengannya.
7. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang telah
kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh
benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah
kita miliki sampai kita
mendapatkannya.
8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain.
Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal
itu menyakitkan hati orang itu pula.
9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut
perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan
suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada
tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang
penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.
10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita
cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya
menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita
hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita
temukan di dalam dia.
11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu
memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha
menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir
dalam hidupnya.
12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan
beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang
yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima
kasih atas karunia itu.
13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir
seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari
untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu
seumur hidup untuk melupakan seseorang.
14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis,
mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan
mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang
menghargai pentingnya orang-orang yang
pernah hadir dalam hidup mereka.
15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah,
romantika dan masih tetap peduli padanya.
16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika
kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan
mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya
dan kamu harus melepaskannya.
17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh
dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air
mata.
18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap
sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih
percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka
yang masih mencintai sekalipun pernah
disakiti hatinya.
19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak
mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah
mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki
keberanian untuk mengutarakan cintamu
kepadanya.
20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada
masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus
dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan
sakit hati di masa lalu.
21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika
kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika
kamu masih merasa sanggup, jangan pernah mengatakan
kamu tidak mencintainya lagi jika
kamu masih tidak dapat melupakannya.
22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang
bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu ! Jangan
mengharapkan balasan cinta, tunggulah
sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak,
berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.
23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi
tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu
harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah
menulikan telinga untuk mendengar dari
orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.
24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di
sekelilingmu tersenyum - jalanilah hidupmu sehingga
pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan
orang-orang di sekelilingmu menangis.
DALAM 7 HARI YANG TELAH LALU DAN MUNGKIN AKAN TERULANG
DALAM 7 HARI YANG TELAH LALU DAN MUNGKIN AKAN TERULANG
Hari per-1, tahajudku tetinggal
Dan aku begitu sibuk akan duniaku
Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil
Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib
Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara
tv selesai
Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama
Hari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn
Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya
Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzz
Al-qur'an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan
terbata-bata
Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan
lancarnya aku menceritakan
Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku
Sorenya aku datang ke Selatan Jakarta dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku
Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yg ada disamping
kiri & kananku
Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai
Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa
Hari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku
Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum'at
kelamaan bacaannya Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan
betapa nikmat,
serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam
Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku
Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku
Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh
Hari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal
Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu
Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga
Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini
Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya
& ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud
kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan
Dia bisa hinggap kapanpun dia mau
¼ abad lebih aku lalai....
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku
Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku
Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat sajadahku.....
Amin....
Hari per-1, tahajudku tetinggal
Dan aku begitu sibuk akan duniaku
Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil
Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib
Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara
tv selesai
Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama
Hari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn
Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya
Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzz
Al-qur'an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan
terbata-bata
Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan
lancarnya aku menceritakan
Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku
Sorenya aku datang ke Selatan Jakarta dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku
Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yg ada disamping
kiri & kananku
Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai
Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa
Hari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku
Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum'at
kelamaan bacaannya Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan
betapa nikmat,
serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam
Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku
Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku
Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh
Hari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal
Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu
Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga
Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini
Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya
& ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud
kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan
Dia bisa hinggap kapanpun dia mau
¼ abad lebih aku lalai....
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku
Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku
Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat sajadahku.....
Amin....
10 KESALAH PAHAMAN TENTANG SUKSES
10 KESALAH PAHAMAN TENTANG SUKSES
Kesalahpahaman 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain. Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.
Kesalahpahaman 2--
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan. Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.
Kesalahpahaman 3--
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu. Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.
Kesalahpahaman 4--
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan. Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.
Kesalahpahaman 5--
Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses. Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.
Kesalahpahaman 6--
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses. Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.
Kesalahpahaman 7--
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.
Kesalahpahaman 8--
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya. Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.
Kesalahpahaman 9--
Sukses adalah tujuan. Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"
Kesalahpahaman 10--
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir. Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.
(diadaptasi dari "The Top 10 Misconceptions About Success", Jim M. Allen. CoachJim.com)
Kesalahpahaman 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain. Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.
Kesalahpahaman 2--
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan. Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.
Kesalahpahaman 3--
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu. Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.
Kesalahpahaman 4--
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan. Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.
Kesalahpahaman 5--
Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses. Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.
Kesalahpahaman 6--
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses. Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.
Kesalahpahaman 7--
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.
Kesalahpahaman 8--
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya. Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.
Kesalahpahaman 9--
Sukses adalah tujuan. Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"
Kesalahpahaman 10--
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir. Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.
(diadaptasi dari "The Top 10 Misconceptions About Success", Jim M. Allen. CoachJim.com)
10 JENIS ORANG ISLAM YANG KEJAM...
10 JENIS ORANG ISLAM YANG KEJAM...
Sufyan Atsauri berkata: "Sepuluh macam kekejaman ialah :
