Senin, 16 Januari 2012

Konsep Mapping

MAKALAH STRATEGI PEMBELAJARAN PAI


Konsep Mapping


 


 


Disusun oleh kelompok IV:


Alif Cahyo Aji (20090720045)


M Ariyandi (20090720037)


Andi Atma Negara (20090720008 )


Aditya Purnomo (20090720019 )


Nizar Zainuri (20090720038)


 


FAKULTAS AGAMA ISLAM


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


PERIODE 2011/2012


A.     Pendahuluan

Belajar merupakan suatu kegiatan yang berproses karena dalam belajar terjadi proses perubahan mental terhadap pengetahuan sebelumnya yang dialami mahasiswa. Perubahan mental dalam bentuk kognitif, afektif dan psikomotor ditunjukkan dengan adanya kematangan dalam pengetahuan, yang mempengaruhi prilaku dan penguasaan suatu ketrampilan yang sejalan dengan program pendidikan yang dialami mahasiswa tersebut. Dengan kemampuan belajar diharapkan mahasiswa menjadi tenaga profesional yang mampu menyesuaikan diri dan mengikuti perubahan dan perkembangan masyarakat yang semakin cepat. Bermodalkan kemampuan tersebut mahasiswa belajar menerima pengalaman-pengetahuan (reseptive learning), memodifikasi tingkah lakunya (behavioristic learning), dan melaksanakan proses belajar secara tuntas (mastery learning) untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditargetkan.

Proses pembelajaran merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mengarahkan mahasiswa untuk dapat mencapai belajar penuh makna. Untuk memperoleh belajar penuh makna tersebut sebagaimana yang dinyatakan dalam teori Ausubel dalam Novak (1984: 7) to learn meaningfully, individuals must choose to relate new knowledge to relevant concepts and propositions they already know. Hal ini berarti untuk memperoleh belajar penuh makna seseorang harus menghubungkan pengetahuan yang baru tersebut dengan konsep yang relevan dari pengetahuan sebelumnya.

Selama proses pembelajaran pada mata kuliah ini yang telah dilakukan dosen sangat jarang melibatkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki mahasiswa. Dosen lebih banyak mengejarkan target pencapaian materi dengan melakukan diskusi dan presentasi yang sangat minimal sekali pemaknaan yang didapat oleh mahasiswa. Hal ini disebabkan banyaknya konsep-konsep yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa dan untuk pencapaian target dari materi perkuliahan sehingga belajar penuh makna sangat sulit sekali dialami oleh mahasiswa.  Sehingga strategi yang digunakan dosen selama ini berupa diskusi dan presentasi kurang menujukkan hasil, materi-materi perkuliahan sering hanya berpatokan pada materi saat itu saja dan berakibat diskusi atau presentasi yang dilakukan mahasiswa sering menyimpang dan keluar dari konteks mata kuliah. Kegiatan ini berdampak pada konsep-konsep yang sering menyimpang dari tujuan pokok materi, dan pengetahuan mahasiwa terhadap materi tidak lagi terfokus pada initi dari materi. Namun hal ini tidak dapat dihindari karena banyaknya materi yang harus diberikan sebagai bekal mahasiwa, menuntut satu strategi yang dapat memenuhi target dalam sejumlah materi tersebut. Pemenuhan target materi tersebut berdampak pada kurang berhasilnya program pembelajaran yang mengarah pada kompetensi dasar mahasiswa sebagai calon seorang guru.

Untuk itu peneliti merasa perlu satu pemecahan agar mahasiswa dapat meraih belajar penuh makna. Dibutuhkan suatu strategi yang tepat sehingga terjadi transfer of learning dalam pembelajaran.  Strategi pembelajaran merupakan suatu pola interaksi dosen dan mahasiswa yang dimaksudkan untuk menciptakan proses pembelajaran dan mencapai tujuan dari pembelajaran tersebut. Strategi pembelajaran yang dilaksanakan dalam perkuliahan tatap muka sering digunakan metode diskusi dan presentasi. Pemilihan penggunaan metode tersebut dilakukan pada hampir kesemua mata kuliah yang bersifat teori dan penanaman konsep. Beberapa hambatan yang ditemui dalam proses pembelajaran selama ini dengan menggunakan metode diskusi dan presentasi konsentrasi mahasiswa menurun, diskusi berkembang kearah yang sangat jauh dari pokok materi, pertanyaan dan pemecahan solusi yang ditawarkan sering tidak memenuhi ketentuan dari pokok materi dan konsep-konsep materi yang diharapkan dipahami mahasiswa belum tercapai. Selain permasalahan tersebut juga ditemui rendahnya motivasi mahasiswa membuat tugas individu. Dalam presentasi mahasiswa belum menguasai konsep yang jelas terhadap materi yang disampaikannya.

Selain permasalahan-permasalahan berkaitan dengan metode yang digunakan juga ditemui kreativitas berfikir mahasiswa dalam proses pembelajaran yang sangat kecil. Hal ini ditunjukkan dengan minimumnya keterlibatan mahasiswa dalam proses pemecahan masalah dari persoalan-persoalan yang ditawarkan dalam diskusi, dan kurangnya kemampuan mahasiswa untuk berusaha mengkaitkan pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya sebagai akibat belum tercapainya pemahaman konsep dari materi. Kurangnya kreativitas berfikir mahasiwa juga dilihat dari kecilnya usaha mahasiwa untuk mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan materi perkuliahan, sehingga dalam perkuliahan sangat jarang keluar ide-ide yang imajinatif dari mahasiswa dalam proses diskusi. Sebagai akibat dari pertahanan ego dari tiap mahasiswa dalam mempertahankan pendapat sering menimbulkan percekcokan pendapat dan berakibat diskusi menjadi rusak.

Penggunaan strategi perkuliahan yang digunakan selama ini selain menimbulkan permasalahan rendahnya pemahaman konsep materi, juga mengakibatkan kreativitas berfikir mahasiswa menurun yang berakibat kepada hasil belajar mahasiswa yang rendah. Beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan adalah menerapkan satu metode yang tepat untuk dapat meningkatkan kreativitas berfikir mahasiswa. Salah satu pemecahan yang akan digunakan peneliti dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan adalah dengan menerapkan peta konsep (concept mapping) yaitu suatu alat pengajaran yang dimaksudkan untuk mengarahkan proses pemikiran mahasiswa agar menjadi lebih bermakna.

 

B.     Teori

1.      Kreativitas Berfikir dalam Proses Pembelajaran

 Berfikir kreatif merupakan suatu kegiatan mental yang menyelesaikan persoalan, mengajukan metode, gagasan atau memberikan pandangan baru terhadap suatu persoalan atau gagasan lama. Seperti yang dinyatakan oleh Amin (1980: 20) bahwa:

Kreativitas adalah suatu pola berfikir atau ide yang timbul secara spontan dan imajinatif, yang mencirikan hasil artistik penemuan ilmiah dan penciptaan baru, baik sama sekali baru bagi dunia ilmiah maupun secara relatif baru bagi individu sendiri, walaupun mungkin orang lain telah menemukan atau memproduksi sebelumnya.

Ciri-ciri kreatif yang dapat ditunjukkan dalam diri seseorang yang diidentifikasikan oleh Munandar (1999: 12) meliputi kelancaran, kelenturan, atau keluwesan (fleksibelitas), dan orisinalitas dalam berfikir, dan ciri-ciri ini dioperasionalkan dalam tes berfikir divergen.