1. Seorang yang berdoa untuk dirinya sendiri,dan tidak mendoakan untuk anak-anaknya dan kaum mukmin.
2. Seorang yang pandai membaca Al-Quran, tetapi tiap harinya tidak membaca seratus ayat.
3. Seorang yang masuk masjid lalu keluar dan tidak sholat dua rakaat.
4. Seorang yang berjalan melalui kuburan kemudian tidak memberi salam dan mendoakan ahli kubur.
5. Seorang yang sampai di suatu kota pada hari Jum’at kemudian tidak sholat jemaah.
6. Seorang yang di daerahnya didatangi oleh seorang alim, tiba-tiba tidak mahu belajar apa-apa daripadanya.
7. Dua orang yang bertemu di perjalanan dan masing-masing tidak menanyakan nama kawannya itu.
8. Seorang diundang pada jamuan tiba-tiba tidak datang.
9. Pemuda yang tidak ada kerja dan tidak mau belajar ilmu dan kesopanan.
10. Seorang yang kenyang sedang dia tahu bahwa tetangganya lapar, tetapi tidak diberi dari makanannya itu.
Sufyan Atsauri berkata: "Sepuluh macam kekejaman ialah :
1. Seorang yang berdoa untuk dirinya sendiri,dan tidak mendoakan untuk anak-anaknya dan kaum mukmin.
2. Seorang yang pandai membaca Al-Quran, tetapi tiap harinya tidak membaca seratus ayat.
3. Seorang yang masuk masjid lalu keluar dan tidak sholat dua rakaat.
4. Seorang yang berjalan melalui kuburan kemudian tidak memberi salam dan mendoakan ahli kubur.
5. Seorang yang sampai di suatu kota pada hari Jum’at kemudian tidak sholat jemaah.
6. Seorang yang di daerahnya didatangi oleh seorang alim, tiba-tiba tidak mahu belajar apa-apa daripadanya.
7. Dua orang yang bertemu di perjalanan dan masing-masing tidak menanyakan nama kawannya itu.
8. Seorang diundang pada jamuan tiba-tiba tidak datang.
9. Pemuda yang tidak ada kerja dan tidak mau belajar ilmu dan kesopanan.
10. Seorang yang kenyang sedang dia tahu bahwa tetangganya lapar, tetapi tidak diberi dari makanannya itu.
Kamis, 05 Januari 2012
Importance of Islamic Education
Pentingnya pendidikan Islam mungkin dapat dipahami secara baik jika kita memperhatikan kembali wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Kata pertama dari wahyu itu adalah Iqra yang berarti bacalah. Iqra adalah sebuah kata yang sangat menyeluruh. Ayat ini telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan pengikut beliau untuk membaca, menulis, memahami, berbagi dan menyebarkan dengan segala kemampuan yang dimiliki.
Kata Iqra diulang-ulang pada wahyu pertama ini untuk menekankan bobot pentingnya. Adalah mengagumkan bahwa tujuan untuk mengajar dan proses pelajaran diucapkan sebagai ‘qalam’ atau pena. Sesungguhnya pena adalah suatu hadiah yang mulia dari Allah SWT kepada umat manusia. Hanya manusia yang mendapat perlakuan khusus, kemampuan dan kehormatan untuk menulis atau merekam pemikiran dan gagasan mereka. Dengan cara ini umat manusia bisa mendapat manfaat dari pekerjaan orang-orang yang sebelumnya atau mewariskan pekerjaan yang dicapai oleh mereka kepada generasi yang akan datang. Tentu saja rekaman audio dan video adalah alternatif yang modern dari suatu pena.
Bagaimana dan sejak kapankah proses belajar mengajar dimulai? Perlu diketahui bahwa perintah pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah memajukan pendidikan, seperti firman Allah SWT dalam surat Ash Shuara 214
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Oleh karenanya, proses pendidikan harus dimulai dari keluarga kita sendiri. Pada kenyataannya ini merupakan cara yang dilakukan oleh seluruh Nabi dan Rasul.
Allah SWT juga berfirman kepada orang beriman dalam Al Qur’an. At Tahrim 6
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Para Sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “ Bagaimana kita menyelamatkan keluarga kita dari api neraka?” Rasulullah SAW berkata “Dengan memberi mereka pendidikan Islam.”
Dengan cara yang sama Allah SWT telah memerintahkan kita dan keluarga kita untuk mendirikan Shalat dengan sangat teratur. Taha 132
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Karenanya pendidikan dan aplikasinya harus dimulai dari keluarga-keluarga kita sendiri. Pendidikan seperti in akan mempunyai akar yang kuat karena anggota keluarga lebih mengenali ketulusan kita dan usaha mulia lainnya. Orang luar bisa mencap kita orang munafik atau gila.
Apakah tujuan yang paling utama dari nenek moyang kita di dalam hidup mereka? Dalam rangka mencari suatu jawaban bagi pertanyaan ini, baiklah kita perhatikan peristiwa yang bersejarah ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangun rumah Allah SWT di Makkah. Setelah meyelesaikan tugas ini, mereka lebih merendahkan dirinya lagi dengan memanjatkan permohonan penting berikut ini, Al Baqarah 128
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Karenanya tujuan nenek moyang kita adalah untuk memperoleh pendidikan dan untuk mengajarkannya kepada anak-anak mereka sehingga mereka bisa bersungguh-sungguh bersikap tunduk kepada kehendak Allah SWT. Dalam rangka mencapai tujuan ini, mereka memanjatkan doa yang historis ini, Al Baqarah 129
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Allah SWT mengabulkan doa nenek moyang kita ini, dan mengirim Nabi Muhammad SAW untuk menyelesaikan tujuan pendidikan tersebut. Perhatikan bahwa diantara semua karunia Allah SWT kepada umat manusia, kebaikan yang paling utama adalah memberi petunjuk kepada hambaNya. Allah SWT mengingatkan kita atas kebaikan Nya di dalam surat Ali Imran 164
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Mari kita teliti bagaimana Nabi Muhammad SAW menyelesaikan sasaran dan tujuan ini. Nabi Muhammad SAW segera membangun Masjid Nabawi di Madinah setelah hijrahnya dari Makkah ke Madinah. Cukup lama masjid ini tidak beratap karena ketiadaan sumber daya keuangan. Para Sahabat Nabi Muhammad SAW shalat di dalam masjid ini di bawah panas terik dalam jangka waktu lama. Kita mencatat bahwa pada waktu itu suatu ruangan di Masjid itu telah dikhususkan untuk proses belajar mengajar. Banyak dari para Sahabat yang biasa tinggal di dalam ruangan ini siang dan malam. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan belajar mengajar saja tetapi juga makan dan tidur disana. Dr. Hameedullah menyebutnya sebagai suatu universitas pesantren.
Mari kita lihat bagaimana universitas ini beroperasi pada waktu itu. Kita mencatat bahwa sekali waktu Saad bin Ubada RA mengundang delapan puluh siswa dari universitas ini untuk makan malam. Ini menunjukkan bahwa banyaknya jumlah siswa adalah sangat besar dan bahwa orang-orang kaya membantu institusi dalam cara apapun yang mereka mampu. Kita juga mencatat bahwa Muadh bin Jabal RA memberikan terlalu banyak derma sehingga terlibat hutang. Oleh karena itu ia harus menjual rumahnya untuk membayar hutangnya. Sehingga ia tidak mempunyai tempat tinggal. Karena keadaan ini ia harus tinggal di universitas ini. Tetapi bagaimanapun, ia tidak ingin menjadi beban yang tak perlu bagi universitas itu. Kemudian ia ditugaskan untuk menjaga buah kurma yang belum matang, sumbangan dari penduduk bagi universitas. Karenanya, semua orang harus membantu kegiatan institusi dalam bentuk apapun yang bisa dilakukan. Kita bisa tambahkan di sini bahwa ketika Muadh bin Jabal dilantik menjadi gubernur Yaman, ia diperintah oleh Nabi SAW untuk membangun lembaga pendidikan di tiap kota dan memastikan bahwa lembaga-lembaga ini berjalan dengan produktif.
Para siswa tinggal di universitas hanya karena kecintaan mereka untuk belajar. Sebagai contoh, Abdullah bin Umar RA menganggap waktu perjalanan antara Quba dan Madinah terbuang sia-sia, maka ia lebih menyukai untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dan tinggal di pesantren. Terakhir kita mencatat bahwa ada seorang siswa dari universitas ini yang meninggal. Mereka menemukan dua dinar di dalam saku nya ketika pemakamannya sedang disiapkan. Nabi SAW memperlihatkan suatu tanda kejengkelan dan berkata: “Seseorang yang memiliki dua dinar tidak layak makan cuma-cuma di dalam universitas ini.” Ini memberi pengajaran kepada kita bahwa tak seorangpun diijinkan untuk mengambil keuntungan yang tak pantas dari berbagai fasilitas institusi pendidikan. Ini memberi kita beberapa masukan tentang cara berfungsinya universitas pesantren pada masa Nabi SAW. Semua rincian ini didapat dari kuliah Dr. Hameedullah di Universitas Bahawalpur.
Suatu hari Nabi SAW keluar dari rumahnya menuju masjid dan menemukan dua kelompok sahabatnya di dalam masjid itu. Satu kelompok sibuk berdzikir kepada Allah SWT, sedang kelompok yang lain sibuk dengan proses belajar mengajar antara mereka. Kedua kelompok sungguh-sungguh melakukan kegiatan yang menguntungkan. Tetapi bagaimanapun, Nabi Muhammad SAW lebih menyukai untuk bergabung dengan orang yang sedang dalam proses belajar mengajar. Hal ini menunjukan kecintaan dan pentingnya pendidikan Islam di dalam pikiran beliau. Beliau biasa bersabda : “Aku tidak ingin ada hari berlalu dimana aku tidak mempelajari sesuatu hal yang baru.”
Para siswa di universitas pesantren Madinah ini disebut As’Hab-us-Suffah.
Kita lebih lanjut mencatat bahwa ketika perang Badar beberapa tawanan perang tidak bisa membayar tebusan. Kemudian Nabi SAW meminta masing-masing di antara mereka untuk memberi pengajaran kepada sedikitnya sepuluh Orang Islam sebagai tebusan mereka. Beliau tidak ragu-ragu menggunakan guru non Muslim ketika jumlah guru Islam tidak tersedia.
Pada suatu ketika seorang anak laki-laki berusia 9 tahun sedang menaiki punggung Nabi SAW. Nabi SAW bersabda kepadanya: “Hai anak muda, beri aku kesempatan memberimu beberapa kata-kata bijak. Jika segala sesuatu dan semua orang berkumpul bersama-sama untuk memberi manfaat bagimu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat bagi kamu kecuali apa yang Allah SWT telah tetapkan untukmu. Begitu pula jika segala sesuatu dan semua orang berkumpul untuk merugikan kamu, mereka tidak akan bisa merugikan kamu kecuali apa yang Allah SWT telah tuliskan untukmu.”