Kreativitas merupakan salah satu faktor yang ada dalam diri setiap individu yang dapat berkembang, sehingga perlu bagi seorang pendidik untuk meningkatkan dan mengembangkan kreativitas pada diri pebelajar dalam proses pembelajaran. Setiap pebelajar pada dasarnya memiliki kreativitas, namun hal ini sering dilupakan dalam proses pembelajaran sehingga kreativitas tersebut tersembunyi dalam prilaku pebelajar yang lebih memilih untuk diam saja. Dalam sistem pendidikan pun dewasa ini sudah sangat disibukkan oleh keterbatasan dan kejenuhan pendidik sehingga belum cukup perhatian dicurahkan untuk mengajar peserta didik berfikir dan bertindak lebih kreatif. Peserta didik tidak dirangsang untuk menemukan dan medefinisikan masalahnya sendiri.

Secara ilmiah peserta didik adalah  manusia yang kreatif, tidak konvensional, penuh humor, dan mudah bosan. Sistem pendidikan dan strategi pembelajaran yang digunakan selama ini telah memberikan sumbangan yang cukup besar untuk memadamkan kreativitas tersebut. untuk itu perlu bagi seorang pendidik menggunakan suatu metode yang tepat untuk membangkitkan kreativitas dalam diri peserta didiknya.

Strategi-strategi yang dapat dilakukan pendidik dalam upaya membantu pengembangan kretifitas peserta didik secara efektif menurut Craft  (2000: 188) antara lain:

  • a. Menggunakan humor

  • b. Membujuk individu-individu secara akrab

  • c. Menyebut individu-individu dengan nama

  • d. Secara umum harapan guru yang tinggi mencakup dorongan positif untuk memperoleh jawaban yang benar, dan

  • e. Membuat langkah cepat.


Proses kreatif dalam diri peserta didik mengalir dalam lima tahap (DePorter, 2002; 301):

  • a. Persiapan, mendefensikan masalah, tujuan atau tantangan

  • b. Inkubasi, mencerna faktor-faktor dan mengolahnya dalam fikiran

  • c. Illuminasi, mendesak kepermukaan, gagasan bermunculan

  • d. Verifikasi, memastikan apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah

  • e. Aplikasi, mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi tersebut.


2.      Peta Konsep dalam Pembelajaran

Concept mapping adalah istilah yang digunakan oleh Novak dan Gowin (1984) tentang cara yang dapat digunakan dosen untuk membantu mahasiswa mengorganisasikan materi perkuliahan yang telah dipelajari berdasarkan arti dan hubungan antar komponennnya.   Rose dan Nicholl (2002: 136) menyatakan:

Peta konsep atau peta pembelajaran adalah cara dinamik untuk menangkap butir-butir pokok informasi yang signifikan. Mereka menggunakan format global atau umum, yang memungkinkan informasi ditunjukkan dalam cara mirip seperti otak kita berfungsi-dalam pelbagai arah secara serempak.

Teknik penggunaan peta konsep ini di populerkan kembali oleh Tony Buzan dalam bentuk peta pikiran hasil risetnya tentang cara kerja otak yang sebenarnya, hingga pada teori-teori quantum. Pada dasarnya teknik peta konsep yang dimaksud dalam pemikiran mereka bahwa teknik ini dapat diberlakukan oleh dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran.

Dari segi mahasiswa beberapa keunggulan yang dapat diperoleh antara lain menangkap seluruh konsep, menyusun bahan dan informasi secara praktis, memperlihatkan hubungan berbagai konsep dan gagasan, mengingat kembali dengan mudah, melakukannya secara menyenangkan, dan merangsang kreativitas. Selain hal tersebut beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari segi content, peta konsep memberikan sejumlah keuntungan menurut Hisyam Zaini, dkk. (2002: 21) antara lain:

  • a. Concept map, sesuai dengan tabiatnya, memberikan visualisasi konsep-konsep utama dan pendukung yang telah terstruktur di dalam otak dosen ke dalam kertas yang dapat dilihat secara empiris.

  • b. Gambar konsep-konsep menunjukkan bentuk hubungan antara satu dengan yang lain.

  • c. Concept map memberikan bunyi hubungan yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menjelaskan bentuk-bentuk hubungan antara satu konsep dengan konsep lain, baik utama maupun pendukung.


Dalam pendidikan peta konsep dapat diterapkan untuk beberapa tujuan (Dahar, 1988: 156) antara lain:

  • a. Menyelidiki apa yang telah diketahui mahasiswa


Belajar bermakna membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep relevan yang telah mereka miliki. Untuk memperlancar proses ini, baik dosen maupun mahasiswa perlu mengetahui “tempat awal konseptual”.

  • b. Belajar bagaimana belajar


Belajar bermakna baru terjadi bila pembuatan peta konsep bukan untuk memenuhi keinginan dosen, melainkan harus timbul dari keinginan mahasiswa untuk memahami isi pelajaran bagi diri mahasiswa sendiri.

  • c. Mengungkapkan konsepsi salah


Peta konsep dapat mengungkapkan konsepsi salah yang  terjadi pada mahasiswa. Konsepsi salah biasanya timbul karena terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proposisi yang salah.

  • d. Alat evaluasi


Penggunaan peta konsep sebagai alat evaluasi didasarkan pada tiga gagasan dalam teori Ausubel yaitu :

  • 1) Struktur konitif diatur secara hirarki, dengan konsep dan proposisi yang lebih inklusif, lebih umum superordinat terhadap konsep-konsep dan propisisi yang kurang inklusif dan lebih khusus.

  • 2) Konsep dalam struktur kognitif mengalami differensiasi progresif..

  • 3) Penyesuaian integratif.


3.      Menciptakan Strategi Pembelajaran yang Menyenangkan

Pembelajaran merupakan suatu proses yang diciptakan untuk memberikan kesempatan bagi peserta didik mendapatkan pengalaman belajarnya. Dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di ruang-ruang kelas sangat tergantung sekali pada bagaimana pendidik menciptakan suasana pembelajaran yang mendukung proses tersebut. salah satu bentuk penciptaan suasana pembelajaran adalah dengan menetapkan satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan diopersionalkan melalui pemilihan satu metode pembelajaran yang sejalan.

Metode pembelajaran yang sejalan dan sesuai akan dapat menciptakan perasaan senang bagi peserta didik dan menimbulkan perasaan untuk menikmati setiap detik proses pembelajaran yang disajikan. Penciptaan suasana belajar yang menyenangkan tentu saja sangat berpengaruh sekali dari penetapan metode yang akan dipilih.  Hal ini dikarenakan berhasil tidaknya proses pembelajaran sangat ditentukan sekali oleh metode pembelajaran dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Reigeluth (Aleks Maryunis, 2003: 81) mengemukakan bahwa metode pembelajaran merupakan cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang berbeda-beda dalam kondisi yang berbeda-beda. Dalam suatu rancangan pembelajaran, metode pembelajaran terbagi atas tiga jenis strategi pembelajaran (Reigeluth, 1983):

Merencanakan setiap langkah pembelajaran secara kreatif memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Peta konsep sebagai alat pembelajaran memberikan sumbangan yang berarti bagi mahasiswa dalam memaksimalkan kreativitas berfikirnya, karena dalam penerapan peta konsep dapat meningkatkan ketrampilan dasar yang dapat merangsang mahasiswa belajar dan menata informasi. Adapun ketrampilan dasar yang merangsang seseorang belajar seperti yang dikutip dari DePorter ( 2002: 164) antara lain konsentrasi terfokus, cara mencatat, organisasi dan persiapan tes, membaca cepat dan teknik mengingat.