Kita heran mengapa Nabi Muhammad SAW memberi pengajaran kata-kata bijak setinggi itu kepada anak semuda dia. Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW benar-benar memahami potensi para pemuda. Nama anak muda ini adalah Abdullah bin Abbas RA. Sebagai hasil ajaran ini, Abdullah menjadi salah satu anggota dewan penasehat bagi Umar RA ketika Kekalifahan Islam telah menyebar luas ke beberapa benua. Anak muda inilah yang menjalankan urusan harian dari Kekalifahan Islam yang sangat besar ini. Anggota lain dari dewan penasehat ini adalah para Sahabat Nabi Muhammad SAW yang jauh lebih tua. Mereka merasa canggung dengan adanya anak muda ini sebagai rekan mereka. Umar RA merasakan keberatan ini. Kemudian ia bertanya kepada mereka “Apa pendapat anda tentang situasi ketika Surat An Nasr diturunkan?”
Mereka menjawab bahwa itu menyangkut penaklukan Makkah ketika sejumlah besar orang-orang masuk agama Islam. Umar RA menanyakan pertanyaan yang sama kepada Abdullah bin Abbas RA. Abdullah berkata: “Aku berpikir itu mengingatkan bahwa misi dari Nabi Muhammad SAW telah hampir terpenuhi dan beliau akan meninggalkan kita.” Umar RA menjawab: “Aku berpendapat yang sama.” Kita lebih lanjut mencatat bahwa ini adalah surat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi SAW secara lengkap dan setelah turunnya wahyu ini Nabi SAW mengubah dzikirnya dari:
menjadi:
Aisyah bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau merubah dzikirmu?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku telah diperintah untuk melakukannya.” Dan kemudian beliau mengulang surat An Nasr. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa potensi para pemuda adalah luar biasa dan jika digunakan dengan baik, hal itu dapat menciptakan keajaiban.
Nabi Muhammad SAW juga mengutamakan pendidikan Islam bagi para wanita. Kita mencatat suatu pengamatan menarik di sebuah buku yang paling tua dalam sejarah yang disebut Al Maghazy dari Ibnu Ishaq. Menurut buku ini yang baru saja diterbitkan di Marocco, Nabi Muhammad SAW biasa mengajarkan ayat-ayat yang turun kepada suatu kelompok laki-laki segera setelah ia menerimanya. Kemudian ia akan mengajarkannya kepada suatu kelompok wanita juga, menandakan pentingnya arti pendidikan Islam bagi para wanita. Ada beberapa perkataan Muhammad SAW yang mengacu pada hal ini. Salah satu dari Hadits menyebutkan, “Siapapun yang mempunyai tiga putri dan bersabar di dalam membesarkan mereka. Itu akan menjadi suatu perlindungan untuk dia dari hukuman api neraka.” (Bukhari)
Hadits kedua menyatakan, “Siapapun mempunyai tiga putri yang diberinya tempat berteduh, dukungan, dan mengasihi mereka, surga adalah pahala yang dijanjikan untuk nya.” (Bukhari)
Pendidikan Islam selalu menjadi prioritas utama di dalam pikiran pemuka-pemuka Islam, bahkan di dalam keadaan yang sangat buruk. Imam Shafi’i menjadi yatim piatu ketika ia masih kecil. Ibunya meninggalkan dia dengan saudaranya karena tidak sanggup membesarkannya dan ibunya kembali kepada orang tuanya.
Imam Shafi’i menghafalkan keseluruhan Al Qur’an ketika ia baru berusia tujuh tahun. Ia juga mendapat pendidikan Islam lainnya. Ia pindah ke Makkah dengan pamannya dan mendapat pendidikan tambahan Islam dari ulama terkemuka waktu itu. Kemudian ia ingin menjadi murid dari Imam Malik di Madinah. Ia tidak punya uang untuk biaya perjalanan dan kebutuhan pribadi. Ia memperoleh suatu surat rekomendasi dari guru nya di Makkah untuk permohonan beasiswa. Imam Shafi’i menyerahkan surat ini kepada Imam Malik yang membacanya dan kemudian menjadi marah, “Apakah kamu berpikir pendidikan Islam hanya mengandalkan surat rekomendasi saja.” Tetapi bagaimanapun Imam Malik melihat bakat dari anak muda ini. Ia tidak saja hanya menerima sebagai siswanya tetapi juga melengkapi segala kebutuhan nya dari sakunya sendiri. Imam Shafi’i membuktikan dirinya berbeda di antara para siswa Imam Malik lainnya.
Dengan cara yang sama, kita temukan suatu situasi yang menarik pada Imam As Sarakhsy yang hidup di abad kelima setelah Hijrah. Ia adalah seorang tenaga ahli dalam masalah hukum Islam dan sangat berani dan jujur. Para penguasa pada masanya memaksakan pajak yang tak adil kepada rakyat. Sesungguhnya para penguasa itu memboroskan uang dan ingin membebani rakyat lebih banyak lagi. Imam As Sarakhsy mengajarkan rakyat untuk tidak membayar pajak itu. Penguasa tidak bisa membunuh dia, tetapi mereka memenjarakan Imam di dalam suatu sumur mati. Imam tinggal selama empat belas tahun di dalam sumur itu. Ia mendapat ijin dari pengawalnya untuk mnerima kunjungan para siswanya untuk duduk di tepi sumur. Imam mendiktekan kepada para siswanya penjelasan dari buku As Sayr Al Kabeer yang ditulis oleh seorang siswa Imam Abu Hanifa. Penjelasan ini ditulis dalam empat jilid. Dengan cara yang sama, Imam As Sarakhsy mendiktekan secara lisan dan membukukan Kitab Al Mabsoot dalam tigapuluh jilid. Lusinan buku lain juga ditulis dari sumur mati ini oleh Imam As Sarakhsy.
Kita mengetahui bahwa Nabi Yusuf biasa memberikan pendidikan kepada para narapidana lainnya ketika ia dipenjara. Karenanya proses belajar mengajar harus terus-menerus dilakukan.
Seharusnya, suatu pertanyaan timbul di benak kita: “Apa yang kita peroleh dengan menuntut dan menyampaikan pendidikan Islam?” Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an Ath Thur 21
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Dengan kata lain, jika anak-anak ternyata masuk ke surga dengan tingkat yang lebih rendah dibanding orang tua mereka, kemudian orang tua berharap bahwa keseluruhan keluarga dipersatukan didalam surga. Allah SWT berjanji disini untuk mempersatukan mereka, dengan syarat bahwa anak-anak mempunyai iman sebaik orang tua mereka dan bahwa mereka mengikuti jejak orang tua mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebagian orang akan mendapatkan diri mereka di dalam tingkatan surga yang sangat tinggi. Mereka ingin tahu bagaimana mereka bisa mencapai tingkatan sangat tinggi ini, karena amal perbuatan mereka bukanlah yang sangat tertinggi.
Allah SWT akan berkata kepada mereka, ‘Kamu meninggalkan anak-anak yang selalu berdoa untukmu, dengan setiap doa yang mereka panjatkan, tingkatanmu di surga naik lebih tinggi dan semakin tinggi.’” (Musnad Ahmad)
Sumber: http://www.imtiazahmad.com/reminders/in_pentingnya_pendidikan_islam.htm
Kata Iqra diulang-ulang pada wahyu pertama ini untuk menekankan bobot pentingnya. Adalah mengagumkan bahwa tujuan untuk mengajar dan proses pelajaran diucapkan sebagai ‘qalam’ atau pena. Sesungguhnya pena adalah suatu hadiah yang mulia dari Allah SWT kepada umat manusia. Hanya manusia yang mendapat perlakuan khusus, kemampuan dan kehormatan untuk menulis atau merekam pemikiran dan gagasan mereka. Dengan cara ini umat manusia bisa mendapat manfaat dari pekerjaan orang-orang yang sebelumnya atau mewariskan pekerjaan yang dicapai oleh mereka kepada generasi yang akan datang. Tentu saja rekaman audio dan video adalah alternatif yang modern dari suatu pena.
Bagaimana dan sejak kapankah proses belajar mengajar dimulai? Perlu diketahui bahwa perintah pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah memajukan pendidikan, seperti firman Allah SWT dalam surat Ash Shuara 214
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Oleh karenanya, proses pendidikan harus dimulai dari keluarga kita sendiri. Pada kenyataannya ini merupakan cara yang dilakukan oleh seluruh Nabi dan Rasul.
Allah SWT juga berfirman kepada orang beriman dalam Al Qur’an. At Tahrim 6
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Para Sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “ Bagaimana kita menyelamatkan keluarga kita dari api neraka?” Rasulullah SAW berkata “Dengan memberi mereka pendidikan Islam.”
Dengan cara yang sama Allah SWT telah memerintahkan kita dan keluarga kita untuk mendirikan Shalat dengan sangat teratur. Taha 132
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Karenanya pendidikan dan aplikasinya harus dimulai dari keluarga-keluarga kita sendiri. Pendidikan seperti in akan mempunyai akar yang kuat karena anggota keluarga lebih mengenali ketulusan kita dan usaha mulia lainnya. Orang luar bisa mencap kita orang munafik atau gila.
Apakah tujuan yang paling utama dari nenek moyang kita di dalam hidup mereka? Dalam rangka mencari suatu jawaban bagi pertanyaan ini, baiklah kita perhatikan peristiwa yang bersejarah ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangun rumah Allah SWT di Makkah. Setelah meyelesaikan tugas ini, mereka lebih merendahkan dirinya lagi dengan memanjatkan permohonan penting berikut ini, Al Baqarah 128
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Karenanya tujuan nenek moyang kita adalah untuk memperoleh pendidikan dan untuk mengajarkannya kepada anak-anak mereka sehingga mereka bisa bersungguh-sungguh bersikap tunduk kepada kehendak Allah SWT. Dalam rangka mencapai tujuan ini, mereka memanjatkan doa yang historis ini, Al Baqarah 129
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Allah SWT mengabulkan doa nenek moyang kita ini, dan mengirim Nabi Muhammad SAW untuk menyelesaikan tujuan pendidikan tersebut. Perhatikan bahwa diantara semua karunia Allah SWT kepada umat manusia, kebaikan yang paling utama adalah memberi petunjuk kepada hambaNya. Allah SWT mengingatkan kita atas kebaikan Nya di dalam surat Ali Imran 164
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Mari kita teliti bagaimana Nabi Muhammad SAW menyelesaikan sasaran dan tujuan ini. Nabi Muhammad SAW segera membangun Masjid Nabawi di Madinah setelah hijrahnya dari Makkah ke Madinah. Cukup lama masjid ini tidak beratap karena ketiadaan sumber daya keuangan. Para Sahabat Nabi Muhammad SAW shalat di dalam masjid ini di bawah panas terik dalam jangka waktu lama. Kita mencatat bahwa pada waktu itu suatu ruangan di Masjid itu telah dikhususkan untuk proses belajar mengajar. Banyak dari para Sahabat yang biasa tinggal di dalam ruangan ini siang dan malam. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan belajar mengajar saja tetapi juga makan dan tidur disana. Dr. Hameedullah menyebutnya sebagai suatu universitas pesantren.