C.     Pembahasan

Kurangnya keberanian dan pandangan yang kurang luas terhadap satu pokok materi yang disampaikan sering menyebabkan proses kreativitas ini kurang berjalan engan baik. Seperti yang dinyatakan Wycoff (2005: 59) bahwa kendala dari kreativitas berfikir adalah rasa takut salah, adanya penilaian, menuntut jawaban yang benar, penangguhan/penundaan, memiliki pandangan sempit dan bersikap sok ahli.

Aktivitas positif mahasiswa selama proses pembelajaran mulai meningkat apabila telah diajarkan dengan peta konsep . Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah mahasiswa yang bertanya, menjawab pertanyaan dan ketepatan mengumpulkan tugas. Mahasiswa menyatakan dengan menggunakan peta konsep dalam presentase dan pembuatan tugas sangat menarik dan lebih mudah memahami konsep. Hal ini sejalan dengan pendapat Wycoff (2005: 147) bahwa dengan peta konsep dapat meningkatkan daya ingat terhadap sesuatu karena didalam pembuatan peta konsep terjadi pengulangan, adanya hubungan atau asosiasi, intensitas dan keterlibatan langsung setiap individu.

Disamping adanya kelebihan yang dimiliki selama penerapan peta konsep dalam pembelajaran, juga ditemui beberapa kelemahan dari penerapan peta konsep tersebut. Kelemahan tersebut antara lain suasana kelas yang kurang tenang karena setiap mahasiswa berkeinginan untuk melengkapi peta konsep yang ada dipapan tulis, dan menyempurnakan jawaban teman. Selain hal tersebut juga ditemui beberapa kali kebiasaan mahasiswa yang menjiplak peta konsep karya mahasiswa lain, sehingga mengurangi orisinalitas dari ide yang disalurkan. Namun demikian masih terlihat beberapa perbedaan yang menunjukkan kreativitas berfikir mahasiswa. Hal ini sejalan dengan sifat dari peta konsep itu sendiri yaitu idiosinkratik yaitu sifat yang menunjukan tidak ada dua peta konsep yang sama persis karena setiap peta konsep yang dibuat oleh seseorang menunjukkan pengertiannya yang unik dalam bidang pengetahuan tertentu.

Dengan meningkatnya penguasaan konsep mahasiswa terhadap suatu materi berdampak kepada meningkatnya hasil belajar mahasiswa dimana hasil belajar ini merupakan permasalahan yang sangat menggangu.  Berdasarkan analisis dari hasil belajar mahasiswa pada akhir tindakan masih terdapat mahasiswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi belum tercapainya ketuntasan belajar mahasiswa tersebut diantaranya gaya belajar mahasiswa yang belum terbiasa dengan penggunaan peta konsep, dan tingkat kreatifitas yang masih rendah. Hal ini disebabkan untuk membelajarkan mahasiswa menyusun peta konsep harus dilakukan secara bertahap.

Hal lain yang perlu diingat bahwa tidak seorangpun dapat menjadi ahli penyusun peta konsep dalam sekejap mata atau semalam saja. Umumnya mahasiswa cepat mempelajari dasar-dasar penyusunan setelah ditunjukkan caranya. Mula-mula dosen dapat mengajar mahasiswa memahami peta konsep sebagai modifikasi dari suatu kerangka isi bahan pembelajaran dengan istilah-istilah yang saling dihubungkan dalam hirarki secara vertikal. Menyusun peta konsep pertama ini merupakan langkah kritis, tetapi ini memiliki keterbatasan untuk mendemostrasikan pemahaman konseptual. Agar mahasiswa lebih memahami mengenai peta konsep ini, mahasiswa perlu diajak untuk menyusun peta konsep yang lebih luas. Dosen juga perlu memberi contoh bagaimana menyusun peta konsep yang lebih luas. Peta konsep semacam ini mengandung lebih banyak konsep yang memiliki keterkaitan antar bagian peta yang satu dengan yang lainnya.

D.    Cara menyusun peta konsep

Menurut Dahar (1988:154) peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep.
Langkah 1: mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.
Langkah 2: mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama
Langkah 3: menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut
Langkah 4: mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut:
1)Memilih suatu bahan bacaan
2)Menentukan konsep-konsep yang relevan
3)Mengelompokkan (mengurutkan ) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif
4)Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.
Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dihubungkan dengan kata hubung. Misalnya “merupakan”, “dengan”, “diperoleh”, dan lain-lain.

E. Jenis-jenis Peta Konsep

Menurut Nur (2000) dalam Erman (2003: 24) peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).
1) Pohon Jaringan.
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan
hubungannya pada garis-garis itu (Nur dalam Erman 2003: 25)

Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
- Menunjukan informasi sebab-akibat
- Suatu hirarki
- Prosedur yang bercabang

Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan.
1) Rantai Kejadian.
Nur dalam Erman (2003:26) mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian
dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen.

Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
- Memerikan tahap-tahap suatu proses
- Langkah-langkah dalam suatu prosedur
- Suatu urutan kejadian

2) Peta Konsep Siklus
Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang. Gambar 2.5 memperlihatkan siklus tentang hubungan antara siang dan malam.

3) Peta Konsep Laba-laba
Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kita dapat memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama.

Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
a) Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori
b) Kategori yang tidak paralel
c) Hasil curah pendapat

F. Peta konsep sebagai alat ukur alternatif

Tes seperti pilihan ganda yang selama ini dipandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menentukan keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam.

Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur siswa dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa selama kegiatan.

Menurut Tukman dalam Sutowijoyo (2002: 31) penilaian kinerja adalah penilaian yang meliputi hasil dan proses, yang biasanya menggunakan material atau suatu peralatan (equipment). Penilaian kinerja dapat digunakan terutama untuk mengukur tujuan pembelajaran yang tidak dapat diukur dengan baik bila menggunakan tes obyektif.

Penilaian kinerja mengharuskan siswa secara aktif mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui. Yang paling penting, penilaian kinerja dapat memberi motivasi untuk meningkatkan pengajaran, pemahaman terhadap apa yang mereka perlu ketahui dan yang dapat mereka kerjakan. Berdasarkan teori belajar kognitif Ausubel, Novak dan Gowin (1984) dalam Dahar (1988: 143) menawarkan skema penilaian yang terdiri atas: Struktur hirarki, perbedaan progresif, dan rekonsiliasi integratif.

Struktur hirarkis, yaitu struktur kognitif yang diatur secara hirarki dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus.

Perbedaan progresif menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinyu, dimana konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan bentuk lebih banyak kaitan-kaitan proporsional. Jadi konsep-konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif.

Rekonsiliasi integratif menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara kumpulan-kumpulan konsep atau proposisi. Dalam peta konsep, rekonsiliasi integratif ini diperlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara kumpulan-kumpulan konsep (Dahar,1988: 162)

Selanjutnya Novak dan Gowin memberikan suatu aturan untuk mengikuti penilaian numerik jika skoring dipandang perlu. Pertama, skoring didasarkan atas preposisi yang valid. Kedua, untuk menghitung level hirarkis yang valid dan untuk menskor tiap level sebanyak hubungan yang dibuat. Ketiga, crosslink yang menunjukan hubungan valid antara dua kumpulan (segmen) yang berbeda adalah lebih penting daripada level hirarkis, karena mungkin saja ini pertanda adanya penyesuaian yang integratif. Keempat, diharapkan siswa dapat memberikan contoh yang spesifik dalam beberapa kasus untuk meyakinkan bahwa siswa mengetahui peristiwa atau obyek yang ditunjukan oleh label konsep.

G. Tahap-tahap Pengajaran Langsung dalam Melatihkan Strategi Belajar

Tahap 1
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Memotivasi siswa.