Mari kita lihat bagaimana universitas ini beroperasi pada waktu itu. Kita mencatat bahwa sekali waktu Saad bin Ubada RA mengundang delapan puluh siswa dari universitas ini untuk makan malam. Ini menunjukkan bahwa banyaknya jumlah siswa adalah sangat besar dan bahwa orang-orang kaya membantu institusi dalam cara apapun yang mereka mampu. Kita juga mencatat bahwa Muadh bin Jabal RA memberikan terlalu banyak derma sehingga terlibat hutang. Oleh karena itu ia harus menjual rumahnya untuk membayar hutangnya. Sehingga ia tidak mempunyai tempat tinggal. Karena keadaan ini ia harus tinggal di universitas ini. Tetapi bagaimanapun, ia tidak ingin menjadi beban yang tak perlu bagi universitas itu. Kemudian ia ditugaskan untuk menjaga buah kurma yang belum matang, sumbangan dari penduduk bagi universitas. Karenanya, semua orang harus membantu kegiatan institusi dalam bentuk apapun yang bisa dilakukan. Kita bisa tambahkan di sini bahwa ketika Muadh bin Jabal dilantik menjadi gubernur Yaman, ia diperintah oleh Nabi SAW untuk membangun lembaga pendidikan di tiap kota dan memastikan bahwa lembaga-lembaga ini berjalan dengan produktif.
Para siswa tinggal di universitas hanya karena kecintaan mereka untuk belajar. Sebagai contoh, Abdullah bin Umar RA menganggap waktu perjalanan antara Quba dan Madinah terbuang sia-sia, maka ia lebih menyukai untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dan tinggal di pesantren. Terakhir kita mencatat bahwa ada seorang siswa dari universitas ini yang meninggal. Mereka menemukan dua dinar di dalam saku nya ketika pemakamannya sedang disiapkan. Nabi SAW memperlihatkan suatu tanda kejengkelan dan berkata: “Seseorang yang memiliki dua dinar tidak layak makan cuma-cuma di dalam universitas ini.” Ini memberi pengajaran kepada kita bahwa tak seorangpun diijinkan untuk mengambil keuntungan yang tak pantas dari berbagai fasilitas institusi pendidikan. Ini memberi kita beberapa masukan tentang cara berfungsinya universitas pesantren pada masa Nabi SAW. Semua rincian ini didapat dari kuliah Dr. Hameedullah di Universitas Bahawalpur.
Suatu hari Nabi SAW keluar dari rumahnya menuju masjid dan menemukan dua kelompok sahabatnya di dalam masjid itu. Satu kelompok sibuk berdzikir kepada Allah SWT, sedang kelompok yang lain sibuk dengan proses belajar mengajar antara mereka. Kedua kelompok sungguh-sungguh melakukan kegiatan yang menguntungkan. Tetapi bagaimanapun, Nabi Muhammad SAW lebih menyukai untuk bergabung dengan orang yang sedang dalam proses belajar mengajar. Hal ini menunjukan kecintaan dan pentingnya pendidikan Islam di dalam pikiran beliau. Beliau biasa bersabda : “Aku tidak ingin ada hari berlalu dimana aku tidak mempelajari sesuatu hal yang baru.”
Para siswa di universitas pesantren Madinah ini disebut As’Hab-us-Suffah.
Kita lebih lanjut mencatat bahwa ketika perang Badar beberapa tawanan perang tidak bisa membayar tebusan. Kemudian Nabi SAW meminta masing-masing di antara mereka untuk memberi pengajaran kepada sedikitnya sepuluh Orang Islam sebagai tebusan mereka. Beliau tidak ragu-ragu menggunakan guru non Muslim ketika jumlah guru Islam tidak tersedia.
Pada suatu ketika seorang anak laki-laki berusia 9 tahun sedang menaiki punggung Nabi SAW. Nabi SAW bersabda kepadanya: “Hai anak muda, beri aku kesempatan memberimu beberapa kata-kata bijak. Jika segala sesuatu dan semua orang berkumpul bersama-sama untuk memberi manfaat bagimu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat bagi kamu kecuali apa yang Allah SWT telah tetapkan untukmu. Begitu pula jika segala sesuatu dan semua orang berkumpul untuk merugikan kamu, mereka tidak akan bisa merugikan kamu kecuali apa yang Allah SWT telah tuliskan untukmu.”
Kita heran mengapa Nabi Muhammad SAW memberi pengajaran kata-kata bijak setinggi itu kepada anak semuda dia. Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW benar-benar memahami potensi para pemuda. Nama anak muda ini adalah Abdullah bin Abbas RA. Sebagai hasil ajaran ini, Abdullah menjadi salah satu anggota dewan penasehat bagi Umar RA ketika Kekalifahan Islam telah menyebar luas ke beberapa benua. Anak muda inilah yang menjalankan urusan harian dari Kekalifahan Islam yang sangat besar ini. Anggota lain dari dewan penasehat ini adalah para Sahabat Nabi Muhammad SAW yang jauh lebih tua. Mereka merasa canggung dengan adanya anak muda ini sebagai rekan mereka. Umar RA merasakan keberatan ini. Kemudian ia bertanya kepada mereka “Apa pendapat anda tentang situasi ketika Surat An Nasr diturunkan?”