Tahap 2
1. Secara klasikal menjelaskan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.
2. Memodelkan strategi Mengarisbawahi dan membuat peta konsep.

Tahap 3
Melatihkan siswa menggunakan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep dibawah bimbingan guru.

Tahap 4
1. Memeriksa pemahaman siswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep
2. Memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.

Tahap 5
Melatih sisawa untuk menerapkan strategi belajar menggarisbawahi dan membuat peta konsep secara mandiri.

Tahap 6
1. Mengevaluasi tugas latihan menggarisbawahi dan membuat peta konsep.
2. Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran

 

H. Penutup

Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang telah diberikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • 1. Penerapan peta konsep dapat meningkatkan kreativitas berfikir mahasiswa dalam proses pembelajaran pada mata kuliah Strategi Pembelajaran P.ai. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya kreativitas berfikir positif yang ditunjukkan mahasiswa selama proses pembelajaran diantaranya: mengajukan pertanyaan yang kritis, menjawab pertanyaan, memberikan solusi dan gagasan yang inovatif, menyampaikan gagasan sendiri dan ketepatan mengumpulkan tugas. Selain itu dengan penerapan peta konsep juga dapat meningkatkan kreativitas berfikir mahasiswa dalam mengkaitkan setiap konsep yang telah dimiliki sebelumnya. Peta konsep sebagai alat bantu pembelajaran memiliki sifat yang khas dan unik untuk setiap individu yang membuatnya, hal ini sesuai dengan bagaimana seseorang memaknai setiap konsep dengan konsep lainnya.

  • 2. Penerapan peta konsep dapat meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa terhadap materi perkuliahan yang diberikan. Dengan meningkatnya penguasaan konsep secara langsung berdampak pada peningkatan hasil belajar mahasiswa. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya perubahan ketuntasan belajar klasikal setelah tindakan diberikan, dan peningkatan hasil belajar individual setelah tindakan diberikan.


Peta konsep merupakan salah satu alat bantu pembelajaran yang memberikan kemudahan dalam mengaitkan satu konsep dengan konsep lainnya. Pembelajaran dengan peta konsep memberikan kemudahan dalam memahami satu materi dengan pola dan gaya tersendiri yang dimiliki oleh setiap mahasiswa. Penerapan peta konsep ini telah mampu meningkatkan kreativitas berfikir yang harus dimiliki setiap mahasiswa selama proses pembelajaran. Tujuan dari pentingnya peningkatan kreativitas berfikir agar suasana pembelajaran lebih hidup dan bermakna pada setiap pertemuannya.

Penerapan peta konsep ini juga dapat memberikan kebebasan bagi setiap mahasiswa dalam usaha memahami materi dan mengembangkan pola pikirnya secara mandiri. Selain itu peta konsep dapat dijadikan alat ukur mandiri bagi mahasiswa dalam penguasaannya terhadap suatu materi. Sehingga peta konsep sebaiknya dapat selalu digunakan bagi mahasiswa dalam  usaha peningkatan penguasaan konsep.

Peta konsep dapat juga dijadikan bahan pengantar atau batasan-batasan dalam suatu presentase perkuliahan. Sehingga setiap pokok yang akan dibahas lebih terarah dan tidak keluar dari konteks. Dari penelitian ini dapat memberikan masukan bagi peneliti bahwa untuk dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa dan penguasaan konsep mahasiswa, maka dapat digunakan peta konsep sebagai bahan pengantar dari proses awal perkuliahan.

 

Daftar Pustaka

www. Goegle.com

Buzan. Tony dan Barry. 2004. Memahami Peta Pikiran : The Mind Map Book. Interaksa: Batam.

Buzan. Tony. 2004. Mind Map: Untukmeningkatkan Kreativitas. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

G. Strategi Pembelajaran quantum Learning

1. Teori otak kanan/kiri

Mengajar haruslah melibatkan otak kiri dan kanan siswanya. Jika tidak melibatkan kedua fungsi otak itu, ketidakseimbangan akan terjadi bagi diri siswa. Potensi salah satu otak itu akan lemah dan semakin lemah. Untuk itu, semua guru/dosen/trainer ketika mengajar haruslah menggunakan strategi pelibatan otak kiri dan kanan siswanya.

 

Otak manusia dibagi menjadi dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri dengan fungsi yang berbeda.Otak kanan diidentikkan tentang kreativitas, persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail.Sedangkan otak kiri biasa diidentikkan dengan rapi, perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, logika, terstruktur, analitis, matematis, sistematis, linear, dan tahap demi tahap.

Perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960.Seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda.Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981.Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.

Otak kanan berfungsi dalam perkembangan EQ (Emotional Quotient), seperti hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna.Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory).Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya.

Otak kiri berfungsi sebagai pengendali IQ (Intelligence Quotient) seperti hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika.Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika.

Walaupun keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi setiap individu mempunyai kecenderungan untuk mengunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap belahan otak saling mendominasi dalam aktivitas namun keduanya terlibat dalam hampir semua proses pemikiran.

Berdasarkan kekuatan fungsi masing-masing, berarti, kedua fungsi otak manusia itu sangat diperlukan dalam menghadapi hidup.Begitu pula, bagi siswa, pembiasaan penggunaan kedua fungsi otak itu sangat bermanfaat dalam perjalanan dirinya menuju kedewasaan.Dengan begitu, guru/dosen/Trainer dalam mengajar di kelas, metode apapun yang digunakan, sebaiknya berbasis otak kanan dan kiri.

Doug Hall mengatakan, dominasi kerja otak orang mempengaruhi kepribadian :

Si otak kanan : humoris, simple, menyenangkan, boros, lebih percaya intuisi, berantakan-kacau, ede = ekspresi diri, lebih memilih perasaan sebagai solusi masalah, suka bertualang, bermimpi besar, tukang sorak, “pelanggar aturan”, bebas, spontan.

Si otak kiri : serius, rumit, membosankan, hemat, lebih percayai fakta, rapi-terorganisir, ide = profitabilitas, lebih memilih keilmuan, hati-hati, berpengetahuan umum, pendukung diam, pembuat aturan, konservatif, mudah ditebak.


Kasus 1 :

Dr. Makoto Shichida, seorang spesialis perkembangan anak balita, dalam bukunya Right Brain Education in Infancy menjelaskan sebuah hasil studi di Nippon Medical Center oleh Prof. Shinagawa terhadap seorang anak yang bernama Yuka Hatano. Yuka Hatano adalah seorang juara dunia menghitung cepat, yang mampu menghitung 16 digit soal LEBIH CEPAT daripada kalkulator !Ketika Yuka melakukan perhitungan tersebut, melalui PET scan terlihat bahwa yang mengendalikan fungsi otaknya adalah otak kanan bagian belakang. Di sekolah Shichida, saya (Shinagawa) melihat bagaimana anak-anak SD mampu membaca 1 jilid buku hanya dalam waktu 3-5 menit saja, dan dia tahu persis apa isi buku yg dibacanya. Menurutnya, dia seperti memotret atau men-dowload tiap-tiap halaman buku tsb, dan ketika ditanya, dia akan membuka tiap-tiap halaman bukunya di dalam otaknya untuk mencari jawabannya dengan cepat.


Kasus 2:

Para siswa SD, SMP, sampai SMA menggunakan mungkin sampai 6 jam waktunya belajar di sekolah dan PR per hari dan ikut les/bimbingan belajar. Mereka ini terfokus belajar dengan memanfaatkan otak kiri, misalnya mereka belajar matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, bahasa, dan lain-lain. Mereka ini diajarkan menggunakan logika dan belajar dengan cara yang runut (sekuensial). Amat jarang mereka belajar bagaimana menggunakan intuisi dan imajinasi.

Katakanlah mereka belajar di SD selama 6 tahun, di SMP selama 3 tahun, dan di SMA selama 3 tahun. Jadi selama 12 tahun, mereka rata-rata menggunakan waktu 6 jam per hari. Jika satu minggu mereka belajar selama 5 hari di sekolah. Dan ada 4 minggu per bulan, serta belajar efektif di sekolah selama 9 bulan per tahun, maka dari SD sampai SMA mereka belajar menggunakan otak kiri selama:

6 jam/hari x 5 hari/minggu x 4 minggu/bulan x 9 bulan/tahun x 12 tahun = 12.960 jam.

Pertanyaannya adalah berapa lama pola pembelajaran yang memanfaatkan otak kanan?


Mana yang dulu digunakan : Otak Kanan atau Otak Kiri?

Anda si Otak Ekstrem Kanan atau Si Ekstrem Otak Kiri atau Si Otak Seimbang?Mana dulu yang sebaiknya digunakan, Otak Kanan dulu baru Otak Kiri atau sebaliknya? Ingat cerita : bagaimana awalnya Archimides mengungkap tentang massa jenis? Mana dulu yang digunakan Archimides otak kanan atau otak kirinya?Bagaimana awalnya Newton mengungkap tentang gravitasi?Mana dulu yang digunakan Newton, otak kanan atau kiri?Bagaimana awalnya Einstein dengan teori relativitasnya?Mana dulu yang digunakan Einstein, otak kanan atau otak kiri?Atau ide menjual air di negeri yang penuh air (AQUA) oleh Tirto Utomo?Mana yang digunakan Tirto Utomo, otak kanan atau otak kirinya? Ketika dia menjual air minum 250 mm seharga Rp 500,00; sementara PDAM menjual air bersih seribu liter seharga Rp 2 ribu?


Ingat cerita George Eastment, pendiri Eastment Kodak, menyatakan bahwa merek "Kodak" yang melegenda itu, huruf "K", muncul secara intuitif. Sam Walton, pendiri Walt Mart, menggunakan intuisinya ketika mendirikan sebuah toko pada tahun 1962, kini dia memiliki 1.300 toko. John Mihalasky dan E Douglas Dean menemukan bahwa 80% CEO yang sukses memiliki intuisi di atas rata-rata.

 

  1. 1.   Teori otak triune (3 in 1)

  2. Otak memegang peranan yang sangat penting dalam struktur tubuh manusia. Otak adalah organ yang unik dan dahsyat, tempat diaturnya proses berpikir, berbahasa, kesadaran emosi dan kepribadian. Menurut teori otak Triune (“Triune” berarti “Three in One”), otak manusia mempunyai tiga bagian yang terpisah (meskipun saling berhubungan), yaitu: otak reptil, sistem limbik (otak tengah), dan neokorteks.

  3. Otak Reptil. Ini adalah bagian otak paling sederhana (dinamakan demikian karena reptil pun memilikinya). Tugas utamanya adalah mempertahankan diri (meskipun itu bukan satu-satunya bagian otak yang menjalankan tugas ini). Otak ini menguasai fungsi-fungsi otomatis seperti degupan jantung dan sistem peredaran darah. Di sinilah pusat perilaku naluriah dan repetitif yang cenderung mengikuti contoh dan rutinitas secara membuta dan ritualistis. Otak reptil diyakini sebagai bagian otak yang terlibat dalam perjuangan kekuasaan hierarkis. Ia tahu cara menipu jika diperlukan demi kelangsungan hidupnya. Ini adalah otak hewan.

  4. Sistem Limbik. Ini adalah otak tengah yang memainkan peranan besar dalam hubungan manusia dan dalam emosi. Ini adalah otak sosial dan emosional. Di otak ini juga terkandung sarana yang penting untuk ingatan jangka panjang.

  5. Neokorteks. Ini adalah topi otak, penutup yang melilit berupa zat berwarna kelabu yang merupakan 80-85% dari massa otak. Otak ini mempunyai banyak fungsi tingkat tinggi seperti berbahasa, berpikir abstrak, memecahkan masalah, merencanakan ke depan, bergerak dengan baik, dan berkreasi. Itulah yang membuat kita manusia, unik.

  6. Otak yang saling terkait. Ketiga bagian otak ini saling terkait dalam satu organisme menyeluruh dan sering saling terlibat dalam suatu tugas yang kompleks, rumit, dan menentukan. Tak satupun dari ketiga bagian ini yang bekerja sendiri Sepanjang waktu di dalam otak terjadi pertukaran dan saling bantu yang berlangsung terus-menerus.


 

 

3. Pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik)

Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modlaitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.
1. Visual (belajar dengan cara melihat)
Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.
Ciri-ciri gaya belajar visual :
² Bicara agak cepat

² Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

² Tidak mudah terganggu oleh keributan

² Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

² Lebih suka membaca dari pada dibacakan

² Pembaca cepat dan tekun

² Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

² Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

² Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.

2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).

5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)
Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang2 saja. Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya.Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
Ciri-ciri gaya belajar auditori :
² Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri

² Penampilan rapi

² Mudah terganggu oleh keributan

² Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

² Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

² Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

² Biasanya ia pembicara yang fasih

² Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

² Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

² Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual

² Berbicara dalam irama yang terpola

² Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.

2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

3. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

4. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat.Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
² Berbicara perlahan

² Penampilan rapi

² Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

² Belajar melalui memanipulasi dan praktek

² Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

² Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca

² Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

² Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

² Menyukai permainan yang menyibukkan

² Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu

² Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.

2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).

3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.

4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

 

 

4. Teori kecerdasan ganda

Implementasi teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut :

  • Orang tua murid

  • Guru

  • Kurikulum dan fasilitas

  • Sistem penilaian


Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid, perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda di sekolah dapat berhasil.Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu memeberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.

Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  • Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa

  • Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.


Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.

Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka  langkah – langkah berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004) mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu :

  • 30 % pembelajaran langsung

  • 30 % belajar kooperatif

  • 30% belajar independent


Implementasi teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan pembelajaran.Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki. Guru musik misalnya, selain mampu memainkan  instrumen musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehimgga dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musikal.

Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas pendukung selain guru yang berkualitas.Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik.

Fasilitas dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan  pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda antara lain : peralatan musik, peralatan olah raga dan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik.

Sistem penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda berbeda dengan sistem penilaian yang digunkan pada sekolah konvensional.Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya berasumsi bahwa semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak berorientasi pada input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses dan kemajuan (progress)  yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu keterampilan yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini adalah metode penilaian portofolio.Sistem penilaian portofolio menekankan pada perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah keterampilan atau pengetahuan.

 

5. Pendidikan holistik (menyeluruh)

Pendidikan holistik adalah pendidikan yang bertujuan memberi kebebasan anak didik untuk mengembangkan diri tidak saja secara intelektual, tapi juga memfasilitasi perkembangan jiwa dan raga secara keseluruhan sehingga tercipta manusia Indonesia yang berkarakter kuat yang mampu mengangkat harkat bangsa. Mewujudkan manusia merdeka seperti ungkapan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, "Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri."

Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya.Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).

Jika merujuk pada pemikiran Abraham Maslow, maka pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (self-actualization) yang ditandai dengan adanya:

1.    kesadaran

2.    kejujuran

3.    kebebasan atau kemandirian

4.    kepercayaan.