Mereka menjawab bahwa itu menyangkut penaklukan Makkah ketika sejumlah besar orang-orang masuk agama Islam. Umar RA menanyakan pertanyaan yang sama kepada Abdullah bin Abbas RA. Abdullah berkata: “Aku berpikir itu mengingatkan bahwa misi dari Nabi Muhammad SAW telah hampir terpenuhi dan beliau akan meninggalkan kita.” Umar RA menjawab: “Aku berpendapat yang sama.” Kita lebih lanjut mencatat bahwa ini adalah surat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi SAW secara lengkap dan setelah turunnya wahyu ini Nabi SAW mengubah dzikirnya dari:
menjadi:
Aisyah bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau merubah dzikirmu?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku telah diperintah untuk melakukannya.” Dan kemudian beliau mengulang surat An Nasr. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa potensi para pemuda adalah luar biasa dan jika digunakan dengan baik, hal itu dapat menciptakan keajaiban.
Nabi Muhammad SAW juga mengutamakan pendidikan Islam bagi para wanita. Kita mencatat suatu pengamatan menarik di sebuah buku yang paling tua dalam sejarah yang disebut Al Maghazy dari Ibnu Ishaq. Menurut buku ini yang baru saja diterbitkan di Marocco, Nabi Muhammad SAW biasa mengajarkan ayat-ayat yang turun kepada suatu kelompok laki-laki segera setelah ia menerimanya. Kemudian ia akan mengajarkannya kepada suatu kelompok wanita juga, menandakan pentingnya arti pendidikan Islam bagi para wanita. Ada beberapa perkataan Muhammad SAW yang mengacu pada hal ini. Salah satu dari Hadits menyebutkan, “Siapapun yang mempunyai tiga putri dan bersabar di dalam membesarkan mereka. Itu akan menjadi suatu perlindungan untuk dia dari hukuman api neraka.” (Bukhari)
Hadits kedua menyatakan, “Siapapun mempunyai tiga putri yang diberinya tempat berteduh, dukungan, dan mengasihi mereka, surga adalah pahala yang dijanjikan untuk nya.” (Bukhari)
Pendidikan Islam selalu menjadi prioritas utama di dalam pikiran pemuka-pemuka Islam, bahkan di dalam keadaan yang sangat buruk. Imam Shafi’i menjadi yatim piatu ketika ia masih kecil. Ibunya meninggalkan dia dengan saudaranya karena tidak sanggup membesarkannya dan ibunya kembali kepada orang tuanya.
Imam Shafi’i menghafalkan keseluruhan Al Qur’an ketika ia baru berusia tujuh tahun. Ia juga mendapat pendidikan Islam lainnya. Ia pindah ke Makkah dengan pamannya dan mendapat pendidikan tambahan Islam dari ulama terkemuka waktu itu. Kemudian ia ingin menjadi murid dari Imam Malik di Madinah. Ia tidak punya uang untuk biaya perjalanan dan kebutuhan pribadi. Ia memperoleh suatu surat rekomendasi dari guru nya di Makkah untuk permohonan beasiswa. Imam Shafi’i menyerahkan surat ini kepada Imam Malik yang membacanya dan kemudian menjadi marah, “Apakah kamu berpikir pendidikan Islam hanya mengandalkan surat rekomendasi saja.” Tetapi bagaimanapun Imam Malik melihat bakat dari anak muda ini. Ia tidak saja hanya menerima sebagai siswanya tetapi juga melengkapi segala kebutuhan nya dari sakunya sendiri. Imam Shafi’i membuktikan dirinya berbeda di antara para siswa Imam Malik lainnya.
Dengan cara yang sama, kita temukan suatu situasi yang menarik pada Imam As Sarakhsy yang hidup di abad kelima setelah Hijrah. Ia adalah seorang tenaga ahli dalam masalah hukum Islam dan sangat berani dan jujur. Para penguasa pada masanya memaksakan pajak yang tak adil kepada rakyat. Sesungguhnya para penguasa itu memboroskan uang dan ingin membebani rakyat lebih banyak lagi. Imam As Sarakhsy mengajarkan rakyat untuk tidak membayar pajak itu. Penguasa tidak bisa membunuh dia, tetapi mereka memenjarakan Imam di dalam suatu sumur mati. Imam tinggal selama empat belas tahun di dalam sumur itu. Ia mendapat ijin dari pengawalnya untuk mnerima kunjungan para siswanya untuk duduk di tepi sumur. Imam mendiktekan kepada para siswanya penjelasan dari buku As Sayr Al Kabeer yang ditulis oleh seorang siswa Imam Abu Hanifa. Penjelasan ini ditulis dalam empat jilid. Dengan cara yang sama, Imam As Sarakhsy mendiktekan secara lisan dan membukukan Kitab Al Mabsoot dalam tigapuluh jilid. Lusinan buku lain juga ditulis dari sumur mati ini oleh Imam As Sarakhsy.
Kita mengetahui bahwa Nabi Yusuf biasa memberikan pendidikan kepada para narapidana lainnya ketika ia dipenjara. Karenanya proses belajar mengajar harus terus-menerus dilakukan.
Seharusnya, suatu pertanyaan timbul di benak kita: “Apa yang kita peroleh dengan menuntut dan menyampaikan pendidikan Islam?” Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an Ath Thur 21
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Dengan kata lain, jika anak-anak ternyata masuk ke surga dengan tingkat yang lebih rendah dibanding orang tua mereka, kemudian orang tua berharap bahwa keseluruhan keluarga dipersatukan didalam surga. Allah SWT berjanji disini untuk mempersatukan mereka, dengan syarat bahwa anak-anak mempunyai iman sebaik orang tua mereka dan bahwa mereka mengikuti jejak orang tua mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebagian orang akan mendapatkan diri mereka di dalam tingkatan surga yang sangat tinggi. Mereka ingin tahu bagaimana mereka bisa mencapai tingkatan sangat tinggi ini, karena amal perbuatan mereka bukanlah yang sangat tertinggi.