Pendidikan holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Proses pembelajaran menjadi tanggung jawab personal sekaligus juga menjadi tanggung jawab kolektif, oleh karena itu strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran holistik, diantaranya:

1.    menggunakan pendekatan pembelajaran transformatif

2.    prosedur pembelajaran yang fleksibel

3.    pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu

4.    pembelajaran yang bermakna

5.    pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada.

Dalam pendidikan holistik, peran dan otoritas guru untuk memimpin dan mengontrol kegiatan pembelajaran hanya sedikit dan guru lebih banyak berperan sebagai sahabat, mentor, dan fasilitator.Forbes (1996) mengibaratkan peran guru seperti seorang teman dalam perjalanan yang telah berpengalaman dan menyenangkan.

Sekolah hendaknya menjadi tempat peserta didik dan guru bekerja guna mencapai tujuan yang saling menguntungkan.Komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting, perbedaan individu dihargai dan kerjasama lebih utama dari pada kompetisi.

Gagasan pendidikan holistik telah mendorong terbentuknya model-model pendidikan alternatif, yang mungkin dalam penyelenggaraannya sangat jauh berbeda dengan pendidikan pada umumnya, salah satunya adalah homeschooling, yang saat ini sedang berkembang, termasuk di Indonesia.

Membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal. Selain itu untuk membentuk manusia yang lifelong learners (pembelajar sejati)

 

B.   STRATEGI

1.    Menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid, yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang konkrit, bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active learning, contextual learning, inquiry-ased learning, integrated learning)

2.    Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (conducive learning community) sehingga anak dapat belajar dengan efektif di dalam suasana yang memberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan semangat.

3.    Memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good.

4.    Metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-masing anak, yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan juga 9 aspek kecerdasan manusia.

Seluruh pendekatan di atas menerapkan prinsip-prinsip Developmentally Appropriate PracticesModel pendidikan ini telah diterapkan di lebih dari 200 lokasi dalam program “Semai Benih Bangsa” (SBB), yaitu kegiatan TK. alternatif untuk anak-anak yang tidak mampu, dan juga dibeberapa TK dan SD swasta dan negeri lainnya.

 

Minggu, 08 Januari 2012

Kriteria Busana Muslimah, Apa saja???

Sekurang-kurangnya ada 5 point yang menjadi kriteria busana muslimah menurut syariat, yaitu sebagai berikut :

  1. Busana muslimah harus menutup seluruh tubuhnya dari pandangan lelaki yang bukan mahramnya. Dan janganlah ia membuka untuk lelaki mahramnya kecuali bagian yang menurut kebiasaan yang benar  dan pantas (tidak termasuk suami)

   2.   Hendaknya busana yang dipakai wanita muslimah menutup apa yang dibaliknya. Maksudnya tidak tipis menerawang sehingga warna kulitnya dapat terlihat dari luar.

    3.     Busana tidak ketat membentuk bagian-bagian tubuh.

    4.     Busana wanita muslimah tidak menyerupai pakaian laki-laki.

    5.     Busana yang dipakai wanita tidak terdapat hiasan yang dapat menarik perhatian orang saat keluar rumah, agar tidak tergolong wanita yang suka tampil dengan perhiasan.

Sumber: Syaikh Sholeh bin Fauzan, Tanbiihaat ‘ala ahkami takhtassu bil-mukminaat.

Sumber: http://ibnubakri.multiply.com/journal/item/11?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Pemikiran Plato

Socrates adalah sangat besar berpengaruh terhadap pemikiran Plato, ia adalah murid setia Socrates yang banyak mewarisi tradisi keilmuan dan filsafat gurunya, malalui Plato pemikiran-pemikiran Socrates dilestarikan, Socrates mempunyai kelemahan karena buah atau hasil dari pemikirannya tidak ditulis dalam bentuk tulisan oleh Plato, adalah kemudian Plato berinisiatif menulis semua pemikiran-pemikiran gurunya, melalui karya Plato yang fenomenal diantarannya; dialog, republic, negara dan apologia.

Nilai-nilai atau pandangan Plato pada dasarnya adalah pandangan tentang kebajikan  sebagai dasar negara ideal, ajaran Socrates kebajikan pengetahuan adalah diterima secara taken for granted, jadi penulis melihat bahwa pemikiran Plato nilai- nilai orisionalitasnya dipertannyakan, penulis berani mengatakan bahwa pemikiran Plato tidak ada, tapi yang ada adalah kelanjutan pemikiran Socrates saja yang ditulis dan dilanjutkan oleh Plato, artinya Plato hanya melanjutkan pemikiran Socrates yang kemudian dikembangkannya yang tidak terlalu mendalam, jadi  menurut penulis kita tidak boleh terlalu mengagung-agungkan pemikiran Plato itu sendiri.

Menurut Plato negara ideal menganut prinsip yang mementingkan kebajikan. Kebajikan menurut Plato adalah pengetahuan. Apapun yang dilakukan atas nama Negara harus dengan tujuan untuk mencapai kebajikan, atas dasar itulah kemudian Plato memandang perlunya kehidupan bernegara. Tidak ada cara lain menurut Plato untuk membanguan pengetahuan kecuali dengan lembaga-lembaga pendidikan,  inilah yang kemudian memotivasi Plato untuk mendirikan sekolah dan akademi pengetahuan.

Plato menilai negara yang mengabaikan prinsip kebajikan jauh dari negara yang di dambakan oleh manusia, sehinga negara yang ideal menurut Plato adalah negara negara yang menjunjung kebajikan. Plato mengambarkan seorang filsuf adalah dokter, filsuf meski mengetahui penyakit-penyakit yang dialami oleh masyarakat, mampu mendiagnosa dan mendeteksi sejak dini. Plato beranggapan munculnya negara adalah akibat hubungan timbal balik dan rasa saling membutuhkan antar sesama manusia.

Plato berangapan munculnya negara karena adanya hubungan timbal balik dan rasa saling membutuhkan antara sesama manusia, manusia juga dianugerahi bakat dan kemampuan yang tidak sama, pembagian kerja-kerja sosial muncul akibat adanya perbedaan alami, masing-masing memiliki bakat alamiah yang berbeda, perbedaan bakat dan kemampuan justru baik bagi kehidupan masyarakat, karena menciptakan saling ketergantungan, setiap manusia tentu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara subsistensi, yang untuk memenuhi kebutuhan tersebut membutuhkan orang lain, negara dalam hal ini berkewajiban memperhatikan pertukaran timbal balik, dan berusaha agar kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Negara ideal menurut Plato juga didasarkan pada prinsip-prinsip larangan atas kepemilikan pribadi, baik dalam bentuk uang atau harta, keluarga, anak dan istri inilah yang disebut nihilism. Dengan adanya hak atas kepemilikan menurut filsuf ini akan tercipta kecemburuan dan kesenjangan sosial yang menyebabkan semua orang untuk menumpuk kekayaannya , yang mengakibatkan kompetisi yang tidak sehat. Anak yang baru lahir tidak boleh dikasuh oleh ibu yang melahirkan tapi itu dipelihara oleh Negara, sehinga seorang anak tidak tahu ibu dan bapaknya, diharapkan akan menjadi manusia yang unggul, yang tidak terikat oleh ikatan keluarga dan hanya memiliki loyalitas mati terhadap negara.

Plato juga tidak memperkenankan lembaga perkawinan, tak seorang pun yang dapat mengklaim istri mereka, istri hanya bisa menjadi hak kolektif, hubungan seks yang dilakukan tidak boleh monogam melainkan poligami, Plato melihat lembaga perkawinan membuat ketidaksamaan antara laki-laki dan perempuan, yang lembaga perkawinan telah mengekang bakat alami manusia dan membuat diskriminasi.

Pemikiran Plato yang anti individualism yang telah merusak kehidupan sosial masyarakat Athena, manusia menjadi individualism hanya mementingkan kebutuhan diri mereka sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Padahal kehidupan bernegara menekankan petingnya saling ketergantungan sesama warga negara.

Ada tuduhan yang mengatakan bahwa Plato adalah anti demokrasi, adalah argumentasi ini membenarkan tuduhan itu. Mengapa Plato menjadi anti demokrasi, pemikiran Plato tidak terlepas dalam konteks sosio-hostoris kehancuran Athena. Kehancuran Athena menurut Plato bukan hanya karena kekalahan Athena dalam perang peloponesos. Kemenanagan Sparta atas Athena menunjukkan prinsip-prinsip dari kenegaraan bersifat Aristokrat militeristik yang ternyata lebih unggul dibandingakan dengan struktur kenegaraan Athena yang demokratis. Inilah yang melahirkan karya-karya Plato dalam judul republik. Dalam buku ini Plato secara tegas menunjukkan simpati dan kekagumannya kepada sistem kenegaraan otoriter Sparta dan antipatinya kepada demokrasi. Plato menuduh kehancuran Athena disebabkan akibat demokrasi yang lemah dan disintegrasi serta tidak stabil.

Di Negara demokrasi setiap orang berhak dan memiliki kebebasan dalam melakukan apa yang dikehendakinya, tanpa ada kontrol yang ketat dari negara, karena adanya kebebasan setiap orang berhak dalam mengkritik orang lain, terlepas apakah yang di kritik tersebut rakyat atau negara. Bila kekuatan saling mengkritik tanpa adanya control pemerintah, maka akan  menimbulkan kekacauan social.

Sumber: http://pangisyarwi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=19:pemikiran-plato-dan-aristoteles&catid=8:makalah&Itemid=103

 

 

Mengenal Alam Jin

Telah disepakati oleh mayoritas umat manusia, baik muslimin, yahudi, maupun nasrani, bahwa dunia jin adalah dunia ketiga setelah dunia malaikat dan manusia. Hadits-hadits shahih telah menerangkan adanya jin.

Ada tiga golongan jin: pertama, jin yang terbang di udara, kedua, jin yang berupa ular dan anjing, dan ketiga, jin yang berhias dan selalu melakukan perjalanan.

Allah menjadikan mereka semua dari api. Ada jin yang muslim, ada pula yang kafir. Ada jin yang bernama ruh, yang selalu mengganggu anak-anak kecil. Ketika jin sudah mulai berbuat jahat dan mengganggu (manusia), para ulama menyebutnya: setan. Ketika bertindak sewenang-wenang dan sombong, jin dinamakan Marid. Jin yang sudah memiliki daya imajinasi tinggi dinamakan Ifrit. Sedangkan jin Al-‘amir ialah yang bertempat tinggal dengan api.

Setan adalah sebutan jin kafir. Jin memiliki kebiasaan seperti manusia, diantaranya: makan, minum, menikah, dan beranak. Sebagian ulama menyebutkan bahwa terkadang terjadi pernikahan antara jin dan manusia.

Ibnu Tamiyah berkata, “Terkadang manusia dan jin melakukan pernikahan. Di antara keduanya kemudian lahirlah anak.”

Terdapat dalam beberapa hadits bahwa manusia dan jin sama-sama menemui kematian. Jin seringkali bertempat di tempat-tempat yang najis, misalnya kamar mandi dan tempat sampah. Mereka  ada pula bertempat di reruntuhan dan pasar. Ada banyak jin yang suka bertempat di tempat yang gelap. Mereka tidur malam di rumah ang dihuni manusia. Namun, jin-jin tersebut dapat diusir dengan bacaaan basmallah, dzikir kepada Allah, membaca Al-qur’an, terlebih ayat kursi, dan surat Al-Baqarah. Rupa setan sangt buruk dan menjijikkan.

Dunia jin juga mampu menciptakan karya-karya ataupun kemajuan-kemajuan. Mereka memiliki daya imajinasi cepat. Para jin berusaha mencari sarana yang dapat mengantarkan mereka ke atas langit untuk mencuri kabar-kabar langit. Jin mempunyai kemampuan berkreasi. Para jin hanya tunduk pada Nabi Sulaiman, a.s.. mereka membantu bidang pekerjaan Nabi Sulaiman, sedangkan iblis benar-benar ingin menggelincirkan umaat manusia. Adakalnya  jin dikuasakan pada orang-orang mukmin. Mungkin itu karena dosa jin yang telah diperbuatnya. Ini seperti yang ada pada kisah Bal’am bin Aura’ yang tertera pada firman Allah:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang-orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang  Isi  Al-Qur’an), kemudian ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda), maka jadikanlah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (Al-A’raaf:175)

Jin tidak dapat menyerupai Rasulullah, dalam mimpi sekalipun.mereka juga tidak mampu menirukan mukjizat-mukjizat yang ada pada Rasul.

Diceritakan bahwa jin tidak dapat membuka pintu yang sudah tertutup dan dibacakan padanya dzikir kepada Allah.

Ibnu Taimiyah dalam Majmuu’ Al-Fataawa (4/233) mengatakan : “Jin diperintahkan dengan beberapa ajaran pokok dan cabang-cabang. Mereka tidak sam persis dengan manusia. Maka dari itu, perintah atau larangan terhadap mereka tidak sama dengan manusia. Akan tetapi, mereka tetap dibebani tanggung jawab seperti manusia, baik dalam hal perintah ataupun larangan, baik yang halah maupun yang haram.

Setiap manusi disertai jin, yang tidak akan pernah lepas darinya. Dalam hadits Imam Muslim diriwayatkan sabda Nabi: “Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali diwakilkan kepadanya kawan yang berasal dari jenis jin dan kawan yang berasal  dari jenis malaikat”. Para sahabat bertanya: “bagaimana dengan Anda, wahai Rasul?” Rasululah menjawab “Saya juga, tetapi Allah telah member pertolonag kepadaku, sehingga jin yang ada kemudian masuk Islam. Ia tidak menyuruhku, kecuali kepada hal yang baik”.

Sumber: Syeikh Abdul Azhim.2006.Bebas Penyakit dengan Ruqyah.Jakarta: Qultum Media.

 

9 jenis anak setan

9 jenis anak setan

Assalamualaikum wbt,
Simpanlah baik2 email ini dan sebarkan pada rakan2 anda sebagai peringatan kita setiap hari dimana syaitan2 kurang ajar ini mengganggu hidup harian yang mungkin selama ini kita tidar sedar hasutan mereka. Sampaikan kepada sekelian muslimin/muslimat yang lain semoga menjadi pedoman hidup hingga keakhir hayat , Insya'Allah .

Umar al-Khattab r. a berkata, terdapat 9 jenis anak syaitan :

1.    Zalituun
Duduk di pasar/kedai supaya manusia hilang sifat jimat cermat. Menggoda supaya manusia berbelanja lebih dan membeli barang-barang yang tidak perlu.

2.    Wathiin
Pergi kepada orang yang mendapat musibah supaya bersangka buruk terhadap Allah.

3.    A'awan
Menghasut sultan/raja/pemerintah supaya tidak mendekati rakyat. Seronok dengan kedudukan/kekayaan hingga terabai kebajikan rakyat dan tidak mahu mendengar nasihat para ulama.

4.    Haffaf
Berkawan baik dengan kaki botol. Suka menghampiri orang yang berada di tempat-tempat maksiat (cth: disko, kelab mlm & tempat yg ada minuman keras).