Allah SWT akan berkata kepada mereka, ‘Kamu meninggalkan anak-anak yang selalu berdoa untukmu, dengan setiap doa yang mereka panjatkan, tingkatanmu di surga naik lebih tinggi dan semakin tinggi.’” (Musnad Ahmad)
Sumber: http://www.imtiazahmad.com/reminders/in_pentingnya_pendidikan_islam.htm
Rabu, 04 Januari 2012
Tujuan Pendidikan Dalam Islam
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral.
Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.
Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar” dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.
Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.
Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.
Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-indidivu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan ummat manusia secara keseluruhan. Disebabkan manusia merupakan fokus utama pendidikan, maka seyogianyalah institusi-institusi pendidikan memfokuskan kepada substansi kemanusiaan, membuat sistem yang mendukung kepada terbentuknya manusia yang baik, yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan.
Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa. Oleh sebab itu, sebuah institusi pendidikan bukan saja memproduksi anak didik yang akan memiliki kemakmuran materi, namun juga yang lebih penting adalah melahirkan individu-individu yang memiliki diri yang baik sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta bermanfaat bagi ummat dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Institusi pendidikan perlu mengarahkan anak didik supaya mendisiplinkan akal dan jiwanya, memiliki akal yang pintar dan sifat-sifat dan jiwa yang baik, melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, memiliki pengetahuan yang luas, yang akan menjaganya dari kesalahan-kesalahan, serta memiliki hikmah dan keadilan.
Oleh sebab itu juga, ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam institusi pendidikan seyogianya dibangun di atas Wahyu yang membimbing kehidupan manusia. Kurikulum yang ada perlu mencerminkan memiliki integritas ilmu dan amal, fikr dan zikr, akal dan hati. Pandangan hidup Islam perlu menjadi paradigma anak didik dalam memandang kehidupan.
Dalam Islam, Realitas dan Kebenaran bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran didasarkan kepada dunia yang nampak dan tidak nampak; mencakup dunia dan akhirat, yang aspek dunia harus dikaitkan dengan aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam).
Jadi, institusi pendidikan Islam perlu mengisoliir pandangan hidup sekular-liberal yang tersurat dan tersirat dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan modern saat ini, dan sekaligus memasukkan unsur-unsur Islam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant. Dengan perubahan-perubahan kurikulum, lingkungan belajar yang agamis, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam, maka institusi-institusi pendidikan Islam akan membebaskan manusia dari kehidupan sekular menuju kehidupan yang berlandaskan kepada ajaran Islam.
Institusi–institusi pendidikan sepatutnya melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang dengan ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Tuhannya, serta memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan yang lain dalam masyarakatnya, dan berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang beradab.
Sumber : http://www.sabili.co.id/tafakur/tujuan-pendidikan-dalam-islam
Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.
Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar” dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.
Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.
Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.
Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-indidivu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan ummat manusia secara keseluruhan. Disebabkan manusia merupakan fokus utama pendidikan, maka seyogianyalah institusi-institusi pendidikan memfokuskan kepada substansi kemanusiaan, membuat sistem yang mendukung kepada terbentuknya manusia yang baik, yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan.
Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa. Oleh sebab itu, sebuah institusi pendidikan bukan saja memproduksi anak didik yang akan memiliki kemakmuran materi, namun juga yang lebih penting adalah melahirkan individu-individu yang memiliki diri yang baik sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta bermanfaat bagi ummat dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Institusi pendidikan perlu mengarahkan anak didik supaya mendisiplinkan akal dan jiwanya, memiliki akal yang pintar dan sifat-sifat dan jiwa yang baik, melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, memiliki pengetahuan yang luas, yang akan menjaganya dari kesalahan-kesalahan, serta memiliki hikmah dan keadilan.
Oleh sebab itu juga, ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam institusi pendidikan seyogianya dibangun di atas Wahyu yang membimbing kehidupan manusia. Kurikulum yang ada perlu mencerminkan memiliki integritas ilmu dan amal, fikr dan zikr, akal dan hati. Pandangan hidup Islam perlu menjadi paradigma anak didik dalam memandang kehidupan.
Dalam Islam, Realitas dan Kebenaran bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran didasarkan kepada dunia yang nampak dan tidak nampak; mencakup dunia dan akhirat, yang aspek dunia harus dikaitkan dengan aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam).
Jadi, institusi pendidikan Islam perlu mengisoliir pandangan hidup sekular-liberal yang tersurat dan tersirat dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan modern saat ini, dan sekaligus memasukkan unsur-unsur Islam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant. Dengan perubahan-perubahan kurikulum, lingkungan belajar yang agamis, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam, maka institusi-institusi pendidikan Islam akan membebaskan manusia dari kehidupan sekular menuju kehidupan yang berlandaskan kepada ajaran Islam.
Institusi–institusi pendidikan sepatutnya melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang dengan ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Tuhannya, serta memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan yang lain dalam masyarakatnya, dan berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang beradab.
Sumber : http://www.sabili.co.id/tafakur/tujuan-pendidikan-dalam-islam
Langganan:
Postingan (Atom)