5.    Murrah
Merosakkan dan melalaikan ahli dan orang yg sukakan muzik sehingga lupa kepada Allah. Mereka ini tenggelam dalam keseronokan dan glamour etc.

6.    Masuud
Duduk di bibir mulut manusia supaya melahirkan fitnah, gosip, umpatan dan apa sahaja penyakit yg mula dari kata-kata mulut.

7.    Daasim (BERILAH SALAM SEBELUM MASUK KE RUMAH...)
Duduk di pintu rumah kita. Jika tidak memberi salam ketika masuk ke rumah, Daasim akan bertindak agar berlaku keruntuhan rumahtangga (suami isteri bercerai-berai, suami bertindak ganas, memukul isteri, isteri hilang pertimbangan menuntut cerai, anak-anak didera dan pelbagai bentuk kemusnahan rumah tangga lagi).

8.    Walahaan
Menimbulkan rasa was-was dalam diri manusia khususnya ketika berwuduk dan solat dan menjejaskan ibadat-ibadat kita yg lain.

9.    Lakhuus
Merupakan sahabat orang Majusi yang menyembah api/matahari. Dan yang terakhir ni yang paling teruk! (SCROLL DI BAWAH)

10.    Isetan.
Sebuah pasaraya yg terkemuka di seluruh duniawi. terdapat di sekitar Lembah klang, singapore, Beijing &..... Kebaikan: Memberi potongan harga pada Karnival jualan

Keburukan: Melalaikan manusia bershopping sehingga lupa waktu sembahyang dan lupe yg lakinya dah tunggu kat kereta. Pesanan ; Shopping tu agak2 sikit, jangan sampai berlebih2an pulak. Membazir itulah
sebenarnya amalan Syaitan

11.    Hindusetan
Nie mereka2 yg menonton criter hindustan, sampai masuk waktu sembahyang, maseh menyonggol depan tv.....kapala keluar tanduk, tak sedar.......jadi lah hindusetan!!!

CINTA....

Pria dan Wanita yang belum pernah mencintai, tidak akan bisa menjadi dirinya sendiri. Cinta adalah kehidupan......Kehilangan cinta sama halnya dengan kehilangan kehidupan. Setiap hubungan yang terjalin antara kita dan orang lain mencerminkan hubungan kita dengan diri sendiri. Mencintai diri sendiri adalah awal dari kisah sepanjang usia. Bukan penampilan yang akan membuat kita mencintai atau menyukai seseorang. Kebahagiaan tidak bisa datang dari luar, melainkan harus dari dalam.  Kita adalah pahlawan dalam cerita kita sendiri  Luka - luka psikis yang disebabkan oleh keyakinan bahwa diri kita buruk, akan meninggalkan bekas permanen pada kepribadian kita.

Cinta adalah menemukan diri sendiri di dalam diri orang lain, dan merasa bahagia dengan penemuan itu.  Jatuh cinta sebenarnya hanya berarti membuka imajinasi dan menyisihkan  akal  sehat.  Cinta yang kita berikan adalah juga cinta yang kita simpan, yang selama ini  masih terpendam.  Rasa percaya membuat kita sanggup menumpahkan perasaan - perasaan dan  rasa takut kita yang paling dalam kepada pasangan kita, sebab kita tahu semua curahan perasaan itu akan ditanggapi dengan rasa sayang dan peduli.  Penghargaan untuk cinta adalah cinta itu sendiri. Air mata bisa berhenti mengalir, tapi hati tidak akan pernah.  Cinta bukan seperti sumber air yang kering, melainkan lebih seperti mata air alami, semakin panjang dan jauh alirannya, semakin kuat, dalam, dan jernih kualitasnya.

Kita selalu takut untuk memulai sesuatu yang ingin kita jalani dengan bagus,  tulus, dan serius.  Sungguh malang dia yang semasa muda belum belajar mencintai, menyimpan harapan dan mempercayakan diri pada kehidupan.  Cinta adalah permainan yang bisa dimainkan dan dimenangkan oleh kedua belah pihak.  Cinta akan terjadi begitu saja. Kita tidak perlu melakukan apa - apa.  Selalu ada yang pertama kali. Segalanya : Cinta adalah  bagian dari diri kita.  Seringkali mencintai sesuatu merupakan satu - satunya tempat untuk  memulai,  untuk membuat hidup ini menjadi milik kita sendiri.  Manusia pasti membuat kesalahan; itulah kehidupan.  Tapi mencintai tidak  pernah merupakan kesalahan.

Cinta bisa menyembuhkan baik terhadap si pemberi  maupun si penerima.  Cinta bukanlah apa yang menjadikan kita, tapi apa yang  sudah ada dalam  diri  kita sendiri.

Cinta selalu hadir, tinggal kita bisa merasakannya atau tidak.  Keberanian bukan berarti tidak punya rasa takut melainkan berani  bertindak walau merasa takut.  Mencintai berarti berani memeprtaruhkan hati.  Kita hanya bisa belajar mencintai dengan mencintai.  Bagi mereka yang sangat jatuh cinta, seluruh dunia terasa tersenyum.  Tidak ada undangan yang lebih besar untuk mencintai selain mencintai  terlebih dahulu. Lebih baik pernah mencintai dan kehilangan daripada tidak pernah sama sekali.  Cinta bukanlah apa yang kita rasakan, tetapi apa yang kita lakukan.  Kita mendefinisikan cinta sebagai perasaan bahagia kalau kita berada di dekat orang satunya, dan kita yakin akan nilai serta perkembangan orang  itu, seperti yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri.  Mencintai dan menang adalah hal paling indah. Mencintai dan kalah, yang  kedua terindah.  Tak ada orang yang pernah mencintai siapa pun dengan  cara yang  diinginkan  setiap orang.

Lawan dari cinta bukanlah benci, melainkan tak peduli. Dan lawan dari  kehidupan bukanlah kematian, melainkan ketidak pedulian. Bukan kisah cinta yang penting melainkan kemampuan untuk mencintai.  Sangat mengherankan, betapa banyak perubahan perasaan yang bisa terjadi  dalam setiap harinya.  Cinta yang layak disebut cinta hanyalah cinta yang tanpa syarat.  Cinta tidak bisa dinilai dengan harga. Ia baru bisa disebut cinta kalau diberikan dengan bebas.  Titik balik dalam proses menuju kedewasaan adalah saat kita menemukan dalam diri kita kekuatan inti yang bisa mengatasi semua rasa sakit.  Kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah keyakinan bahwa kita dicintai-dicintai karena diri kita apa adanya atau lebih lagi, dicintai walaupun seperti kita apa adanya.  Hal - hal paling baik dan paling indah di dunia ini tidak bisa disentuh namun bisa dirasakan dalam hati.  Ingatlah untuk selalu ramah. Ingatlah untuk selalu penuh cinta. Ingatlah  untuk menikamti segala perasaan yang ada dan untuk memperhatikan diri kita sendiri. Tapi yang terutama, ingatlah untuk berbahagia.

Kalah dalam cinta sama halnya dengan kalah main catur, semakin banyak  bermain, semakin banyak yang dipelajari.  Penegasan tentang kehidupan seseorang - kebahagiaan pertumbuhan, kebebasan - berakar pada kapasitas orang yang bersangkutan untuk mencintai. Orang yang mencintai tidak perlu sempurna, cukup menjadi manusia biasa. Apa yang tidak membuatku mati, menajadikanku lebih kuat. Saat satu pintu tertutup, pintu lain terbuka, tapi sering kali kita menatap pintu yang tertutup itu begitu lama dan dengan penuh sesal, hingga kita tidak melihat pintu yang telah terbuka untuk kita.